Persona Intikalia

19 Mar 2017

Jalan-Jalan Sekarang dan Dulu

Sebagai pasangan pengantin baru (maksudnya baru nikah empat tahun LoL) saya dan suami memang gak pernah bulan madu seperti kebanyakan orang. Karena memang nikah sama mahasiswa itu jadwalnya padat banget sis. Boro-boro bulan madu, sekarang akad nikah besok lusa suami udah harus ujian. Nah loh cuma bisa leyeh-leyeh aja di kasur seharian, haha.

Menu makanan saat pacaran berdua dengan suami.

Mungkin kebanyakan orang kepengen bulan madu beberapa hari dan nginap di hotel Bali. Lalu jalan-jalan di sekitar Bali. Tapi saya dulu benar--benar orang yang males kemana-mana. Meski udah diboyong ke Surabaya, saya males jalan-jalan. Meski Surabaya memang tempat yang belum saya kunjungi sebelumnya, saya tetep gak tertarik jalan-jalan saat awal pernikahan kami. Mungkin karena saat itu pengantin baru, jadi lebih suka berduaan. Apalagi suami sibuk kuliah saat itu. Berangkat pagi, pulang sore jadi kangen, haha.

Justru saat sudah mulai ada anak dan merasa penat di rumah terus, barulah saya mulai kepengen jalan-jalan. Bayanging aja aktifitas menyusui anak itu jenuh banget. Bangun tidur udah ada yang siap nyusu, mau pup aja susah banget. Mana dulu gak paham yang namanya pumping jadilah rasanya hidup sulit banget sis, haha.

Untung saja punya mertua yang paham, jadi saya sering diijinkan untuk jalan-jalan berdua saja dengan suami dan si kecil dititipin ke mbahnya. Barulah muncul istilah pacaran setelah menikah di pernikahan kami sejak itu. Pacaran ala kami sih cuma sekedar hang out berdua, makan-makan atau belanja baru lucu-lucu buat dipake di kamar. Tapi seiring berjalannya waktu Aisyah semakin besar dan udah demen juga jalan-jalan, haha. Kami juga jarang sekali keluar tanpa Aisyah. Bahkan ke minimarket sekali pun bawa Aisyah, hihi.

Efeknya Aisyah kadang sulit sekali ditinggal. Kadang kami ada keperluan yang harus dilakukan dan gak bisa bawa Aisyah. Kalau kayak gitu kami harus pergi mengendap-endap supaya gak ketahuan. Meski nanti kalau Aisyah mulai merasa kami kok gak ada suaranya dia mendadak ngamuk. Nah kalau udah gini biasanya orang serumah jadi kewalahan. Gak hanya itu, saat kami pulang Aisyah juga jadi rewel banget. Padahal kalau kami bawa Aisyah, biasaya pulang akan dengan senang hati dan gak rewel. Jadilah kami sebisa mungkin bawa Aisyah kalau memang memungkinkan.

Memang ya namanya anak kecil itu paling nyaman berada dekat orang tuanya. Entah orang tuanya itu kayak apa, namanya anak akan tetap merasa orang tuanya itu yang terbaik. Gak peduli mbahnya sayang kayak apa sama cucunya, tetep deh namanya anak bakalan lengket sama orang tua.

Namanya Juga Anak Kecil

Sebagai orang tua yang kepengennya anaknya jadi orang pinter, uhuk. Orang pinter beneran ya, bukan "orang pinter", hehe. Memang saya berusaha mengenalkan Aisyah pada banyak hal. Seperti huruf alphabet, angka, huruf hijaiyah dan banyak lagi. Tapi karena memang umurnya masih baru tiga tahun, jadi saya gak memaksakan Aisyah membaca. Tapi seenggaknya Aisyah sudah bisa berhitung meski kalau berhitung kadang ngaco kadang urut atau malah angka sembilan gak disebut, tahu-tahu angka sepuluh, haha.



Masalah warna juga kadang masih random banget. Maklum sih karena warna kan banyak banget, meski katanya biru, birunya bisa beda-beda kan. Kadang Aisyah bilang ini hijau emang sih kayak hijau tapi lebih tepatnya warna kuning kehijauan. Jadi masalah warna ini masih membingungkan bagi Aisyah.

