Persona Intikalia

23 Jun 2023

Poligami

Kasus poligami sering kali menghiasi beranda Facebook dan Twitter. Dan yang sering disalahkan adalah pihak suami. Padahal secara syariat, suami berhak menikah lagi dengan wanita manapun, tanpa memberi tahu sang istri sebelumnya. Kalau ga percaya kaidah ini, bisa cek di buku fiqh pernikahan Islam. Tolong bedakan hukum dengan baper yah. Tidak boleh mengharamkan yang telah Alloh halalkan.

Curhatan seorang bapak-bapak

Ujian seorang laki-laki memang kadang datang dari istrinya. Bahkan istri yang sudah ngaji dan mengenal Islam secara terang benderang.

Ya memang mempelajari Islam itu jauh lebih mudah dibanding praktiknya. Apalagi urusan poligami yang satu ini. Susah sekali.

Bahkan sebelum nikah dulu, aku pernah tes beberapa cewek sebelum aku benar-benar melangkah lebih jauh. Apakah dia mau dipoligami atau tidak. Sayangnya beberapa cewek tersebut menolaknya. Ya sudah, aku tidak ambil pusing. Setiap barang yang jatuh, selalu ada yang memungutnya.

Aku selalu optimis bakal ada cewek yang mau menerima syarat dariku ini, yaitu mau dipoligami. Gila? Mana ada cewek yang mau dipoligami? Oh sabar-sabar. Jangan terbawa emosi, kawan.

Asal kamu tahu, istriku yang sekarang ini, dulu dia menyatakan bahwa dia mau dipoligami. Horee!!

Entah dia dulu keburu bucin atau gimana, kok bisa-bisanya khilaf menyetujui syaratku ini!

Aku selalu optimis dengan sebuah kaidah "setiap barang yang jatuh, selalu ada yang memungutnya". Aku yakin pasti ada yang mau. Eh ternyata betulan ada, alhamdulillah.

Tapi, apakah sekarang aku udah poligami? Jawabnya, belum.

Ya kan mensyaratkan mau mempoligami belum tentu poligami. Tidak wajib itu. Menyesuaikan keadaan dan kondisi. Sedangkan jika kamu menyatakan tidak akan poligami, lalu poligami, maka ini termasuk pelanggaran terhadap janjimu sendiri. Menjilat air ludah sendiri.

9 komentar:

  1. Hahaha...

    Yang penting sudah jujur di awal, yah.

    Kasih lihat buruk-buruknya dulu. Terima, syukur. Nggak terima, yah, masih ada yang mau pungut.

    Haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, yang penting jujur di awal itu
      daripada belakangan malah ribet

      Hapus
  2. pengaplikasian sekarang sih susah mas, emang ada ya yang bisa adil saat ini, kayaknya hampir mustahil mas ada yang bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih ada mas
      adil dalam jatah pulang dan uang
      bukan cinta

      kalo mas cari, pasti ada
      beberapa orang di dekatku poligami ya aman2 aja
      apalagi orang Madura, yang poligami biasanya rata2 kaya
      dan aman2 saja itu

      Hapus
    2. gimana y mas, agak susah kalau debat masalah ini hehe
      tapi sih tergantung orangnya mas,
      toh ya ini pribadi orangnya,
      saya sih enggak berani untuk judge sih,
      kalau saya sih satu aja udah cukup,hehe

      Hapus
    3. nah itu mas
      tergantung kebutuhan

      Hapus
  3. aku udah mengalami semua kalimat yang di dalam tanda kutip, baik dari ibu atau istri, heee

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus tegas ko, kalo emang niat poligami, harus berani tanggung risiko emang, hehe

      kalo aku, emang belum ada yang sreg, jadi belum ke arah sana

      Hapus
  4. blogwalking dan nemu artikel ini yang ditulis berdasarkan pov laki-laki. seru nih. Seperti sebuah pembelaan yang sebenarnya itu sah. Poligami memang benar adanya, namun sebagai perempuan akhir zaman, menerima pasangan berbagi perasaan itu susah (wajar ya) inginnya dijadikan satu-satunya, bukan salah satunya. Aku mendukung adanya poligami karena itu syariat yang disahkan agama. Berat tentu, tapi kembali lagi, seorang suami yang paham agama pasti mengerti apa sebenarnya makna poligami itu sendiri, tidak hanya mengedepankan nafsu tapi juga ada pertimbangan agama di dalamnya.

    BalasHapus