Persona Intikalia

14 Jan 2011

Aku Bukan Pedofilia

Kulihat dia tidur nyenyak di dekapku. Senyumnya ketika tidur begitu mengalihkan duniaku. Bagiku, tiada yang lebih cantik dari dirinya di dunia ini, mungkin. Sesekali aku membelai rambutnya yang lurus terurai bak sutra yang terbentang di awan yang berarak. Sesekali kusentuh pipinya dengan halus. Ku tatap hidungnya, alisnya, sungguh sosok yang menakjubkan yang pernah diciptakan oleh-Nya. Siapa lagi, dia adalah istriku.

Tiap kali selesai bercinta, dia selalu begini. Dia selalu terlihat lebih cantik dari biasanya. Setiap kali pula aku teringat masa-masa dahulu. Dahulu, aku tak pernah menyangka dia bakal jadi istriku. Umur kami beda enam tahun. Tapi sekarang, sepertinya jika disejajarkan, kami tak terlihat begitu berbeda umur. Apakah mungkin ini kuasa-Nya. Kami selalu melihat wajah kami ada kemiripan, padahal sebelumnya kami tidak menyadarinya.

***

Ketika itu aku masih duduk di bangku SMA. Sepulang dari masjid, orang tua Rina, sebut saja dengan nama itu, memanggilku. Orang tua Rina berkonsultasi tentang anaknya kepadaku. Tentang kesulitan anaknya memahami mata pelajaran di sekolahnya. Rina yang notabene masih duduk di kelas 5 SD. Rina sulit sekali memahami mata pelajaran Matematika. Aku sadar bahwa itu hal yang biasa. Mungkin sudah menjadi hal yang terpaku pada anak kecil untuk takut pada Matematika. Berbeda sekali denganku yang suka dengan Matematika.

Sebuah tawaran dari orang tua Rina pun aku terima, untuk menutor anaknya Matematika. Awalnya sih hal ini aku gunakan juga untuk menambah uang saku dan juga mengingat pelajaran yang telah aku entengkan. Rina, tipikal anak yang pemalu dan sulit sekali berkomunikasi dengan orang luar. Dia hanya mau bicara dengan orang tuanya saja. Di pertemuan pertama tutorial pun orang tuanya masih menemaninya.

Aku yakin, Rina ini adalah anak yang cerdas, hanya saja mungkin karena ia terlalu introvert. Sepertinya ada tugas tambahan lagi bagiku selain mengajarinya Matematika, yaitu mengajarinya untuk berkomunikasi. Awalnya sulit untuk berkomunikasi dengannya. Aku harus merendahkan suara dan lebih telaten. Hari demi hari akhirnya dia mulai membuka diri dan mulai bisa berkomunikasi, namun itu masih hanya denganku. Dengan temannya sekolah, ia masih tertutup.

Setelah beberapa bulan, ia mulai cakap berkomunikasi dengan orang lain. Tugas menutorinya pun semakin mudah. Kini ia mulai berani bertanya apa yang dia tidak bisa. Aku membimbingnya seperti layaknya dia adalah saudariku sendiri. Tidak ada gap di antara kami. Ia pun mulai nyaman dengan aku bimbing Matematika. Nilainya juga melonjak naik. Dan di akhir dia di bangku SD, dia mendapat predikat nilai terbaik. Aku pun bangga dan senang. Aku memberinya hadiah saat itu. Dia begitu senang sekali mendapatkan penghargaan dariku.

Ketika dia menginjak dunia SMP, orang tua Rina pun menawarkan kembali padaku untuk menutor Rina. Aku sih oke-oke saja. Terhitung kuliahku ga seberapa sibuk. Setiap hari aku ke rumahnya untuk menutor. Terkadang Rina juga ke rumahku ketika memang aku benar-benar sibuk dan ga bisa nutor. Dia datang hanya untuk bertanya soal yang sulit yang dia ga bisa kerjakan. Hal itu pun terus berlangsung hingga ia duduk di kelas 2 SMP. Setelah itu kesibukan kuliahku semakin banyak. Aku meminta maaf pada orang tua Rina kalau aku sudah kesulitan meluangkan waktu untuk tutorial.

Kami berdua sudah tidak bertemu lama sekali. Tiba-tiba aku bertemu dengannya lagi saat aku liburan ke rumah. Dia sudah kelas 2 SMA. Aku melihatnya sudah dewasa sekarang. Ketika aku pulang dari masjid, aku tak sengaja bertemu dengannya, dia menyapaku dan tersenyum. Aku tidak menyangka senyumnya begitu indah. Aku mengembalikan otakku, ah dia dulu kan menteku. Aku pun kembali ke rumah. Bayangan akan Rina pun tak kunjung hilang setelah sampai di rumah. Melihat aku ada di rumahku dan tahu kalau aku lagi liburan, ternyata Rina dan orang tuanya ke rumahku membawa semacam bingkisan. Aku terima saja, lumayan, heheh. Kami mengobrol panjang, sampai tak sengaja aku nyeletuk, "Rina sekarang sudah punya pacar ya?" Dia hanya tersenyum tanpa jawaban.