Tapi bagi saya belajar membaca atau menulis itu bisa dilakukan pelan-pelan saja. Saya gak mau bikin Aisyah jadi stres karena dipaksa belajar. Saya ingin dia bisa karena dia ingin bisa, bukan sekedar dipaksa. Kerasa banget, belajar dengan paksaan dengan belajar karena keinginan sendiri itu beda banget. Kalau memang ingin belajar sendiri belajarnya jadi beda, lebih senang. Saya sebagai orang tua mengarahkan, supaya dia ingin belajar tentu dengan cara yang baik.

Cara mengajar anak membaca dan menulis memang gak bisa kaku. Dan tiap anak gak bisa disamakan. Ada yang pemahamannya cepat ada yang lambat. Kalau bisa jangan dibandingkan dengan anak lainnya, nanti anaknya bisa sakit hati, hihi.

Kalau Aisyah sendiri memang kalau diajarin seperti gak memperhatikan. Tapi entah kok ya nanti tiba-tiba dia bisa menyebutkan angka dan hurufnya dengan benar. Pokoknya mau didengarkan atau gak, saya nyerocos aja, siapa tahu sebenarnya Aisyah juga mendengarkan.

Berhubung Aisyah memang sudah tiga tahun, dari sekarang saya memang punya rencana untuk lebih intensif mengajari Aisyah huruf alphabet maupun hijaiya. Tentu dengan cara yang menyenangkan, bukan dengan cara yang monoton. Apalagi banyak banget kan permainan edukasi yang mendukung untuk belajar dengan menyenangkan. Aisyah juga rencananya gak dimasukin ke TK sih. Pengennya diajarin sendiri aja. Biar bisa kekontrol penuh dulu. Nanti lihat lagi kalau Aisyah sudah masuk usia tujuh tahun, kira-kira suka sekolah formal atau gak.

Kadang memang iri sih lihat anak sekecil Aisyah ada yang sudah bisa baca alphabet. Tapi saya gak mau seperti itu, biarlah gak masalah meski belum hafal huruf. Pokoknya anaknya bahagia dan gak stres.

18 Mar 2017

Cemilan Favorit Saat Cuaca Dingin

Cuaca di Surabaya memang lagi gak menentu, siang panas eh tahunya nanti sore hujan deras. Kalau udah begini memang jadi gampang sakit, apalagi kalau sering keluar rumah. Beberapa kali suami juga hampir sakit karena habis kepanasan eh kok malah kehujanan. Biasanya kalau udah mulai bersin-bersin gini suami langsung minta dibuatkan teh jahe. Kalau gak ya wedang jahe aja. Memang sih dingin-dingin ya enaknya minum yang anget-anget. Apalagi jahe emang bisa ngangetin badan. Selain itu pelukan juga bisa bikin anget, eh.

Selain teh hangat, saya juga sering bikin wedang jeruk nipis. Soalnya saya lagi seneng makan yang kecut-kecut sih. Gak tanggung-tanggung gak pake gula sama sekali, haha. Baguslah buat ngilangin lemak di perut, haha.

Tapi bagi saya, meski pun keadaan dingin saya tetep suka minum dingin. Entah kenapa, enak aja dingin-dingin minum dingin, haha. Meski kadang sekarang udah mulai dikurangi kebiasaan minum dingin. Soalnya takut ketergantungan. Lebih milih minuman yang anget atau biasa aja. Tapi tetep sesekali minum dingin kalau emang kepengen.

Biasanya nih kalau musim dingin gini emang enaknya nyemil makanan yang anget-anget. Beberapa waktu lalu sempet bikin pisang krispi. Cara bikinnya gampang banget. Cukup sedia pisang, tepung terigu dan tepung panir. Untuk toppingnya bisa pakai susu coklat dan keju. Kalau mau tambah enak pakai selai juga enak tuh, hihi. Bikin pisang krispi ini bisa disimpan di lemari es dan digoreng pas lagi kepengen.

Kalau gak ada pisang, bikin roti panggang juga enak. Tambah lebih gampang lagi kalau bikin roti panggang. Cukup nyetok roti susu sama keju. Kalau males manggangnya bisa langsung makan aja tanpa perlu dipanggang, hihi. Tapi kalau lagi gak ada cemilan, bikin mi instan juga enak kok dimakan pas dingin, haha. Maklumlah penggemar mi instan gitu, hehe. Tambah enak kalau ada sayur dan telor ceplok, duh, sebungkus kurang kayaknya.

