Persona Intikalia

8 Mei 2011

Senyum Kecut Intikali


"Dalam seribu purnama kumenanti, tiada jawaban, tiada kepastian, lalu kuterhampar hingga terjemput ajal." (John Terro; Bait-bait Intikali; Menanti Tak Pasti)

Ku ingin membuat karyaku berupa cerita yang cukup panjang; karya kedua. Sekarang 15 Oktober 2008, hari Rabu, dan kemarin genap usiaku sembilan belas tahun. Tepatnya, tanpa KTP (Kartu Tanda Penduduk); aku masih belum punya pada saat aku menulis karya ini.



John,

Usah kau ketahui mengapa ku terpanggil dengan nama John; itu tak penting untuk dibahas. Apalah arti sebuah nama John; nama yang familiar; hampir semua orang mudah menghafalnya. Yang penting adalah kau mengetahui bahwa tak ada kata "bercanda" dalam kamusku. Camkan itu!


Bagian Satu


Pagi itu. Jam tujuh harus datang ke sekolah; tak boleh telat. Lomba matematika yang kunanti-nanti. Sejak lama aku tak pernah merasakan lomba bidang matematika; hampir enam tahun. Rasanya aku tak 'kan memenangkan perlombaan kali ini. Aku sadar; kemampuan telah menurun, apalagi setelah ku ikut LDKS (Latihan Dasar Kemimpinan Siswa) di sekolahku; meski aku bukan jadi peserta, tapi aku jadi panitianya; seksi acara tepatnya. Aku merasakan ada yang aneh sejak kepulanganku dari Pacet ketika LDKS berakhir. Aku merasa aku kehilangan sebagian semangatku. Aku bukan John yang dulu. Aku lebih suka bermain-main. Aku tak serius. Seakan aku kehilangan kepercayaan akan diriku, meski aku berusaha untuk menutupinya dengan senyumku.

Dalam ruangan sempit; penuh angin yang tak sehat untuk badan; aku duduk di pojok. Mungkin, tanpa terpikir apa-apa. Teman-temanku belajar mati-matian matematika, mungkin; dalam benakku. Sedangkan aku hanya duduk santai dalam bemo F; bemo yang biasanya aku naiki untuk menuju ke sekolahku. Sesampainya di sana, aku berjalan santai, memasang wajah tenang. Kulihat temanku dengan soal-soal latihan matematika di genggamnya. Aku tersenyum melihat itu. Aku duduk di samping teman-temanku; melihat soal-soal latihan itu hanya dengan sekejap saja. Ah ... di otakku kosong, aku pikir; biar nanti saja aku kerjakan seadanya yang aku bisa.

Mungkin duduk seperti itu sedikit membuatku merasa gerah. Aku tak tahan jika harus menunggu yang lainnya datang. Bukankah perjanjianya jam tujuh tepat; tak pakai terlambat segala. Ah ... ini sudah jadi kebiasaan orang Indonesia; selalu saja tak tepat waktu. Berapa jam lagi harus kutunggu mereka semua datang. Tak sabar sekali ku menunggunya. Aku duduk sambil merapatkan kepalaku ke tempurungku dengan kedua tanganku melingkarinya. Ku berpikir kosong; aku butuh ketenangan untuk hadapi lomba kali ini.

Dia menampakkan diri dengan tiba-tiba; sempat ku ragu dalam otakku; hendak memastikan apakah benar itu dirinya. Kupelototi dengan cara melihatku yang seperti biasanya ketika aku ingin memastikan apakah aku mengenalnya. Hipotesisku terhalang oleh jaket putih yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, aku tetap berusaha tak melepaskan pandanganku darinya. Hingga akhirnya, terbukalah kedoknya ketika ia menyapaku. Dia, teman lamaku; dan mungkin tak sekedar teman lama. Dalam otakku, mungkin saja dia telah lupa dengan diriku; dan ternyata dia belum lupa.

Setelahnya, beberapa temanku bertanya tentangnya; aku pun tak menjawabnya kecuali dengan jawaban yang tak mudah dimengerti oleh otak teman-temanku saat itu. Mungkin, kau tak 'kan pernah tahu apa yang ku maksud dengan 13xy; itu pun terjadi pada teman dekatku sekalipun. 13xy adalah sebuah rahasia yang tak ingin ku ungkap; mungkin hingga nanti, seribu tahun nanti, aku tak hendak untuk membongkarnya. Biarlah 13xy terkubur bersama nisanku. Semoga ini tak 'kan terbongkar hingga jatuh temponya berakhir.