Bayangan Rina semakin menjadi-jadi di otakku yang aneh ini. Akhirnya bayangannya bisa hilang ketika aku kembali dengan aktivitas kuliahku lagi. Kuliah lagi, dandanan acak-acakan pun datang lagi. Kesibukan yang menggila sering membuatku melupakan hak atas tubuhku. Terkadang ketika tekanan sudah mencapai puncak, banyak hal yang seharusnya tidak aku lakukan jadi aku lakukan. Bersenang-senang tanpa tujuan.

Ketika aku berulang tahun yang ke-26 aku pulang ke rumah. Kuliah pun juga belum rampung. Maklum lah di sambil dengan kerja. Di hari itu, di rumah ga ada makanan sama sekali hingga aku akhirnya cari orang jual makan di dekat rumahku. Tiba-tiba aku bertemu dengan Rina. Dia semakin sempurna. Dia menyapaku, aku pun tersenyum. Ketika aku hendak berpapasan, dia memanggilku dan sepertinya mau bicara. Kami pun berbicara berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing. Dia akhirnya tahu kalau aku lagi liburan di rumah.

Malam itu, tiba-tiba dia bertamu sendirian di rumahku, katanya sih main-main. Rumahku saat itu sepi. Orang tua dan adik-adikku lagi di luar kota. Beginilah nasib kalo jadwal ga tentu. Akhirnya tertinggal sendiri di rumah. Awalnya kami berbincang biasa saja. Tiba-tiba dia nyeletuk ingin punya pacar. Aku juga agak kebingungan. Aku sendiri aja ga pernah pacaran. Kemudian aku beritahu dia efek buruknya pacaran begini dan begitu. Sejenak hening karena dia diam. Tiba-tiba dia berkata, "Kalau begitu nikahi aku". Aku terhenyak kaget. Otak anak ini kenapa, pikirku. Setelah aku telusuri lewat pembicaraan, ternyata ia merasa nyaman di sampingku.

Tak hanya diriku yang terhipnotis oleh kecantikannya yang kini, namun ternyata dia juga terhipnotis oleh caraku di sampingnya. Kemudian kami membicarakan hal ini dengan sedikit lebih serius. Bagaimana tidak, kini dia kuliah dan aku juga kuliah. Tidak semudah itu nikah. Akhirnya aku juga sepakat bakal menikahinya. Padahal hal ini belum pernah terpikirkan di otakku. Rina memberitahukan kepada orang tuanya tentang masalah ini. Saatnya pun telah tiba, aku ke orang tua Rina untuk meminangnya. Dengan proses dan pembicaraan yang cukup rumit, akhirnya orang tua Rina setuju.

Tiga bulan kemudian aku dan Rina menikah. Saat itu aku sudah punya kerjaan yang lumayanlah kalo dibuat rumah tangga yang baru berdiri ini. Saat malam pertama, merupakan saat yang sakral menurut orang-orang, namun bagi kami tidak. Maklum saja, Rina adalah perempuan yang awam kayak gituan. Dia tidak tahu harus apa di malam pertama, padahal aku sudah mengkhatamkan kitab yang membahas malam pertama. Hahaha ....

Di malam pertama, Rina malah tertidur pulas, dikarenakan siangnya sibuk bantu-bantu masak orang tuanya untuk menyiapkan makanan untuk tamu pernikahan kami. Ya sudahlah. Aku hanya menatapnya dia tidur pulas dengan senyum yang bahagia. Aku sudah bahagia melihat senyumnya, meskipun saat malam pertama terlewatkan begitu saja.

Paginya, di pagi yang buta, Rina, yang sekarang adalah istriku, membangunkanku. Ia mengingatkanku untuk sholat malam. Aku bangun dan sholat. Aku melihatnya juga sholat malam. Semakin teduh hatiku melihat wajahnya sehabis sholat. Aku menatapinya, aku sangat kagum dengan ciptaan-Nya yang satu ini. Aku kemudian menyuruhnya mendekat kepadaku. Dia bersandar padaku sembari aku mengecup keningnya.

