Persona Intikalia

10 Jul 2011

Gobaek!

Suatu hari aku duduk dengan salah satu temanku, tepatnya teman akrabku. Dia adalah seorang cewek yang selama ini senang dan sedih denganku. Namun, tidak ada kejelasan pada hubungan pertemanan kami yang lebih dari sebuah pertemanan biasa. Aku takut mengungkapkan perasaanku. Aku takut ketika aku menyatakan perasaanku, hubungan pertemanan kami akan hancur. Saat yang aku takutkan ternyata datang juga.

***
Sebut saja Bunga. Bunga tiba-tiba mengajakku ketemuan di sebuah tempat yang biasanya kami gunakan untuk ketemu. Aku datang seperti tidak tahu apa-apa dan tidak ada masalah apa-apa. Terjadilah percakapan di antara kami saat dia membuka percakapan.

Bunga: Hai, John. Kamu telat setengah jam.
Aku: Ya maaf, masih ada beberapa urusan yang perlu aku selesaikan dahulu.
Bunga: Oke lah, kebiasaan kamu ga pernah sembuh kalo telatan.
Aku: Itu bawaan sebagai bangsa Indonesia, hehe.
Bunga: Cih. Lupakan membahas itu. Aku mau bicara serius nih.
Aku: Begitukah? Silakan, aku akan mendengarkannya.
Bunga: Kamu tahu anak yang selalu jadi stalker-ku itu?
Aku: Oh si Fulan itu yah? Emang kenapa?
Bunga: Kemarin dia nyatain kalo dia suka ma aku, intinya dia nembak aku, John. Apa yang harus aku perbuat?

Pasti semua tahu apa yang aku rasakan. Aku bingung apa yang harus aku perbuat untuk mempertahankan dia agar ga nerima cinta si Fulan.

Aku: Kalo dari hati kamu yang paling dalam, apa kamu menyukai si Fulan itu?
Bunga: Aku sih sebenarnya ga ada hati sama dia. Coz aku sudah menyukai seseorang lainnya.
Aku: Oh gitu yah. Kalo boleh tahu siapa orang itu?
Bunga: Ah rahasia, John.
Aku: Kalo kamu ga suka sama si Fulan, mending tolak saja.
Bunga: Kalo aku tolak si Fulan, aku takut.
Aku: Takut kenapa?
Bunga: Aku takut, jikalau aku mempertahankan orang yang aku sukai itu, dia takkan pernah tahu apa yang aku rasakan.
Aku: Yakinlah, orang yang kamu sukai akan menyatakannya padamu.
Bunga: Yakin sih, tapi aku tak bisa menunggu lama.
Aku: Begitu yah?
Bunga: Begitulah. Lebih baik aku jalan saja dengan si Fulan. Mungkin dengan si Fulan, aku akan belajar mencintainya meskipun sekarang aku belum mencintainya.
Aku: Jangan. Tunggulah beberapa saat.
Bunga: Tunggu, aku sudah lama menunggunya. Tapi apa hasilnya? Nol besar.

Aku sudah panas dan tidak bisa menahan egoku. Aku terlepas dari semua logikaku. Aku langsung merebut tangan Bunga dan memegangnya. Aku tatap matanya. Bunga terhenyak.

Aku: Bunga, tataplah mataku.
Bunga: Ah kenapa kamu tiba-tiba aneh gini, John.
Aku: Entah mengapa, sepertinya aku tidak bisa memendam ini terlalu lama. Aku melihat kamu tidak bisa menunggu lama. Kali ini, aku benar-benar serius. Aku cinta kamu, Bunga. Terimalah cintaku dan tinggalkan Fulan yang notabene tidak kamu cintai itu. Terimalah cintaku.
Bunga: Ka .. kamu cinta sama aku? Ah, kamu pasti bercanda.
Aku: Aku serius aku cinta kamu. Bukankah orang yang kamu suka adalah aku. Bukankah kamu menunggu orang itu untuk menyatakan cintanya ke kamu. Sekarang, aku sudah menyatakan cinta kepadamu. Maka, sudilah dirimu untuk menerima cintaku.
Bunga: Sepertinya kamu salah paham, John.
Aku: Salah paham?
Bunga: Ya, salah paham. Orang yang aku suka bukan kamu.
Aku: Lantas siapa?
Bunga: Orang yang aku suka itu dekat denganku.
Aku: Bukankah selama ini yang dekat denganmu adalah aku?
Bunga: Masa sih? Orang yang aku suka itu, ia selalu ingin memelukku dan menciumku, namun ia menahan dirinya untuk melakukan itu.
Aku: Bukankah itu aku?
Bunga: Berarti selama ini kamu ingin memelukku dan menciumku? Ah ... parah sekali kau, John.
Aku: Maaf, ya aku selalu ingin, tapi aku selalu menahannya.
Bunga: Menahannya? Mengapa kau tahan? Apa kau takut? Ah ... pengecut sekali kau, John.
Aku: Aku hanya ingin menjaga persahabatan kita.
Bunga: Oh begitu. Satu lagi, orang yang aku suka akan menjadikan aku sebagai istrinya kelak.
Aku: Ya, aku tidak salah. Aku ingin menjadikanmu istriku kelak.
Bunga: Ah ... aku tidak percaya.
Aku: Aku harus melakukan apa agar kau percaya?
Bunga: Cium aku sekarang!
Aku: Bukankah jika aku menciummu maka aku tidak akan termasuk pada kategori orang yang kamu sukai.
Bunga: Sekarang atau tidak sama sekali, cepat cium aku sekarang. Ini adalah bukti keseriusanmu.
Aku: Tidak, aku tidak akan menciummu.
Bunga: Kalau begitu, kalau kamu tidak berani menciumku, peluk aku sekarang.
Aku: Tidak, aku tidak akan memelukmu.
Bunga: Ya sudah, aku pulang. Selamat Tinggal.