Teringat olehku, ketika itu, ketika aku bersantai di kamarku sendiri, sehabis Sholat Isya', lalu aku menghidupkan komputerku. Aku terinspirasi untuk memakai namanya untuk komputerku, namun tak untuk maksud yang sama. 13xy adalah nama komputerku di kamar saat itu. Dan itu sebelum aku bertemu lagi dengannya; sebelum lomba matematika tentunya. Namun, 13xy tanpa kata "jindego" seakan sayur tanpa garam. Jindego, sebuah kata yang aku gelarkan pada 13xy untuk selalu menyertainya. Jindego, aku ambil dari bahasa yang aku buat bersama beberapa temanku; Weyeze Dalwerig nama bahasa itu. Bahasa ini adalah hasil kerja dari sebuah impianku sejak SMP dulu; ketika masih bersama teman-teman Gula-ku dulu. Gula, organisasi kecil yang bergerak di bidang lawak, kami buat ketika aku masih duduk di kelas satu SMP.

Sesampainya di tempat lomba itu, aku masuk ke dalam musholla lalu aku sholat Dhuha sebentar. Sebuah universitas yang besar, namun moshollanya kecil; ironis memang. Aku sempatkan untuk mengirim satu SMS untuknya. Tapi isi dari SMS itu konyol. Tak perlu diutarakan di sini. Aku dan teman-temanku duduk di amperan musholla itu dengan harapan pikiran kami bisa tenang. Guruku yang mengantarkan kami masih muda dan amat bersemangat sekali. Mungkin di sini aku enggan menyebutkan namanya. Guru ini masih satu baru; umur satu tahun mengajar di sekolahku. Namun, meski ia tak lama mengajar di sekolahku, ia punya gagasan yang patut diperhitungkan mengenai perkembangan sekolah kami. Aku bangga mengenal beliau. Dia perempuan yang memiliki pandangan ke depan; dan yang penting adalah tidak kolot.

Beberapa jam berlalu, kami menunggu pengumuman siapa sajakah yang lolos dalam penyisihan kali ini. Dan ternyata dari sekolah kami tak ada satupun dari beberapa kelompok yang mengikuti lomba. Namun, itu bukanlah hal yang aneh. Bukankah setiap perlombaan pasti ada yang menang dan yang kalah. Kami ikut lomba ini bukan untuk menang tapi untuk mencari pengalaman. Aku sendiri pun telah lama tak mencicipi perlombaan seperti ini hampir enam tahun. Dan anehnya di sana, aku tak menjumpainya -perempuan yang tadi menyapaku di depan sekolahku-. Ya, sekolah kami memang berekatan, malahan satu tembok. Namun, naasnya kami jarang sekali bertemu. Memang itu telah menjadi takdirku. Kami terpisah setiap saat dan mungkin hanya bertemu sesaat saja lalu berpisah lagi. Aku tak pernah satu sekolah dengannya mulai di bangku sekolah dasar hingga kini; hingga kuliah kami tak 'kan pernah bertemu.


Bagian Dua


Sepertinya tak 'kan pernah terlupakan kejadian itu. Bahkan, itu mungkin menjadi cikal bakal kehidupanku selanjutnya yang semakin tidak karuan. Hari-hariku seakan tak henti-hentinya dengan membuat puisi dan syair gila; itu menurutku. Mulai dari syair yang mudah dipahami sampai dengan syair yang tak diketahui maknanya. Ah ... apa mungkin ini hanya hiperbolaku saja. Sebuah kata aneh muncul dalam puisiku yang kesekian kali. "Intikali" muncul dengan tiba-tiba dalam otakku yang kesulitan untuk mengutarakan maksud yang terdapat dalam otakku. Awalnya, intikali hanya kata yang biasa saja, tak perlu dihiraukan. Hingga pada suatu waktu, salah satu temanku menganggap intikali adalah suatu hal yang mesti mendapat perhatian lebih dari hanya sekedar kata saja.

