Mungkin beberapa dari Anda sudah tidak asing jika mendengar kata “Tea Latte”. Ssebuah salah satu sajian minuman yang menyegarkan, memiliki tekstur dan rasa yang creamy. Tea latte sendiri pun menjadi salah satu minuman menyegarkan yang cocok dinikmati kapan saja. Untuk tea latte ice, cocok diminum pada saat siang hari ketika matahari sedang terik-teriknya, dan tea latte hot nikmat disajikan ketika udara dengan dingin.
Tea latte adalah variasi lain pada coffee latte. Seperti late latte pada umumnya, mereka biasa dibuat dengan tambahan susu. Namun, berbeda pula dengan espresso, tea latte biasanya mengandung teh, dan lebih sering dalam bentuk teh hijau matcha atau konsentrat yang terbuat dari daun teh yang diseduh dan memiliki cita rasa kuat. Sajian tea latte di Indonesia pun sudah cukup populer di kalangan para pecinta kuliner, khususnya para pecinta minuman teh. Karena sudah memiliki banyak penggemar, saat ini pun tea latte sangat mudah ditemui diman - mana, termasuk di restaurant, kedai teh, kedai kopi dan kafe – kafe di sekitar kita.
Jika tak memiliki susu sapi, untuk beberapa alternatif lainnya dapat pula menggunakan susu kedelai atau jenis susu lainnya. Sama seperti coffee pada umumnya, sajian tea latte juga bisa sekali dihias dengan latte art sesuai selera. Latte art bisa berbentuk angsa, hati, beruang, daun dan masih banyak lagi lainnya.
Minuman tea latte pun sering disajikan dengan tambahan seperti gula, madu dan whipcream, tentunya sesuai selera para penikmat tea latte tersebut. Tea latte pun sangat bisa dimodifikasi atau ditambahkan bahan - bahan lainnya yang nantinya akan menjadi latte rasa dengan karamel, vanilla, coklat dan perasa lainnya (yang biasanya ditambahkan dalam bentuk sirup).
Tak hanya coffee latte, tea latte juga bisa disajikan sebagai minuman es atau minuman campuran lainnya, seperti chai latte, latte teh hijau matcha, latte Earl Grey.
Jika Anda tak memiliki waktu untuk pergi ke restaurant atau kafe untuk menikmati tea latte. Saat ini sudah banyak sekali resep untuk membuat tea latte sendiri di rumah. Jadi, Anda pun dapat dengan mudah menikmati tea latte kapan pun.
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
3 Jan 2018
5 Jan 2016
Randol Es Cendol Modern
Es cendol atau yang biasanya orang jawa bilang es dawet memang minuman yang cukup bikin saya kangen. Dulu sewaktu masih tinggal di Banjarnegara, menemukan es dawet sangat lah mudah. Gak heran karena di kota itu es dawet memang menjadi minuman khas sana. Sedangkan kalau di Bandung lebih sering menyebutnya dengan cendol.
Berhubung sebelum pindah ke Banjarnergara saya tinggal di Purwakarta yang deket Bandung. Saya lebih familiar dengan es cendol. Pernah suatu saat di Banjarnergara saya ingin memanggil tukang es dawet yang lewat dekat rumah. Eh udah teriak keras-keras tapi salah nyebut! Saya udah teriak, "Cendooooool!!" Tahu gak sih orang yang jualan diem aja. Gak bergeming sedikit pun. Saya pun langsung ngakak sendiri karena di Banjarnegara gak ada yang ngerti kalau cendol dan es dawet itu saudaraan. Jadi meski saya teriak cendol sampai muntah pun penjual es dawetnya gak bakalan ngerti. Dia kan gak jualan cendol tapi dawet, hahaha.
Setelah saya pindah ke Surabaya, es cendol merupakan sesuatu yang cukup langka. Susah banget nemuin tukang es cendol. Eh tapi suatu saat saya menemukan es cendol di food court ITC. Meski harganya terbilang cukup mahal ketimbang es cendol biasa. Gak heran sih, es cendol ini sudah dikemas dengan kemasan yang cukup bagus. Dan gak hanya itu sudah ada brandnya. Jadi makin mahal aja.
Es cendol yang saya temui ini namanya Randol, rajanya cendol, katanya. Randol ini memang spesialis es cendol modern. Salah satu yang paling unik adalah si Randol ini gak menggunakan santan seperti kebanyakan es cendol. Randol menggunakan susu UHT sebagai pengganti santan. Pantes aja harganya mahal booo!
Saya pikir rasanya bakalan aneh. Tapi gak terlalu kerasa kok bau susunya. Soalnya sudah tercampur dengan wangi gula arennya. Rasanya menurut saya juga gak kalah nikmat dari es cendol yang menggunakan santan. Malah saya dan suami sempat guyon, jangan-jangan itu santannnya dimasukin kotak susu itu biar dikira susu, haha. Tapi gak kok, ini beneran bukan santan. Soalnya gak kerasa gurihnya santan kelapa. Ini beneran susu. Merk susu yang dipakai adalah Diamon. Setahu saya susu ini memang jauh lebih murah dari susu Ultra langganan si kecil.
