Persona Intikalia

5 Apr 2011

Apakah Kita Pacaran?

Malam itu, saat aku asyik internetan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ternyata ada sebuah SMS dari Nadva, mantan pacarku. Aku baca, aku perhatikan, lalu aku sedikit berpikir, termenung. Apa maksud dia SMS seperti ini. Karena aku bingung dengan maksudnya, aku telepon dia balik. Beberapa percakapan hingga akhirnya aku paham apa maksudnya.

Paginya, aku bergegas bangun. Pagi ini aku tidak kuliah karena memang lagi di sela-sela minggu-minggu UTS. Kebetulan pagi ini aku tak ada jadwal UTS. Kemudian aku membongkar lemariku dan memungut baju SMA ku dulu dan memasukkannya dalam tas. Aku bergegas berangkat. Seperti instruksinya saat aku bercakap di telepon, aku tidak boleh membawa sepeda motor atau sejenisnya. Hanya boleh naik angkot saja.

Saat aku naik angkot, aku SMS dia, apa dia sudah berangkat. Ternyata dia sudah sampai di tempat janjian kami bertemu hari ini. Aku merasa, dia benar-benar merencanakan hal ini dengan baik. Sampai-sampai dia sudah sampai lebih dulu di tempat tujuan. Tak lama kemudian, aku sampai di tempat tujuan. Saat aku turun dari angkot, aku melihatnya telah berdiri menungguku.

Maaf, terlambat - kataku
Oh, nggak kug - katanya
Oke, sekarang kita mau ke mana? - tanyaku
Apa kau bawa baju SMA-mu dulu? - tanyanya
Ya, emang kenapa? Ini ada di tasku - tanyaku
Bagus - jawabnya

Tak lama, tiba-tiba ia menggeret tanganku dan mengajakku pergi ke suatu tempat. Ternyata dia mau naik angkot. Angkot pun berhenti, kami berdua naik. Tujuan kami ternyata Mall tempat kami dulu sering pergi berdua saat masih terjalin hubungan. Kami berdua telah sampai di Mall itu. Kami masuk. Ia pun mengajak aku untuk ke tempat ganti baju, tepatnya toilet. Kami masuk di toilet masing-masing dan mengganti baju kami dengan baju ketika SMA dulu. Sedikit aneh sih, karena memang sudah lama aku tak memakai baju SMA-ku lagi. Aku keluar dari tempat gantiku. Aku lihat, dia sudah menantiku.

Ayo, kita ke tempat selanjutnya - ajaknya sambil menggeret tanganku
Mau ke mana lagi? - tanyaku
Sudahlah, ikuti saja - tegasnya
Oke lah - aku pasrah

Ia mengajakku ke tempat hiburan yang biasa kami kunjungi dulu. Kami main roller coaster dan juga masuk di rumah hantu. Teriakan histerisnya, seakan mengingatkanku masa-masa ketika kami masih satu. Aku lihat ekspresi wajahnya yang berbinar penuh semangat. Kami membeli kembang gula dan memakannya bersama. Tak kami sadari ternyata hari sudah sore. Namun, sepertinya dia masih ingin bermain-main di sana lebih lama lagi.

Ternyata hari sudah malam. Tempat itu semakin ramai dengan pengunjung. Maklum saja, malam itu memang lagi ada pagelaran musik dari band-band indie. Dia menggandeng tanganku memberikan isyarat agar aku menemaninya untuk melihat pagelaran itu. Oke lah, aku turuti maumu. Tiba-tiba dia bersandar di pundakku. Aku diam saja, sedikit acuh sih meskipun merasa sedikit aneh, karena kita memang bukan apa-apa lagi. Sepertinya aku lihatnya rautnya mulai bosan. Ia mengajakku ke tempat lainnya. Tempat yang tidak terlalu banyak orang. Tempat itu favorit kami dulu, karena memang bisa melihat bintang yang bertaburan dengan sempurna.

Ia mendekapku. Aku pikir dia kedinginan. Aku biarkan saja dia begitu. Kemudian, dia menengadah menghadapku dan bertanya.

Kamu tahu ga mengapa aku mengajakmu ke sini? - tanyanya
Iya, aku ga tahu - jawabku
Kenapa kamu mau saja, padahal kamu ga tahu? - introgasinya
Ya, gimana ya, aku percaya aja - jawabku
Kamu tahu ga, hari ini tanggal berapa? - tanyanya
Tanggal 4 April - jawabku
Apa kamu ngga inget ada apa di 4 April? - tanyanya
Emang ada apa? - jawabku
Bukankah kita pernah berjanji, kita akan bertemu lagi di sini tanggal 4 April - jelasnya
Ouh iya, aku sempat berpikir itu tak 'kan terjadi - kataku
Kenapa? - tanyanya
Kita kan sudah tidak ada apa-apa lagi - kataku
Janji tetaplah janji - katanya

Aku teringat 4 April tahun lalu tepatnya satu tahun kami berpacaran kami pernah berjanji untuk bertemu lagi di tempat ini. Namun, sayangnya enam bulan sebelum ini, kami terlebih dahulu putus. Aku menganggap bahwa momen itu tak 'kan pernah aku temui. Namun, sekali lagi tidak. Ia benar-benar menepati janjinya.