Mungkin saja ketika itu, ketika temanku membaca profil di Friendster-ku. Ada kata "berintikali" di bagian kategori hobiku. Mungkin ini sedikit hiperbola. Aku hanya iseng saja memamapang kata "berintikali" di sana, tanpa maksud dan tujuan lebih kecuali hanya sedikit saja. Betapa tidak, aku mulai kebingungan ketika aku harus mengisi kolom hobiku. Menggambar, adalah hobiku yang mulai pudar ketika aku di bangku SMP, tepatnya ketika kelas tiga. Dan kini aku tak punya hobi permanen. Hobiku berganti-ganti. Membuat kode-kode/sandi-sandi, membuat puisi, atau beberapa hobi yang lainnya; menurutku itu hanya hobi yang biasa saja, dan aku pikir tak keren jika aku harus menaruhnya dalam kolom hobiku. Akhirnya, ku putuskan untuk menaruh "berintikali" dalam kolom hobiku; meski pada saat itu aku masih belum paham betul makna dari kata itu, tapi aku tak berpikir panjang untuk hal semacam itu, terlalu menghabiskan nutrisi otak.

Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik pada hal-hal yang terlalu rumit; aku suka hal yang simpel, minimalis, namun tetap elegan di pandang mata. Itu terlihat dari caraku membuat simbol-simbol organisasiku atau simbol-simbol kegiatan yang akan diselenggarakan di sekolahku. Dalam otakku, sudah banyak hal yang kompleks dan aku tak ingin menambahnya lagi dengan hal-hal yang tak perlu dipikirkan.

Ini sebenarnya permulaan dari segala yang akan aku jelaskan nanti. Dari sebuah kata "intikali", ini akan segera membumi, terutama di kelasku. Sudah banyak yang teracuni oleh hal ini. Langsung maupun tak langsung, ini amat terasa lambat laun. Ku teringat pada salah satu temanku, yang ia sedang dirundung asmara. Seakan intikali adalah media untuk mengekspresikan semua yang ada dalam hatinya. Ia mulai membuat simbol-simbol untuk menyembunyikan maksudnya dari mata khalayak umum; seperti cara yang kulakukan sejak dulu. Hingga pada suatu saat kami memberikan julukan untuk diri kami sendiri. Intikalis, kamilah orangnya. Intikalis adalah orang yang senantiasa berintikali mengintikalikan kekasihnya. Tidak berhenti di sana saja, kami juga membagi macam-macam intikalis menjadi tiga; intikalis kiri, intikalis tengah, dan intikalis kanan. Ketiganya memiliki sedikit perbedaan dalam mengintikalikan kekasihnya.


Bagian Tiga


MXit, mungkin kau mengetahuinya. Itu sejenis aplikasi chatting untuk mobile (orang Indonesia menyebutnya hape). Dari sana aku mulai punya koneksi dari luar kota. Rara, sebut saja dia dengan nama itu. Ia adalah salah satu teman MXit-ku. Kami telah kenal lama, meski hingga kini aku dan dia tak pernah bersua sekali pun. Itu karena aku tak siap saja untuk bertemu dengannya. Banyak persiapan yang belum aku lakukan dan aku tak mau bersua sebelum semuanya beres. Dialah, Rara, teman chat-ku yang tahu pertama kali tentang intikali; untuk kategori orang yang tak pernah berjumpa denganku. Ia menilainya, intikali adalah semacam inovasi yang aku buat bersama teman-temanku. Namun, akhirnya ia pun mulai paham apa arti sebuah intikali, meski aku tak tahu apakah ia paham betul atau tidak, karena intikali itu hanya dapat dirasakan, tidak dapat didefinisinikan oleh kata-kata.

Karena aku sudah melihat bahwa intikali punya massa, maka aku dan teman-temanku berinisiatif untuk membuat grup di Frienster dengan nama "intikalis" yang tentunya dengan basik intikali. Lambat laun, aku mengganti nama grup itu dengan nama "Love is Intikali". Aku mengganti namanya ketika aku terinspirasi oleh Friendster milik Ninin -aku menyebutnya-. Dalam shoutout-nya tertulis "Love is beauty in my live". Sejak itulah intikali mempunyai makna "love", meski masih banyak lagi makna yang lainnya, tergantung penggunaanya. Setiap bahasa lahir dengan dua hal; secara etimologi dan terminologi. Begitu pula intikali. Namun, intikali sedikit berbeda, intikali terlahir tanpa etimologi, namun tetap mempunyai terminologi.