Pagi harinya sebelum aku berangkat kerja, dia membuat sarapan khusus untukku. Roti dengan misis kesukaanku dibarengi dengan teh hangat terhidang di depanku. Dengan dibumbui rasa cinta dari Rina, istriku. Sesekali Rina mengambil misis yang menempel di bibirku. Aku mulai tergoda. Aku menyuruhnya mendekat. Aku mendekapnya. Ia mulai nyaman dengan dekapanku, dia diam saja seakan menikmati. Aku menggeser-geserkan hidungku pada hidungnya lalu aku mulai mencampur senyawa ptialin kami. Dia diam, lagi-lagi dia sepertinya sangat menikmati permainan ini.

Seusai kerja, aku kembali ke rumah. Aku melihat Rina sudah menyiapkan makan malam untuk kami. Ia memijat pundakku yang memang lumayan lelah. Kemudian aku berbisik padanya. Ia tersenyum. Kami pun makan malam bersama. Tepatnya di rumah yang baru kami kontrak karena aku masih belum mampu beli rumah sendiri. Seusai makan, aku menuju kamar. Sepertinya Rina tahu isyaratku. Malam itu, pertama kalinya kami bercinta.

Seusai bercinta, ia selalu tidur nyenyak di dekapanku. Sepertinya dia memang membutuhkan kehangatan dan kenyamanan dari caraku di sampingnya. Hal itu terus menjadi kebiasaan. Tak jarang pula aku juga memandanginya, ia selalu tampak lebih cantik ketika itu. Aku tahu, umurnya masih 20 tahun dan aku 26 tahun. Aku sangat menyadari keburukannya, aku mengetahuinya sejak aku menutorinya dan aku maklum. Begitu pula dengannya, ia merasa nyaman denganku mulai sejak tutorial. Aku tidak menyangka menteku bakal menjadi istriku.

*cerita di atas hanyalah fiktif belaka

24 komentar:

  1. fiktif atau "fiktif"?
    hehe..

    nice story mas..!

    BalasHapus
  2. "Aku kemudian menyuruhnya mendekat kepadamu"..
    mu sopo sing dimaksud iku jon??

    Apik2..
    Aku suka istilahnnya, 'mencampur senyawa ptialin kami'..
    Hhaha :p

    BalasHapus
  3. @Yudi: fiktif om :D

    @YeN: makasih atas koreksinya, nanti aku betulin
    hahah ... kayaknya banyak yang suka dengan istilah "mencampur senyawa ptialin kami"

    BalasHapus
  4. Bro, kenapa ga dibikin buku independen :)
    Coba kontak @salsabeela di twitter, doi bisa lho nerbitin :)
    Ceritanya kena banget :)

    BalasHapus
  5. grrrrrr....Cerita fiksi yang tak terbayangkan....
    nice story lah....

    BalasHapus
  6. @Darin: belum kepikiran ke sana om, saya masih penulis lepas, karya saya juga tercecer dan masih ga begitu menghebohkan :D

    @andry sianipar: hahah :D

    BalasHapus
  7. indahnya di bangunin istri tuk solat malam :(

    BalasHapus
  8. tapi itu cerita fiktif om ... saya sih berharap gitu :D

    BalasHapus
  9. Bersyukurlah yang mempunyai istri sholehah atau suami yang sholeh...

    Aku gak bisa komen banyak, memoriku bagian itu sudah rusak kali ya...

    BalasHapus
  10. menarik, dua kali saya membacanya .....

    BalasHapus
  11. @Ami: heheh ... disyukuri dums memori yang hilang itu :)

    @ibnumuksin n Rubiyanto Sutrisno: makasih

    BalasHapus
  12. kalo masih selisih 6 tahunan kayaknya bukan pedofil deh..


    ceritanya unik.. tapi bukan pengalaman pribadi kan John?.

    BalasHapus
  13. separuh pengalaman pribadi, separuhnya hanya imajinasi :D

    BalasHapus
  14. Aku tidak menyangka menteku bakal menjadi istriku.
    Mente panggilan kesayangan gitu??

    BalasHapus
  15. mente = orang yang ditutor (diajari)

    BalasHapus
  16. jadi...fantasi seksualmu seperti ini ya john? hehehehe

    BalasHapus
  17. hahah ... kug malah fantasi seksual sih?
    ini mah masih lumrah, aku bisa berfantasi lebih parah :D

    BalasHapus
  18. really? hahahaha
    no comment deh..

    BalasHapus
  19. jadi curiga nih, harapan atau pengaLaman yah. manteb banget iLusinya. :D

    BalasHapus
  20. ada yang pengalaman ada yang ilusi tapi tidak penuh, cz ada yang ngambil dari pengalaman orang lain :D

    BalasHapus
  21. wew, saya baca panjang lebar tau-taunya cuma fiktif???
    beneran fiktif nih???
    wkwkwkwk...

    BalasHapus
  22. yup, bener banget, itu fiktif

    BalasHapus