Kemudian aku pun beranjak dari tempat itu. Aku berjalan berlawanan dengannya. Jarak kami semakin jauh. Sepertinya Bunga hanya ingin mempermainkanku. Ia menolakku dengan cara yang halus seperti itu. Tiba-tiba aku mendengar ada suara yang memanggilku. Aku membalikkan badan. Aku lihat Bunga berlari ke arahku. Lalu memelukku. Aku terkejut. Bunga benar-benar mempermainkanku. Tak lama kemudian ia menciumku. Aku hanya bisa menjadi patung diam tanpa kata.

Bunga: John. Kamu terlalu pasrah pada takdir. Sudah jelas orang yang aku suka itu kamu. Mengapa kamu masih saja tidak memahaminya. Atau kamu memang sengaja sok ga tahu. Aku sudah lama menunggu kamu mengatakan ini padaku. Kalau ga gini, kamu ga bakal ngomong.
Aku: Apakah orang yang kamu sukai itu boleh memelukmu dan menciummu?
Bunga: Ah ... Kamu ini masih berlagak polos. Ya bolehlah.
Aku: Kalau begitu, bersiaplah dengan serangan balasan dariku.

Apa yang terjadi setelah itu? Bisakah Anda menebaknya? Silakan tulis tebakan Anda kelanjutan dari ini di komentar di bawah ini.

30 komentar:

  1. sebelum tidur, ninggalin jejak dulu ah..
    itu cerita asli, gan? hwewh..selamat ya gan, minta PJ donk biar awet, ntar saya kirim no rekening saya ya :D wkwkwk..

    ng..agan bawa ke trans studio bandung, terus ciuman di tengah keramaian..

    BalasHapus
  2. waduuuhh.. John!!!
    bapaknya Bunga dateng tuh, kamu musti buru2 kabur sebelum dikasih bonus, *bonus tinju*

    Ceritanya bikin deg2an, hahaa... Aku bacanya sampe nahan napas :P

    BalasHapus
  3. @Evet Hestara: PJ? apa itu?

    @Teknokers: haha ... deg-degan juga yah :D

    BalasHapus
  4. John, dibikin panas dikit dunk, biar kayak novel-novel Nick Carter gitu. Hehehe...
    Eh, kayaknya kok banyak blogger yang bikin post kayak gini ya? Apa ini semacam giveaway atau lomba?

    BalasHapus
  5. ini bukan ikut giveaway, tapi cuma iseng aja :D
    ah jangan dibikin panas, cz blog ini bukan blog panas bro :D

    BalasHapus
  6. ceritany seru juga, talented

    BalasHapus
  7. ini bnrn apa cm imajinasi lg?

    ckckck,trnyta si john itu.... :D

    bikin ngiri aja :p

    serangan balasan??wkwkwk..

    John gk hbs makan pete kan?kasian si bunga :D

    BalasHapus
  8. hehehehe,,,romatis abis,,,pasti nikah ya,,,,seeeppp banget ceritanya,,ini nyata atau hanya sebuah angan² bro

    BalasHapus
  9. @Nyla Baker: masih dirahasiakan kebenarannya :)
    haha ... aku ga suka makan pete Nyl :D

    @Sofyan: rahasia :D

    BalasHapus
  10. "Apakah orang yang kamu sukai itu boleh memelukmu dan menciummu?"

    Hehehe.. kalimat yang essip sebagai akhir cerita..

    BalasHapus
  11. haha apik mas. prediksiku si john lari meninggalkan si bunga :P

    BalasHapus
  12. tapi kjalo fact, kamu plin plan john. hhhehe

    BalasHapus
  13. yang plin plan itu si Bunga :D

    BalasHapus
  14. benar tuh komen diatasku, awas bapak si bunga datang :D

    BalasHapus
  15. hasshh... pancet ae le, le..

    jadi teringat perkataan seseorang, "sebut saja Bunga".. wkwkwk.. :P

    BalasHapus
  16. @r10: haha :D

    @Adryan Nurdien: haha, perkataan e sopo?

    BalasHapus
  17. Bang fakta bukan nih :D hhahha sumpah deg-degan nih :D
    katanya gg bakal pacaran dlu Bang, berarti langkah selanjutnya kayae lamar nih cuit cuit :D

    BalasHapus
  18. oh ini masih dirahasiakan :)

    BalasHapus
  19. weleh2...satu lagi imajinasi malam jum'at dari John Terro, makanya buruan nikah gih..hehhe, tp tentu aja hrs lulus kuliah dl ya hehhehe

    BalasHapus
  20. halah, sopo maneh.. yang ikut bulutangkis kemarin lho, yang ngangkat tangan..

    BalasHapus
  21. @tiwi: haha ... ya, emang targetnya harus lulus kuliah dulu :)

    @Adryan Nurdien: oualah, yo yo :)

    BalasHapus
  22. apa artinya "Gobaek!" ??

    BalasHapus