"NTXR/CrossCore" adalah nama selanjutnya setelah "Love is Intikali". Ini diambil dari usulan salah satu intikalis. "NT" melambangkan kata "inti", "X" melambangkan kata "kali", dan "R" melambangkan penggunanya; dengan ini dapat disimpulkan "NTXR intikalis". "Cross" berarti silang/kali dan "Core" adalah inti; sama saja, juga berarti intikali. Nama ini kemudian diganti lagi menjadi "NTXR Brigade", ini terinspirasi dari film kartun Jepang dengan judul "The Melancholy of Suzumiya Haruhi", yang ada beberapa kesamaan antara NTXR dan SOS Brigade (dalam film itu). Meskipun bergonta-ganti namanya, tetaplah tujuannya, berintikali. Itu merupakan jawaban jika kau ditanya tentang tujuan dari didirikannya organisasi NTXR ini. Hehehe ... ini membingungkan orang yang masih bingung.

Ini berawal dari sebuah persiapan untuk membuat aksara sendiri, bahasa sendiri, dan mungkin negara sendiri; kami menyebutnya "Nakeleon" (baca: Nakaloin). "Diete Jinde Diete Ego" dan beberapa kata-kata yang sering digunakan seakan-akan seperti sebuah peribahasa. "D'enta Kideyona", "Gahase Aleruna", "Etga Urka", dan banyak lagi kata-kata lainnya yang diucapkan oleh para intikalis. Atau kata-kata, "Jindeirey Jindego Tanken Jindemo, Gelane Diete JInde Diete Ego, Jindego 13xy"; kata-kata ini pernah digunakan sebagai shoutout olehku di Friendster. Namun, apalah arti semua ini yang kuucapkan apabila kau tak mengetahui artinya, bukankah hanya menambah beban di otakmu saja.

Atau parahnya, ku juga membuat E-Mail di Yahoo dengan ID, "jindego.13xy@yahoo.co.id". Entah sakin apanya ku amat mengagumi sebuah nama "13xy". Mungkin jika kau telah membaca sampai pada bagian ini, komentarlah kepadaku dengan mengirim E-Mail ke alamat yang telah kusebutkan sebelumnya. Tapi dengan cara itu aku bisa mengingat alamat E-Mail-ku, karena berulang kali kumembuat E-Mail, lalu aku lupa alamat dan passwordnya.


Bagian Empat


Dunia ini hancur. Lalu tersisa beberapa orang. Mereka hendak mendirikan sebuah dinasti sendiri; menciptkan peradapan baru. Seorang dari mereka adalah seorang intikalis. Maka dipengruhilah sisa dari kehidupan oleh semua yang bernafaskan intikali. Dan sebuah dinasti dibangun di atas keintikalian. Ini adalah hal yang aku imajinasikan. Entah nanti terjadi atau hanya akan menjadi sebuah mimpi. Berlalu, lalu hilang; musnah katakan begitu. Terguling otakku bercampur sedikit adukan mantra temanku yang baru saja datang dari kuliahnya. Desain intikalis, distro intikali, usaha mandiri dengan basik intikali; berkali-kali terbayangkan. Ya ... kami memang satu suku, dan seakan pikiran kami menyatu padu. Sesekali, ia menyebut intikali ini sesat. Betapa tidak, apa itu intikali? Intikali itu sebuah kata yang tidak dapat didefinisikan, karena definisi hanya akan membatasi, dan intikali hanya dapat dirasakan. Lantas, apa tujuan dari intikali itu sendiri? Tujuannya adalah berintikali. Seraya kami tertawa. Membayangkan betapa ribetnya sebuah definisi, dan kami tak memberikan definisi pada satu kata ini; kata "intikali".

Kami habiskan dengan sedikit membahas Suzumiya Haruhi dan SOS Brigade-nya; memberikan sedikit inspirasi untuk gerakan kita ke depan. Raz -aku menyebut temanku itu- menyarankan aku untuk belajar menjahit; kita mau membuat cost-play sendiri. Sedikit nakal pikiranku menjalar; kita buat saja sebuah ikon dalam karya kita dengan kata "NTXR Brigade", pasti tak ada yang curiga, dengan detail yang simpel biar tak terlihat seperti kanak-kanak. Situs intikali mulai menguak dalam otakku ketika Raz mulai membicarakan tugas akhirnya "membuat Web". Ia meminta bantuanku, aku mau, namun dengan basik intikali tentunya.