Gak hanya mengganti santan dengan susu, Randol juga menyediakan macam-macan topping. Pertama kali, kami mencoba es cendol dengan topping Toblerone. Tapi saya harus kecewa karena topping Toblerone gak terlalu kerasa. Udah gitu orangnya kayaknya gugup jadi cuma kerasa seperti es cendol yang rasa original.
Kedua kalinya kami memesan es cendol rasa stroberi. Eh ternyata susu yang digunakan juga susu stroberi. Lalu ditambahkan sesuatu yang saya juga gak tahu apa. Kayaknya sih yogurt rasa stroberi juga. Kalau yang rasa stroberi ini baru deh kerasa beda karena ada sensasi rasa stroberi bercampung dengan cendolnya. Tapi bagi saya rasanya agak kemanisan. Mungkin karena susunya sudah manis lalu ditambah lagi dengan gula arennya jadi tambah manis.
Seenggaknya es cendol Randol ini mengobati keinginan saya untuk minum es cendol. Meski gak seperti rasa aslinya.
Berhubung sebelum pindah ke Banjarnergara saya tinggal di Purwakarta yang deket Bandung. Saya lebih familiar dengan es cendol. Pernah suatu saat di Banjarnergara saya ingin memanggil tukang es dawet yang lewat dekat rumah. Eh udah teriak keras-keras tapi salah nyebut! Saya udah teriak, "Cendooooool!!" Tahu gak sih orang yang jualan diem aja. Gak bergeming sedikit pun. Saya pun langsung ngakak sendiri karena di Banjarnegara gak ada yang ngerti kalau cendol dan es dawet itu saudaraan. Jadi meski saya teriak cendol sampai muntah pun penjual es dawetnya gak bakalan ngerti. Dia kan gak jualan cendol tapi dawet, hahaha.
Setelah saya pindah ke Surabaya, es cendol merupakan sesuatu yang cukup langka. Susah banget nemuin tukang es cendol. Eh tapi suatu saat saya menemukan es cendol di food court ITC. Meski harganya terbilang cukup mahal ketimbang es cendol biasa. Gak heran sih, es cendol ini sudah dikemas dengan kemasan yang cukup bagus. Dan gak hanya itu sudah ada brandnya. Jadi makin mahal aja.
![]() |
| Randol, Es Cendol Topping Toblerone |
Saya pikir rasanya bakalan aneh. Tapi gak terlalu kerasa kok bau susunya. Soalnya sudah tercampur dengan wangi gula arennya. Rasanya menurut saya juga gak kalah nikmat dari es cendol yang menggunakan santan. Malah saya dan suami sempat guyon, jangan-jangan itu santannnya dimasukin kotak susu itu biar dikira susu, haha. Tapi gak kok, ini beneran bukan santan. Soalnya gak kerasa gurihnya santan kelapa. Ini beneran susu. Merk susu yang dipakai adalah Diamon. Setahu saya susu ini memang jauh lebih murah dari susu Ultra langganan si kecil.
Gak hanya mengganti santan dengan susu, Randol juga menyediakan macam-macan topping. Pertama kali, kami mencoba es cendol dengan topping Toblerone. Tapi saya harus kecewa karena topping Toblerone gak terlalu kerasa. Udah gitu orangnya kayaknya gugup jadi cuma kerasa seperti es cendol yang rasa original.
![]() |
| Es Cendol Rasa Stroberi |
Seenggaknya es cendol Randol ini mengobati keinginan saya untuk minum es cendol. Meski gak seperti rasa aslinya.
19 Des 2015
Enaknya Kebab Turki Baba Rafi
Kuliner kebab mulai saya kenal sekitar tahun 2009. Saat itu saya penasaran dengan stan kebab yang nongkrong di depan mini market. Seingat saya dulu harga satu kebab kambing hanya enam ribu. Itu pun rasanya sudah mahal, mengingat saat itu uang jajan saya cuma dua puluh ribu. Dua puluh ribu kok cuma? Haha. Saya yang gak suka daging kambing gak memilih menu kebab kambing. Justru malahan beli burgernya. Kebabnya saya berikan pada kakak saya yang doyan makan apa saja. Semenjak saat itu saya gak pernah lagi beli kebab.
Beberapa minggu lalu barulah saya merasakan kebab lagi saat jalan-jalan ke ITC Surabaya. Saat itu hari masih sangat pagi. Belum banyak stan makanan yang buka di food court ITC. Kami pun gak tahu mau makan apa. Jadi untuk mengisi perut kami yang lapar, kami memilih makan kebab Baba Rafi saja. Kebabnya pun ternyata baru buka, kami pelanggan pertama.