Apakah kau juga akan melakukan apa yang kau katakan setahun lalu? - tanyaku
Ya, karena aku sudah berjanji - jawabnya

Tak lama kemudian dia mengecup bibirku. Aku hanya bisa diam dan menikmatinya tanpa harus berkomentar apa-apa. Janjinya setahun lalu, ia akan mengecup bibirku di tempat ini. Dan sekarang, benar-benar terealisasi. Semua itu pun berakhir tanpa ada kata balikan antara aku dan dia. Setelah dia mengecupku, dia bilang "terima kasih telah membantuku untuk menepati janjiku". Kemudian kami pulang ke rumah masing-masing. Aku masih bingung dengan apa yang ia mau. Cewek itu memang kompleks.

NB: Cerita ini penuh khayalan dan tidak pernah terjadi pada diriku. Murni imajinasi. Hahaha :D

28 komentar:

  1. ehm.. kalopun real juga nggak papa john. hehehe.. makanyaa jangan cuman bikin crita donk, ayo wujudkan! #nyindirDiriSendiri.

    hahaa..

    keliatan fiksi stelah baca, emang ada roller coaster dalem mal?.. #baru tau

    BalasHapus
  2. waduh...
    saya kira beneran.hehehhe...
    untung baca sampe bawah:D

    BalasHapus
  3. @Gaphe: roller coaster-nya itu di tempat hiburan deket mall-nya om
    bukan di dalemnya

    @Nova Miladyarti: hahah ... bagus dong :)

    BalasHapus
  4. Hahaha juga... Menikmati tapi tidak memiliki, hahaha lagi... Terus wahahahaha (lumayan panjang).... *kalo dipikir2 aku dah lama gak naik roller coaster

    BalasHapus
  5. apa ya John? khayalanmu oke juga :p

    BalasHapus
  6. hahhahaha kurang ajar kirain beneran.. bagusbagus :D

    BalasHapus
  7. terkadang cerita yang dibikin seseorang itu menggambarkan lubuk hati nterdalam dari si penulis. hehhehehe

    BalasHapus
  8. imajinasi kelewatan, sampe dicium segala, saya saja belum pernah, kecuali sama ibu dan ayah, memang bener2, ngarep dot com.. tapi saya dapet pesan positifnya, untuk nepatin janji, apapun itu, makanya jangan asal bikin janji.. BTW terimakasih atas ceritanya.

    BalasHapus
  9. alamak.. ampe di cium.. haha.. tapi sayang cuma hayalan.. haha.. di tunggu kunjungan balik+followbacknya ya... *ngareepp..... :D

    BalasHapus
  10. ehem...
    beneran ini imajinasi??
    hmm..
    aku kira beneran imajinasi..
    ternyata hanya cerpen..
    haha..

    bagus²...

    BalasHapus
  11. ternyata imajinasimu dari dulu sampai sekarang tidak berubah john.. hahaha..

    BalasHapus
  12. @Adryan Nurdien: bagus toh :P

    @AkaneD'SiLa: ya itu mah beneran imajinasi yang aku jadikan cerpen

    @affie9: salam kenal juga :)

    @pandi: bagus, ternyata Anda masih bisa menemukan sisi positif dari cerpen yang bobrok ini :P

    @Noeel-Loebis: bisa aja nih abang, jadi malu nih aku

    @ajengthree: sepertinya kamu terlalu terbawa oleh cerita ini

    @Ajeng Sari Rahayu: makasih atas pujiannya

    @Ami: ya kapan-kapan naik Roller Coaster mi :P

    BalasHapus
  13. assiiikkkk... hahhha. akhir yang dramatiss..

    BalasHapus
  14. mungkin si cewek itu Lexy, dalam benakmu...ngono ndak John? kalau baca tanggapanmu buat Nueel.

    BalasHapus
  15. @Muhammad Mishbah: wah kenapa gan?

    @Ajeng Sari Rahayu: ah ... sepertinya tidak perlu aku jawab lagi :P

    BalasHapus
  16. ya..janji adalah hutang sih..
    cuma yg aku ga paham kenapa harus pake baju SMA?apa janjinya dulu juga gitu??

    BalasHapus
  17. biar lebih terlihat awet muda :)

    BalasHapus
  18. @john : ya. bagus lah, daripada imajinasimu tambah 'koleng'..haha..

    BalasHapus
  19. ya ya ya, aku rasa itu bukan kebutuhanmu.

    BalasHapus
  20. @Adryan Nurdien: haha :)
    mari berkoleng ria :D

    @Ajeng Sari Rahayu: begitulah

    BalasHapus
  21. siap koleng maneh ta ngko bengi?? hahaha..

    BalasHapus
  22. hahaha ... kita lihat saja nanti :)

    BalasHapus
  23. jangan uska ngecewain hati cewe mas.
    Kesian dianya

    BalasHapus
  24. siapa yang ngecewain hati cewek mbak bro
    dibaca dulu dums, itu kan cuma fiktif belaka :)

    BalasHapus
  25. heu, heran deh lu john suka banget bikin cerita fiktif, gue nyaris percaya ini asli :D

    BalasHapus
  26. haha, cz enak sih bikin cerita fiktif
    bisa meluapkan imajinasi yang tak tersampaikan

    BalasHapus