Tapi berhubung lagi hamil, jadi gak mungkin juga makan mi instan mulu. Kalau gak ada cemilan ya mendingan gak nyemil ajalah, dari pada cari perkara, haha. Atau kalau lagi males beli cemilan yang biasanya ada di toko snack timbangan itu. Cari cemilan yang enak-enak kayak kripik pisang, telur gabus, kadang juga kacang telor gitu. Lumayanlah bikin berat badan jadi naik dua kilo, haha.
Kalau kamu, dingin-dingin sukanya makan apa nih?












10 Mar 2017

Selamat Tinggal Steve :'(

Steven masih umur 3 bulanan

Steven adalah salah satu kucing terakhir yang ada di rumah ibuku. Setelah ini ibuku tidak memelihara kucing lagi. Steven, yang lahir bulan Oktober 2012 lalu, harus menghembuskan napas terakhirnya tadi pagi sekitar jam 10 pagi, 10 Maret 2017.

Padahal 4 hari yang lalu Steven masih sehat. Namun, 3 hari yang lalu tiba-tiba kesehatan Steven drop. Setelah dibawa ke dokter hewan, dia didiagnosis kena kencing batu lagi seperti Juni 2016 lalu. Orang di rumah tidak ada yang menyangka Steven bakal meninggal pagi tadi. Pasalnya sakit yang dideritanya masih lebih ringan dibanding Juni 2016 lalu. Namun, takdir berkata lain. Dia tutup usia di awal Maret ini dengan usia sekitar 4,5 tahun (cukup tua untuk sebuah kucing).

Semasa hidupnya Steven ini kucing yang sangat pendiam dan jarang mengeong. Mengeong jika benar-benar sudah lapar dan adik saya lupa kasih makan. Jika tidak seberapa lapar, dia hanya sering mencium-cium kaki orang di rumah. Kucing ini adalah kucing yang paling penurut dibandingkan kucing-kucing lainnya yang pernah dipelihara. Suka sekali memijat bapak saya dengan kakinya.

Kesedihan Steven ini dimulai sejak Merlin (kucing betina teman Steven) hilang dicuri orang di akhir Oktober 2015. Dia tidak punya teman bermain lagi. Hari-harinya aku perhatikan tidak seceria dulu. Aku masih ingat ketika Merlin awal hilang, Steven selalu mengeong tiap malam memanggil temannya. Tiap pagi dia selalu mencari temannya di seluruh bagian rumah dan luar rumah.

Semenjak dia sendirian di rumah, dia lebih suka menghabiskan hari-harinya dengan tidur dan makan. Kasihan memang melihatnya. Namun, apa daya kami sekeluarga memutuskan untuk tidak menambah kucing lagi. Steven lebih banyak mencoba dekat dengan manusia. Kadang tidur di dekat saya dan istri. Kadang tidur sambil memoncongkan mulutnya ke jendela dekat kamar bapak saya. Dan masih banyak tingkahnya yang menunjukkan dia sendirian dan bosan sepertinya tanpa teman.

Selamat tinggal, Steve! Melihatmu meninggal, setidaknya engkau tidak menderita sakit yang berkepanjangan. Terima kasih sudah menemani kami sekeluarga sepanjang hidupmu.

2 Mar 2017

Suara dan Berisik

Anak kecil memang aneh. Aku kira anakku saja yang suka menyetel suara hingga maksimal, ternyata hampir seluruh anak kecil di dunia ini melakukan hal yang sama. Buktinya aplikasi Android yang digunakan untuk mengunci penyetelan suara laris manis diunduh.


Awalnya aku pikir ini bakal berhasil. Tapi memang dasar anak kecil itu kreatif, tombol volume-nya dipencet-pencet sampai error dan aplikasi penguncinya crash dan kebobolan. Haha. Mengetahui hal ini aku tertawa. Ternyata anak kecil bisa seperti itu.

Beberapa kali aku bilangin ke anakku kalau lihat YouTube jangan keras-keras suaranya. Tapi ya begitu, tidak mempan. Tapi malam ini aku lihat sendiri anakku mengecilkan volume hingga tak bersuara. Aneh yah, tapi begitulah anak kecil. Kadang dia menikmati dalam suara keras, kadang menikmati dalam keheningan.