Persona Intikalia

18 Sep 2010

Beginilah Jika Aku Mencintaimu, Lexy

Lexy, dengan nama itu aku memanggilmu, memujamu, mengenangmu, meski kau tak pernah aku miliki. Senyummu, tatapanmu, seiring kau mencampurkan keduanya dalam parasmu yang tak mungkin bisa kulupakan, telah membuatku mabuk selama kurang lebih satu tahun, asal kau tahu saja. Tak seiris waktu pun kusia-siakan untuk tidak mengingat segalamu. Apatah kata semua, jika kau tak 'kan pernah jadi milikku. Tak apalah, inilah takdir antara aku dan dirimu.

Kala sepi datang menghampiri aku di tiap malam-malam yang hanya bintang menerangi malam, ku tunggu rembulan datang di ufuk Timur. Hingga aku tertidur dan melewatkan kehadiran rembulan di akhir bulan. Uh ... ingin kutusuk saja dada ini yang tiada henti bergetar bertasbih bukan menyebut nama yang memegang jiwa. Ini benar-benar salahku. Aku adalah salah satu dari mayat-mayat cinta yang tergelepak lemas mabuk seutuhnya.

Kubasuh mukaku. Kusadarkan diriku dari mimpiku. Benar, ini bukan mimpi. Aku benar-benar mencintainya di dalam sadarku dan mimpiku. Gawat, penyakit apa ini? Virus Merah Jambu? Sepertinya bukan ini, ini adalah Virus Mematikan Jiwa. Jiwa yang tenang 'kan jadi jiwa yang sakit, sakit karena rasa cinta. Bukankah cinta itu fitrah? Tidak semua cinta itu fitrah. Bukankah cinta itu berawal dari pandangan, pendengaran, dan detak hati yang lebih cepat dari biasanya. Bukankah cinta itu berasal dari rasa kagum, lalu mulai merambah pada rasa suka, yang memungkinkan untuk membawa ke tahta cinta.

Lantas, salahkah aku mencintaimu, Lexy? Jika salah, mengapakah aku bisa salah? Bukankah aku tak butuh dan tak memaksamu untuk mencintaiku. Biarkanlah aku mencintai meski kau tak 'kan pernah mencintaiku. Namun, bukankah cinta itu harus saling memiliki? Siapa bilang, cinta itu tak harus saling memiliki. Namun, bukankah cinta itu harus dicinta, karena cinta yang tidak dicinta hanyalah seonggok cinta yang kosong. Yang penting, bukanlah bagaimana kamu mencintainya, namun yang paling penting adalah bagaimana dia mencintaimu. Oh ... sialnya diriku ini.

Bersabarlah, John. Cinta itu tidak harus saling memiliki, namun cinta itu hanya harus saling menikmati; bisik otak John pada hatinya. Aha ... kau benar juga otak. Bukankah aku masih bisa menikmatinya meskipun aku tak 'kan pernah memilikinya. Kemudian, John Terro tersenyum lemas memandang langit-langit di kamarnya sambil terkadang cekikikan sendiri.

(Cerita di atas hanyalah nonfiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh, tempat, hanyalah kesamaan yang disengaja oleh pembuat entri ini, hahah ...)

8 komentar:

  1. bersabarlah boz... Pasti ada yang lebih dari dia... Asalkan hati anda bisa terbuka pada seseorang yang mencintai anda... Cinta akan datang pada siapa saja dalam bentuk apa pun... Bukankah anda telah menikmati cinta dari orang tua?

    BalasHapus
  2. saya kan hanya menyuarakan saja, bagaimana orang lain menanggapinya, semuanya sah-sah saja dim :D
    btw. jam 00.51, belum tidur yah jam segitu? :D

    BalasHapus
  3. kaLo kata *Lexy* di ganti *aLexa*, kiranya Lebih asik tuh Om. kayaknya banyak yg ketipu.

    entahLah ini uLasan ini fiktip atau non-fiktip, tapi yg jeLas saya bisa berimaginasi berdasarkan persepsi tersendiri mengenai *kecintaan*. semoga untuk menuangkannya enggak mendapat kendaLa berarti, ditunggu aja Om kisah serupa.

    secara disengaja atau tidak, pastinya atas dasar ridho-NYA. haL ini memberi Lejutan imaginasi tersendiri bagi saya untuk menambah dokumentasi entri. pamit puLang duLu Om, mau buka Laman entri baru. trims bnyk bgt sekaLi Lho.

    BalasHapus
  4. Lexy itu nama orang yang pernah aku cintai om :D
    makasih juga udah banyak melakukan kunjungan dan juga nasihat2 ke blog ini

    BalasHapus
  5. hmmm..., ironis juga yah Om kisahnya. tapi ituLah fakta yg harus diterima dan tentunya wajib untuk tetap disyukuri. karena di baLik itu insya Allah ada makna tersendiri, karena yg namanya hati adaLah rahasia Allah.

    sama2 Om, dgn saLing berbagi dan saLing berinteraksi semoga kita semua bisa saLing mengambiL manfaatnya.

    BalasHapus
  6. mati satu tumbuh seribu om :D

    BalasHapus
  7. bagi2 satuLah Om, saya Lagi jombLo nih. hakhakhak...

    BalasHapus
  8. hahah ... satu aja belum punya om (untuk saat ini) :D

    BalasHapus