Persona Intikalia

4 Sep 2010

Etos Mudik Ala Indonesia

Ramadhan telah menginjak hari yang ke-25. Banyak juga orang yang melakukan mudik mulai hari ini. Contohnya saja orang-orang yang ada di kampus. Kebanyakan mereka mudik hari ini karena mulai hari ini baru libur.

Sebenarnya apa sih yang membuat mudik ini merupakan sesuatu yang kelihatannya wajib?

Mudik yang menurut saya berasal dari kata "Udik" yang berarti "Desa", sehingga kata "Mudik" itu mempunyai makna "Menuju ke Desa". Secara otomatis maka yang melakukan mudik itu orang-orang dari desa yang melakukan perantauan. Namun, seiring perkembangan zaman, tak hanya orang desa saja yang melakukan mudik, orang kota pun juga melakukan mudik dari desa ke kota ataupun dari kota ke kota.

Dari kota ke kota? Ya, ada salah satu temanku yang berasal dari Jakarta dan kuliah di Surabaya dan mereka juga mengatakan hal itu dengan "Mudik".

Apa sih yang sebenarnya tersimpan dalam "Mudik". Kalau saya mengira dan mengalami sendiri, mudik ada karena rasa kangen kita terhadap tanah kelahiran kita atau tempat kita berasal. Namun, makna ini terkadang juga ga cocok, ketika dosenku berkata, aku orang Surabaya dan ga punya desa, namun aku setiap tahunnya mudik ke desa istriku. Dan ini juga bisa disebut mudik. Cakupan kata mudik yang luas membuat saya bingung menentukan parameter mudik.

Sebenarnya, mudik yang aku rasakan adalah ketika aku merasa sudah tidak lama ke Madura maupun Malang (tempat kakek nenekku) lalu aku ke sana, maka aku mengatakan itu mudik. Dan mudik itu tak harus dilakukan setiap tahun dan pada waktu hari raya saja. Jika dilakukan ketika masa hari raya, Anda akan merasakan ketidaknyamanan karena harus mengantri lama dan terkadang tertunda beberapa hari karena kuota yang melebihi batas.

Namun, bagaimana pun yang terjadi pada mudik itu tetap positif. Karena memang harus ada saat di mana semua merasa senang dengan datangnya hari Raya. Jika Anda merasa sedih atau keberatan jika harus mudik, mending ga usah mudik karena nanti Anda semakin merasa tak nyaman ketika harus antri dan berdesak-desakan.

Bagaimana dengan Anda? Mudikkah Anda?

11 komentar:

  1. memang benar, mudik di saat hari raya itu malah menyiksa, sudah kena macet, belum tentu saat sholat Id kita sampai di kampung tujuan :D

    BalasHapus
  2. hahah ... begitulah
    aku saja mudik setelah H+1 Lebaran :D
    biar bisa sholat Id di dekat rumah :D

    BalasHapus
  3. Saya mudik jugaaa!.. tapi belon sih, baru besok selasa.. *humm ngga ngebayangin gimana penuhnya*. hahaha.. tapi menurut saya, yang namanya mudik itu menurut saya adalah kembali ke asal. Entah asalnya asli dari situ, asalnya istri, atau asalnya orang tua..

    BalasHapus
  4. um ... gitu yah, kembali ke asal, back to origin

    BalasHapus
  5. bagi saya mudik tidak harus diLakukan pada hari tertentu saja, toh kaLopun hanya sekedar kangen dgn kampung haLaman atau ingin bersiLatuhim ataupun meminta maaf bisa diLakukan kapan saja sesuai dgn kesempatan baik secara moriL maupun materiL yg teLah siap untuk meLaksanakan aktifitas mudik. tos tradisi mudik yg diLakukan pd hari raya justru kurang efektip, karena cukup memakan waktu, tenaga, dan biaya yg ekstra besar.
    seLebihnya kembaLi Lg kepada pribadi masing2 yg merasakannya, sesuai dgn kenyamanan dan kemananan masing2 peLakunya.

    BalasHapus
  6. hehe..baru tau asal kata mudik

    BalasHapus
  7. tapi itu menurut saya gan :D

    BalasHapus
  8. iya nih, mudik emg sudah menjadi suatu keharusan dikala lebaran, entah cuma skedar pergi ke rumah teman, atau ke tempat bermain, gak cm ke kampung halaman saja, tp yg saya suka dari mudik yaitu... macetnya dijalan, keknya klo ga macet bukan mudik namanya :D

    BalasHapus
  9. wah sepertinya oempak suka tantangan nih :D

    BalasHapus
  10. Mudik juga menjadi tradisi kami, dan bagi kami mudik sangatlah indah dan menggairahkan, meskipun kami tidak hanya sekali setahun malakukannya, cenderung beberapa kali sesuai dengan kebutuhan, biasanya selalu berkaitan dengan alasan keluarga, termasuk ketika sedang kangen dengan orang-tua dan masakannya he he he ...

    Kebetulan kami berasal dari desa yang sama, hanya beda RT saja, sehingga mudik kami lebih mudah dilaksanakan dibanding pasangan lain yang berasal dari daerah, bahkan propinsi yang berbeda, mudik harus bergantian setiap tahunnya, yang begitu acapkali juga mendatangkan persoalan.

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, lebaran ini kami juga pulang ke udik di Madiun, Jawa Timur. Semoga mudik kali ini akan lebih menyenangkan lagi ketimbang sebelumnya. Dan, semoga temen-temen semua juga akan mendapati pengalaman mudik yang jauh lebih menyenangkan dari pengalaman sebelumnya, amien!

    BalasHapus