Terlihat serius kau membaca. Tergelepak di atas tersyubhatnya otakmu. Intikali, terus dibahas dalam setiap bagian. Sungguh tak diketahui intikali itu apa, makanan? hewan? manusia? atau apa saja. Kemudian ku memberi sedikit penjelasan singkat. Intikali itu bisa tersenyum, intikali itu bisa tertawa, intikali itu bisa marah, atau pula intikali itu bisa menangis. Intikali itu, apabila kau melihatnya, maka kau terdiam sejenak, bisu, terbungkam. Intikali itu apabila kau dekat dengannya, maka seluruh tubuhmu berkeringat dingin, tanganmu membeku, lidahmu keluh. Tak menutup kemungkinan otakmu pecah, tercecer dalam sekian bagian yang luruh, kemudian menghilang seakan tak ada apa-apa.



Sejenak komat-kamit,

"neme wi avashe"

zarelez weid
hans monken dalgeid
niva darey wansid
baz gien reme zegid

hibernasii ezudze ur en
wi maleiya edanansten
baz gien reme tiem
wizoya dalwongem

zau neme dalongef
baz gien reme tizagef
ru duna nade
ru duna mehe

ale runa denaya
ale runa enta iransina
beru d'monken dalceti
wiel zece beru medi

ei neme wi avashe
wi focanske wode
wi fazail jinde
fendezrey intikalis zawodze



/translasi:

Nama Untuk Kita

Selaras bait
Yang mungkin terkait
Kini telah bangkit
Setelah kian lama sakit

Hibernasi dikambinghitamkan
Demi meraih ketenangan
Setelah kian lama diam
Membisu terbungkam

Sebuah nama terungkap
Setelah kian lama disekap
Dari dunia nyata
Dari dunia maya

Semua bertanya-tanya
Semua seakan kehilangannya
Meski tak mungkin terjadi
Biar saja walau mati

Ini nama untuk kita
Bagi pujangga buta
Bagi penyair cinta
Pantaslah intikalis kumenyebutnya



Bagian Lima


Seorang pecinta ditanya oleh kekasihnya. "Apa yang membuatmu mencintaiku?" tanya Sang Kekasih. Pecinta itu menjawab, "Mungkin semua orang yang mencintaimu sibuk mencari alasan mengapa mereka mencintaimu, dari segi apa mereka mencintaimu, namun aku amatlah berbeda dari mereka; tak perlu satu alasan pun untuk mencintaimu karena ketika aku mencintaimu karena sesuatu, lalu sesuatu itu hilang darimu, maka tak 'kan ada lagi cintaku padamu, dan aku tak ingin itu terjadi," jawab Sang Pecinta, "Aku akan tetap mencintaimu meski semuanya hilang darimu, karena cinta itu tak mempunyai batasan, karena batasan hanya akan membatasi cinta itu sendiri, dan alasan untuk mencintaimu adalah salah satu dari segala batasan yang ada."

Kemudian Sang Kekasih memberikan senyum segaris pada Sang Pecinta tadi. Namun, Sang Kekasih masih mempunyai beberapa pertanyaan yang seakan selalu membayangi hatinya. "Menurutmu ... Cinta itu apa?" tanya Sang Kekasih. Sang Pecinta balik bertanya, "Kalau menurutmu?" Sang kekasih berkata, "Cinta itu ... " -Sang Kekasih membeberkan berbagai macam definisi tentang cinta yang selama ini pernah ia ketahui dan pernah ia pernah dengar dari berbagai sumber. Sang Pecinta tadi tersenyum. Sang Kekasih terdiam melihat senyuman Pecinta itu. Pecinta itu mulai membeber semuanya satu per satu, "Jika cinta itu menyayangi orang yang kita cintai ... Dan apa yang dimaksud dengan sayang itu sendiri? Dan apakah kalau kita tidak menyayangi orang yang kita cintai namun kita cinta kepada orang cintai, apakah hal yang seperti itu tidak dapat disebut cinta?" -Sang Pecinta tadi memulai penjelasan-penjelasan yang menyebabkan tak semakin jelas kepada Sang Kekasih-. Sang Kekasih hanya diam dan berpikir bahwa yang semua ini ia dengar tentang cinta ternyata salah; ia terus bingung tentang arti sebenarnya dari sebuah cinta.