Saat memilih menu, kami cukup bingung. Soalnya menunya standar sih. Seperti kebab sapi, kebab unyu, kebab sosis, kebab ayam, kebab piscok dan banyak lagi. Dan ternyata gak semua menu tersedia. Lucunya ketika saya pesan kebab sosis, orangnya bilang sosisnya cuma dipake buat hot dog. Lah, terus ngapain ditulis di menu ada kebab sosis? Akhirnya pilihan saya jatuh pada kebab chijeu. Kebab dengan irisan daging kebab sapi dan telur orak arik ini memang cukup mengenyangkan. Cuma sayangnya gak ada sayurnya jadi kurang seger. Sedangkan suami memilih kebab sapi. Potongan dagingnya lebih banyak ketimbang kebab chijeu. Mungkin karena isinya daging semua, gak seperti chijeu yang dipadukan dengan telur.
Harga Kebab Turki Baba Rafi ini dimulai dari Rp 14.000. Ada juga sih kebab non daging seperti kebab piscok. Tapi saya gak tertarik soalnya udah tahu rasanya bakalan kayak apa. Meski judulnya kebab tapi di Kebab Baba Rafi ini juga jual burger dan hot dog.
Seporsi Kebab Baba Rafi ini ternyata cukup mengenyangkan perut. Cuma kalo beli satu lagi dimakan berdua kayaknya masih muat perutnya, haha. Tapi bagi suami saya yang makannya gak terlalu banyak seporsi Kebab Baba Rafi sudah sangat mengenyangkan katanya. Berhubung saya lagi hamil *alibi* jadi saya butuh dua porsi kebab, haha. Mungkin lain kali saya ingin nyobain makan dua kebab sekaligus.
![]() |
| Kebab Turki Baba Rafi |
Beberapa minggu lalu barulah saya merasakan kebab lagi saat jalan-jalan ke ITC Surabaya. Saat itu hari masih sangat pagi. Belum banyak stan makanan yang buka di food court ITC. Kami pun gak tahu mau makan apa. Jadi untuk mengisi perut kami yang lapar, kami memilih makan kebab Baba Rafi saja. Kebabnya pun ternyata baru buka, kami pelanggan pertama.
Saat memilih menu, kami cukup bingung. Soalnya menunya standar sih. Seperti kebab sapi, kebab unyu, kebab sosis, kebab ayam, kebab piscok dan banyak lagi. Dan ternyata gak semua menu tersedia. Lucunya ketika saya pesan kebab sosis, orangnya bilang sosisnya cuma dipake buat hot dog. Lah, terus ngapain ditulis di menu ada kebab sosis? Akhirnya pilihan saya jatuh pada kebab chijeu. Kebab dengan irisan daging kebab sapi dan telur orak arik ini memang cukup mengenyangkan. Cuma sayangnya gak ada sayurnya jadi kurang seger. Sedangkan suami memilih kebab sapi. Potongan dagingnya lebih banyak ketimbang kebab chijeu. Mungkin karena isinya daging semua, gak seperti chijeu yang dipadukan dengan telur.
Harga Kebab Turki Baba Rafi ini dimulai dari Rp 14.000. Ada juga sih kebab non daging seperti kebab piscok. Tapi saya gak tertarik soalnya udah tahu rasanya bakalan kayak apa. Meski judulnya kebab tapi di Kebab Baba Rafi ini juga jual burger dan hot dog.
Seporsi Kebab Baba Rafi ini ternyata cukup mengenyangkan perut. Cuma kalo beli satu lagi dimakan berdua kayaknya masih muat perutnya, haha. Tapi bagi suami saya yang makannya gak terlalu banyak seporsi Kebab Baba Rafi sudah sangat mengenyangkan katanya. Berhubung saya lagi hamil *alibi* jadi saya butuh dua porsi kebab, haha. Mungkin lain kali saya ingin nyobain makan dua kebab sekaligus.
28 Apr 2011
Rawon Pak Pangat
Tanggal 22 April 2011 kemarin aku ke Surabaya. Beberapa kali makan di luar. Tapi aku posting salah satunya saja ya. Ngikutin gaya John Terro gak banyak kalimat kali ini....
9 Okt 2010
Nasi Goreng ala John Terro
Malam ini sungguh melelahkan tapi juga menyenangkan. Mengapa tidak? Hari ini IEE Expo 2010 nampak memberikan animo positif pada diri saya. Mulai dari konten yang bermutu, misalnya seminar dari seorang ahli marketer Bapak Hermawan Kertajaya. Sungguh menakjubkan seminar tadi pagi. Padahal awalnya saya tidak berencana ke Gramedia Expo hari ini, namun karena ada komando dari koor saya, akhirnya saya berangkat. Ternyata keberangkatan saya tidak sia-sia.
Langganan:
Postingan (Atom)






