Persona Intikalia

13 Okt 2010

Ketika Cinta Berdalih

Suatu saat, pada sebuah keadaan seperti percakapan di bawah ini.

Nadva: Hey, John.
John: Ya.
Nadva: Apa yang kau rasakan ketika kau berada di sampingku?
John: Um ... Gimana yah, apa aku harus menjawabnya?
Nadva: Ya, kau harus menjawabnya. Aku ingin tahu.

John: Menurutmu, apa yang sedang aku rasakan ketika aku berada di sampingmu seperti ini?
Nadva: Ah kau, John. Aku tanya, kau malah balik tanya.
John: Masa' kau tak tahu apa yang aku rasakan. Bukankah itu telah jelas.
Nadva: Begitu yah? Apa kau juga ...
John: Ya, aku juga ...

Keduanya diam sekitar 10 menit, lalu melanjutkan percakapannya kembali.

Nadva: John.
John: Ya.
Nadva: Apa yang membuatmu merasakan itu?
John: Aku merasa cocok saja.
Nadva: Apa kau menyukaiku?
John: Masihkah aku harus mengatakannya lagi?
Nadva: Apa yang membuatmu mencintaiku?
John: Namamu.
Nadva: Namaku? Kug bisa?
John: Apa yang tak mungkin berubah dari dirimu? Namamu, kan? Bukankah wajah akan berubah seiring berjalannya waktu. Namun, tak berlaku untuk nama. Namamu akan tetap Nadva hingga akhir ajal.
Nadva: Begitukah?
John: Ya, begitulah.

Nadva mulai mengarahkan tangannya menuju tangan John. Lalu Nadva menggenggam tangan John.

Nadva: Apa yang kau rasakan ketika aku memegang tanganmu, John?
John: Apakah aku harus mendeskripsikan sesuatu yang tak dapat diucapkan oleh kata-kata?
Nadva: Um ... Aku ingin tahu apa yang kau rasakan.
John: Aku merasa takut.
Nadva: Kenapa takut, John?
John: Tahukah kau, aku bisa melakukan yang lebih dari ini jika engkau memulainya.
Nadva: Memulai? Bukannya ini hanya pegangan tangan saja?
John: Apa kau yakin ini hanya pegangan tangan saja? Bukankah ini adalah pintu dari segala hal yang tak bisa aku bayangkan parahnya.
Nadva: Aku sih gapapa, John. Asal dengan seorang yang mencintaiku dan aku mencintainya juga.

John kemudian menggenggam tangan Nadva dengan erat. Memberikan sebuah pertanda naik level.

Nadva: John? (dengan sedikit kaget)
John: Apa kau takut?
Nadva: Ga, aku hanya ga siap saja, John.
John: Bukankah aku telah mengingatkannya.
Nadva: Tapi sebenarnya aku juga menginginkannya.
John: Lantas? Apa yang harus aku lakukan?
Nadva: Lakukan tapi dengan batas kewajaran.
John: Batas kewajaran?
Nadva: Ya, batas kewajaran.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Coba tebak!

18 komentar:

  1. enggak tahu ah.. saya masih kecil soalnya.. belon tau yang kayak gitu-gituan.. =P

    BalasHapus
  2. haha ... masa' sih Gaphe masih kecil ... ane ga percaya :D

    BalasHapus
  3. Langkah seLanjutnya adaLah kLimax, Navda dengan gigihnya menoLak keinginan John secara haLus dan John dengan gigihnya merayu Navda.

    unsur romanticenya terasa banget nih, kayak cerita di drama2 remaja. hakhakhak...

    BalasHapus
  4. wekeke ... yang mulai duluan kan Nadva :D

    BalasHapus
  5. pasti endingnya ga beres nih... gw mencium bau mencurigakan, dan baunya ga enak. ghehehe..

    ga sabar nunggu lanjutannya.

    BalasHapus
  6. wah, otakku ngeres teman nggak usah banyak komen ya?

    BalasHapus
  7. paling yo arep pindah panggon

    BalasHapus
  8. apa yang terjadi selanjutnya???

    John mendekatkan dirinya ke Nadva kemudian sedikit menarik kepala Nadva.

    Nadva mulai memejamkan matanya dan tangan John membelai rambut Nadva.

    Ketika Nadva bertanya."Kenapa begitu lama John??".

    John menjawab,"Ulat dirambutmu sulit kuambil"..

    BalasHapus
  9. @ReBorn: tunggu saja kelanjutannya

    @Muhammad A Vip: wekekek ... ternyata agan sudah berfantasi

    @Anomim: hahhah ... kreatif juga dirimu, lain kali cantumkan nama yah :D

    BalasHapus
  10. cerita lanjutan dari entri ini dapat dilihat di sini

    BalasHapus
  11. Navda kan cuma megang tangan John dengan perasaan kasih sayang, tapi si John yang nyosor. hehehe...
    nyimak Lanjutannya duLu deh.

    BalasHapus
  12. kalo ga ada api ya ga ada asap om :D

    BalasHapus
  13. tergantung asapnya juga sih, mau mengarah kemana. tapi kaLo apinya Langsung di guyur khan enggak bakaLan jadi asap tuh. hehehe...

    BalasHapus
  14. hahah ... tapi siapa yang bisa mengguyur?? kalo ga yang si narator yang menghentikan ceritanya :D

    BalasHapus
  15. hakhakhak...
    pemberhentian sudah sampai tujuan, sempat terpaku oLeh guyuran "air panas" di penghujung kisah. ternyata serupa (kisah) tapi tidak sama (momen) dengan apa yang pernah saya aLami.

    BalasHapus
  16. hahahaha....
    disengaja juduLnya samaan yah. :))

    BalasHapus