Persona Intikalia

2 Apr 2017

Bersikap Ilmiah Itu Memang Susah

Susah banget. Bersikap ilmiah juga harus menundukkan hawa nafsu terhadap ilmu. Bahkan tulisan di blog ini juga jarang sekali saya ilmiah. Yang ada kebanyakan hanya opini dan pengalaman. Ilmiahnya dikit banget. Untuk membuat tulisan yang ilmiah, saya harus dituntut baca buku yang banyak hanya untuk bikin satu artikel. Kalo opini? Ga perlu baca buku. Otak-atik kata dan logika, sudah jadi. Buka Google, baca-baca blog lain dikit, Taraaa!! Sudah jadi artikel rewrite.


Tulisan opini memang debatable dan ga ada ujungnya. Sedangkan tulisan ilmiah memang debatable jika yang ditulis salah. Nyelesaiinnya juga gampang, masing-masing pihak bawa sumber yang valid. Yang dianggap/diakui sebagai yang paling validlah yang dipilih. Sebenarnya semudah itu. Namun, hanya saja, tidak semua orang bisa menerima nasihat dan bersikap layaknya orang yang bersikap ilmiah.

Di zaman kuliah dulu, bersikap ilmiah itu penting. Jika tidak, sudah dibully sama dosen. Haha. Bahkan saking susahnya bersikap ilmiah karena saya males baca paper, saya lebih sering berperan sebagai sales. Seakan tahu banyak hal, padahal ragu. Apalagi skripsi saya ini susah banget ditemuin tutorialnya di internet. Jadi ngomong ke dosen berdasarkan perkiraan-perkiraan saya sendiri dengan modal pengetahuan saya sebelumnya. Walaupun kadang dicoba ga sesuai hasilnya. Dan kalo udah kayak gini, stres sendiri, apalagi kalo besok waktunya ketemu dosen untuk demo progres. Haha.

Dosen saya pernah bilang, anak teknik emang harus berimajinasi. Sekarang ndak bisa, 10 tahun lagi belum tentu hal ndak bisa dilakukan. Dan yang sering saya dapati dari dosen saya adalah "meragukan sebuah pernyataan sebelum ada bukti". Tapi bukan berarti ragu di sini lalu tidak melakukan apa-apa. Justru dengan keraguan ini, sebuah hipotesis harus dibuktikan beneran bisa atau enggak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar