Persona Intikalia

29 Jul 2015

Antara Lapar dan Nafsu

Jika saya lapar, saya akan makan. Lapar adalah manusiawi dan memang fitrahnya manusia emang harus lapar. Kalo ga lapar; nanti restoran, depot, dan yang jual makanan pada ga laku. Apakah saya disalahkan jika saya lapar? Apakah saya akan menghiraukan orang yang berteriak menentang saya ketika melihat saya makan karena lapar? Bodo amat!

Saya jadi inget dulu saat awal menikah. Seinget saya, ba'da maghrib istri saya nawari saya makan. Saya bilang, saya ga lapar. Kemudian, setelah sholat isya' saya minta makan ke istri. Istri saya tanya, "Loh bukannya tadi katanya ga laper?" Saya tersenyum dan bilang, "Itu kan tadi, kalo sekarang lapar."

Mungkin hal itu menyebalkan buat istri saya. Tapi kan memang faktanya lapar itu bisa datang kapan saja. Dan memang itu di luar kehendak kita. Kita tidak bisa satu hari tidak makan tanpa merasa lapar.

Begitu juga dengan nafsu, sama halnya dengan lapar. Manusia, khususnya cowok, sudah dianugerahi nafsu. Tepatnya nafsu ketika melihat wanita. Pria yang normal tidak bisa menghilangkan nafsu yang sudah tertanam dalam dirinya. Karena nafsu inilah pria punya alasan untuk menikahi wanita. Jika tidak ada nafsu, saya ragu pria akan menikahi wanita, mengingat beban pernikahan itu berat.

Sebelum menikah dengan istri, saya sudah membuat kesepakatan bahwa saya akan poligami. Jika keberatan, ya sudah ga saya lanjutin ke proses selanjutnya (khitbah, lalu nikah). Dan alhamdulillah, istri saya sepakat. Begitu juga dengan mertua saya, beliau tahu kalo saya dan istri punya kesepakatan seperti itu. Sebelum kenal dengan istri saya sekarang, saya juga pernah mengobrol dengan salah seorang wanita yang notabene tertarik dengan saya. Namun ya itu tadi, dia tidak bisa menerima syarat yang saya ajukan, dia tidak mau dipoligami.

Syarat yang saya ajukan memang terkesan egois. Namun, ini adalah cara yang paling jitu untuk mengetahui bagaimana dia memprioritaskan egonya di atas ego suaminya. Karena pernikahan itu pasti tidak akan berjalan lama jika masing-masing mempertahankan egonya sampe mati.

Saya juga tidak mau menjadi korban dominasi istri sampe mati. Karena laki-laki adalah pemimpin. Laki-laki lah yang seharusnya mendominasi, bukan sebaliknya. Mungkin tulisan ini terlihat kejam banget yah. Tidak kejam, jika kamu tahu sisi lain dari prinsip yang aku pakai.

Pernah terjadi perdebatan ringan dengan istri masalah poligami.

Aku: Iska mau poligami.
Istri: Boleh, asal poligaminya sama janda yang udah tua.
Aku: Yah (dengan nada kecewa), kalo kayak gitu sih Iska ga mau.
Istri: Yah, itu sih Iska aja yang nafsuan. Maunya poligami dengan yang masih muda.
Aku: Ya kalo ga nafsu, ga mungkin Iska mau nikah. Wong nikah itu bebannya berat. Lagian nafsu kan fitrah, jika diarahkan pada yang halal jadi pahala. Sebaliknya, kalo diarahkan pada yang haram jadi dosa. Toh asalnya pernikahan itu adalah poligami.
Istri: masa sih?
Aku: Coba aja perhatikan ayat Qur'an tentang poligami. Yang disebutin duluan kan: dua, tiga, atau empat. Jika tidak mampu, maka cukup satu. Maka asal hukum pernikahan adalah poligami. Jika tidak kuat poligami, maka satu aja.
Istri: Yaudah poligami sana (sambil cemberut).
Aku: (Tertawa kecil) Ya kalo sekarang belum bisa. Belum ada dana dan calonnya.

Ternyata wanita itu unik, walau sudah sepakat, tapi tetap aja sulit menerima. Apa lagi yang tidak sepakat, mungkin sudah lempar piring.

Bagaimana jika ada yang komentar kalo di luar sana banyak yang poligami tapi rumah tangganya makin kacau. Ya itu karena salah mereka sendiri. Mungkin mereka melakukan kesalahan-kesalahan sehingga gagal poligaminya. Namun, kegagalan beberapa orang yang melakukan poligami tidak lantas menjadikan poligami itu haram. Gagal ya gagal aja. Toh juga orang yang tidak poligami pun juga punya kemungkinan rumah tangganya kacau. Hal itu lebih disebabkan karena tingkat keilmuan dan kesabaran dalam berumah tangga.

Setiap hal punya risiko. Toh banyaknya kecelakaan yang terjadi di jalan raya, tidak menyurutkan orang untuk menggunakan sepeda motor dan mobil. Jika terjadi kecelakaan, apakah yang disalahkan mobil/sepeda motornya? Tentu saja tidak. Yang disalahkan adalah penggunanya yang lalai. Begitu juga dengan poligami.

Poligami halal dalam Islam. Jika ada seorang muslim yang mengharamkan poligami, sejatinya dia secara tidak langsung hendak menyamai hak Alloh dalam menentukan halal dan haram. Dan poligami tetaplah halal walaupun jumlah laki-laki sepuluh kali lebih banyak dari perempuan, karena memang poligami dihalalkan oleh Alloh. Jadi jika ada orang yang mengharamkan poligami karena melihat dari data statistik, coba tanyakan pada hatimu, sebenarnya kamu menentang poligami karena apa? Jangan-jangan karena egomu.

Terkadang apa yang keliatannya baik untuk kita, namun di sisi Alloh itu buruk. Begitu juga sebaliknya. Kadang sesuatu yang terliat buruk di mata kita, namun di sisi Alloh itu baik.

22 Jul 2015

Harap-Harap Cemas

Gak terasa tinggal setengah bulan lagi dari HPL saya melahirkan. Agak deg-degan sih. Apalagi ibu saya nanya mulu kapan ngelahirin. Ya, mana saya tahu. Kalau tahu sih gak harap-harap cemas gini. Entah kenapa saya paling takut melahirkan saat malam hari. Pengennya melahirkan saat matahari belum terbenam. Bukannya saya takut berubah jadi werewolf tapi malam hari itu enaknya buat bobo. Kalau melahirkan malam-malam takutnya pada ikutan rempong. Tapi enaknya Aisyah biasanya udah bobo. Saya pengennya melahirkan seperti saat Aisyah lahir. Sehabis subuh saya sudah merasakan kontraksi kecil. Tapi saya abaikan, soalnya memang biasanya seperti itu. Lalu berhubung saya ngantuk berat saya bobo dan minta dibangunkan jam tujuh. Belum sampai jam tujuh saya udah terbangun duluan gara-gara kontraksi hebat. Buru-buru langsung mandi dan sholat dhuha dulu.

Sholat dhuhanya pun sambil merem melek nahan rasa sakit. Saya juga masih sempat sarapan, meski gak habis. Barulah pergi ke bidan terdekat. Ternyata udah bukaan empat jadi gak boleh pulang. Di bidan pun saya masih sempat sholat dhuhur. Karena setahu saya selama belum keluar bercak darah maka saya masih diwajibkan sholat. Barulah setelah beberapa menit setelah sholat saya merasa ada yang keluar dari "sana". Ternyata bercak darah, barulah saat itu saya mulai agak panik. Bentar lagi harus ngeden-ngeden nih.

Melahirkan Aisyah sebenernya gak terlalu sulit. Hanya saja karena anak pertama jadi nunggu bukaannya lama. Udah gitu mertua saya ini orangnya gampang panik. Jadi saat saya bilang udah mulai kontraksi jadi heboh serumah, haha. Meski sakit karena kontraksi saya masih bisa jalan-jalan di lorong kamar tempat melahirkan. Bidan berkali kali meminta saya tiduran di ruang bersalin tapi saya menolak. Saya gak kuat kalau harus menahan rasa sakit sambil tiduran. Justru dengan jalan-jalan saya merasa lebih baik. Malah saya sempat minta dibelikan roti maryam dan semanggi. Meski rasanya makanan itu agak samar-samar. Barulah setelah melahirkan saya bisa merasakan ternyata roti maryamnya nikmat banget, haha. Maklum, kalau sudah dekat waktu melahirkan biasanya orang gak nafsu makan. Saya pun begitu hanya saja saya memaksakan diri untuk makan karena saya merasa lapar. Orang melihat saya doyan makan, padahal saya hanya memaksakan diri karena saya butuh energi untuk makan.

Saat di ruang bersalin pun saya masih diperbolehkan makan. Dari awal saya memang sudah merencanakan untuk membawa kurma untuk bekal bersalin. Jadi saat bersalin saya makan beberapa kurma dan minum air putih. Tapi persalinan kali ini saya kayaknya gak bawa kurma. Kurma yang suami bawakan dari Surabaya sudah habis. Tinggal kurma yang adik saya bawa. Sayangnya kurmanya basah banget. Saya juga gak gitu suka rasa kurmanya yang agak aneh.

Saya gak tahu, melahirkan yang kedua ini bakal seperti apa. Kadang saya pengen cepet melahirkan. Tapi disisi lain saya pengen nunda kelahiran karena ada beberapa whislist yang belum ter-realisasi, hehe. Pengennya seneng-seneng dulu sama suami sebelum melahirkan. Soalnya kalau sudah melahirkan maka saya seneng-senengnya barena Aisyah dan adeknya, setelah itu suami juga harus pulang lagi ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah, hiks.

21 Jul 2015

Gagal Pacaran

Beberapa hari yang lalu saya dan suami memang merencanakan untuk pacaran sebelum akhirnya saya melahirkan. Tapi sayangnya rencana kami kemarin gagal. Gara-gara kelamaan muter-muter nyari bank untuk bayar SPP suami. Padahal kami pikir gak akan terlalu lama di bank, karena memang gak antri. Tapi saat itu memang belum bisa untuk bayar SPP karena ITS masih libur. Padahal udah ke bank BNI dan Mandiri tapi memang belum bisa bayar jadi ya gak bisa. Jadi setelah lelah dari bank saya minta refreshing untuk belanja keperluan untuk melahirkan. Gak lupa beliin Aisyah baju baru. Meski gak ada rencana sebenernya. Hanya saja saat ingin bayar ke kasir saya lihat baju lucu buat Aisyah. Jadilah beli satu baju untuk Aisyah. Meski ternyata ngepas banget pas dipake.

Setelah itu kami menuju ke pusat perbelanjaan Moro. Tadinya pengen makan di cafe Moro, sekalian beli jajan Aisyah. Tapi berhubung mau beli HP jadi saya minta suami beli HP dulu aja. Nanti sisa dari beli hp baru buat pacaran di cafe, haha. Tapi takdir berkata lain #halah. Ternyata kelamaan di counter hp. Akhirnya kami buru-buru beli susu Aisyah dulu di supermarket Moro. Pas lihat jam ternyata sudah dekat waktu dhuhur. Jadi kami buru-buru pulang.

Jadi saya ingin merencanakan ulang untuk jadwal pacaran, haha. Meski pacaran gak meski keluar rumah sih. Tapi kami pengen pergi jalan berduaan sambil beli makanan yang enak. Terus makanannya difoto dan dibikin posting di blog, haha. Dasar pasangan blogger, apa-apa jadi posting, hehe.

Entah kenapa saya kepengen makan es krim berdua dengan suami. Di Moro juga ada es krim yang kata ibu saya sih gak enak tapi adek saya bilang enak, jadi pengen nyobain. Makan es krim sambil beli makanan lainnya. Entah kapan nih mau jalan-jalan lagi. Soalnya jadwal melahirkan saya memang hampir mendekati. Awal Agustus ini insyaAlloh melahirkan. Cuma gak tahu bakal mundur atau maju. Pengennya sih puas pacaran dulu baru ngelahirin, haha.

Untungnya Aisyah banyak yang jagain. Gak hanya itu dia juga gak rewel kalau ditinggal kami pergi. Cuma kalau terlalu lama dia sepertinya bingung nyari kami berdua. Tapi gak pernah sampai nangis dan gak bisa ditenangnin. Jadi kami bisa pergi dengan tenang. Yang penting saat pulang dibawakan makanan yang dia suka.

Sholat Ied Dengan Tenang

Sebelumnya saya memang khawatir sholat Ied kali in bakal ricuh. Tapi ternyata itu hanya kecemasan belaka. Ternyata saat sholat Ied beberapa hari lalu Aisyah diem. Itu pun karena ada ibu saya yang jagain, hehe. Aisyah tetap ikut pergi ke masjid. Hanya saja saat berangkat sengaja abinya berangkat duluan. Kalau enggak takutnya nanti jadi huru hara. Aisyah ini kalau gak kenal siapa-siapa cenderung diem aja saja kalau di tempat baru. Tapi kalau ada satu orang saja yang dia kenal pasti dikejar-kejar. Itulah alasannya kenapa abinya disuruh berangkat duluan. Biar dia gak tahu tempat abinya sholat jadi gak dikejar-kejar. Selama sholat Ied saya dan kakak ipar sholat seperti biasa. Gak ada kegaduhan. Entah itu dari Aisyah atau anak kecil lainnya. Jadi saat sholat memang hanya terdengar suara bacaan imam.

Berhubung di Purwokerto ini pegunungan, jadi sholat Ied pagi itu dipenuhi dengan kabut yang lumayan tebal. Jarak pandang cukup terbatas, hawa dingin juga menusuk. Padahal saya pakai gamis yang cukup tebal dan jilbab panjang. Tapi rasanya masih saja dingin. Untung saja Aisyah saya pakaikan mantel yang cukup tebal. Meski jadinya kelihatan aneh. Padahal anak-anak di sana pakaiannya biasa aja, hehe. Saya hanya khawatir Aisyah akan kedinginan mengingat durasi sholat Ied hingga selesai khutbah cukup lama.

Saat selesai sholat Ied saya mencari-cari Aisyah. Ternyata dia lagi muter-muter di masjid bersama eyangnya. Saat saya menoleh ke belakang Aisyah langsung menghampiri dan duduk di dekat saya. Karena senang dengan sikap Aisyah yang gak rewel saya peluk-peluk sekaligus menghilangkan dingin di pipi Aisyah. Saat itu Aisyah memang pipinya dingin sekali. Tapi setelah puas dipeluk Aisyah malah pergi lagi. Dan saat saya lihat dia udah duduk dipangkuan jamaah perempuan lain. Ternyata yang membuat Aisyah anteng dipangku ibu-ibu itu karena orangnya pegang hp. Aisyah ini memang sudah melek gadget dari kecil. Soalnya di rumah memang semua terbiasa pegang gadget.

Setelah selesai mendengarkan khutbah kami semua pulang. Aisyah saat itu melihat abinya langsung lari ingin menghampiri. Tapi saya tahan karena saat itu Aisyah gak pakai sandal. Sangking gak sabarnya ingin bersama abinya, Aisyah jadi nangis karena saya tahan. Akhirnya abinya yang menghampiri dan digendong. Jadi pakai sepatunya saat digendong supaya lebih praktis.

Jarak masjid ke ruma sebenarnya agak jauh. Hanya saja Aisyah memang gak mau digendong. Dia merasa sudah bisa berjalan jadi lebih suka jalan. Lagi pula dari kecil Aisyah memang gak suka digendong. Soalnya saya memang gak suka gendongin anak. Rada males, hehe. Cuma efeknya cukup bagus. Anaknya jadi gak suka gendong dan lebih suka berjalan.

19 Jul 2015

Tingkah Baru Aisyah

Anak kecil emang suka banget bertingkah yang aneh-aneh. Kemarin saya dikejutkan dengan tingkah Aisyah yang baru. Aisyah berjalan jinjit, layaknya balerina. Padahal ga ada yang ngajari. Ga tahu dia lihat di mana gaya jalan jinjit kayak gitu, padahal ga ada TV di rumah. Di YouTube juga ga pernah nonton tentang balet.

Tiap minggu pasti ada aja tingkah baru Aisyah yang bikin kami serumah ketawa. Enaknya ada anak kecil di rumah itu walaupun capek secapek apapun, semua akan hilang ketika melihat Aisyah bertingkah. Memang benar, anak adalah salah satu pelipur hati. Dalam idioma Arab, anak sering disebut qurrotu a'yun, penyejuk pandangan mata.