"Cinta itu tak dapat didefinisikan, hanya dapat dirasakan, karena semakin kita berusaha mendefinisikan cinta, maka cinta akan semakin sempit lingkupnya, dan kita akan terjebak dalam definisi-definisi itu yang membuat otak kita seakan terpatri untuk memahami cinta seperti apa yang pernah kita dengar atau kita ketahui sebelumnya," Pecinta mengklarifikasi hal itu. Sang Kekasih berusaha memahami kata-kata pecinta tadi walaupun mungkin tak 'kan semudah itu untuk memahami kata-katanya.

Di lain tempat. Pernah guru kesenianku, pada saat jumpa pertama di kelas kesenian, dia berkata dan bertanya kepada muridnya, "Seni itu apa?" Sebagian temanku berkata seni itu indah. Lalu guruku menunjukkan sesuatu benda yang kacau balau keadaannya dan kembali bertanya, "Apakah yang kacau balau seperti ini tak bisa disebut sebagai seni?" Teman-temanku terdiam. "Seperti ini pun dapat disebut seni," jelas guruku. Kemudian teman-temanku memberikan definisi-definisi lain untuk mendefinisikan sebuah kata "seni". Namun, pendapat-pendapat tersebut dipatahkan oleh guruku. Hingga kelas berakhir tak satu pun ditemukan pendapat yang sesuai untuk mendefinisikan "seni". Ingatkah kau dengan pornografi dan pornoaksi yang merupakan salah satu dari bentuk "seni"? Lantas, apakah yang dimaksud dengan sebuah kata "seni"?

Semua yang aku berikan di atas adalah sebuah mukadimah saja. Dalam bagian lima ini, aku hendak sedikit memberitahukan sedikit tentang sifat intikali. Maka jika kau ditanya tentang intikali; "apa itu intikali?"; maka jawablah intikali itu adalah sebuah kata yang tak dapat didefinisikan, namun dapat dirasakan, seperti halnya "cinta" dan "seni" yang baru saja aku bahas tadi. Itu pun hanya contoh kecil dari sekian banyak kata di dunia ini yang memiliki sifat seperti intikali. Jadi, janganlah kau berusaha untuk mendefinisikan intikali, karena kau hanya sia-sia jika tetap bersikeras untuk melakukannya.


Bagian Enam


Aku terdiam di depan komputerku sambil mengetik kalimat-kalimat yang terus mengalir dalam otakku. Suara berisik dari sebuah software Winamp 5.52 terus mengoyak otakku untuk terus produktif berintuisi. Lagu-lagu ter-update terputar berkali-kali. Tak diacuhkan suara angin yang menerpa seng dan asbes. Bersendiri di kamar atas seakan nikmat, mengetik lirik-lirik intikali yang mendayu-dayu. Memaksa otak untuk mengekspresikan semua yang dirasakan oleh hatiku. Terdiam sebentar. Lalu mulai mengetik lagi meski aku masih belajar untuk bisa mengetik dengan sepuluh jari.

Aku keluar sebentar lalu melepas jenuh. Melihat langit yang di penuhi awan komulus. Aku teringat kepadanya -kekasih yang hingga kini tetap aku cintai-. Lalu aku kembali duduk di depan 13xy. Kembali menulis karyaku. Aku ingin sekali meluapkan perasaanku. Terakhir kali aku ke warnet, aku melihat foto di Friendsternya, aku suka sekali fotonya yang berpose, menaruh janggutnya pada kedua tangannya yang dilipat. Dia terlihat begitu berselonis di mataku. Sejenak ku membayangkannya, ketika ia begitu cantik nan lugu ketika rambutnya dikepang satu dan memakai baju warna kuning, saat itu, saat dia masih umur hampir dua belas tahun.

Seraya dalam otakku terpatri sebuah kata "Masa Lalu Begitu Gelap, Masa Depan Begitu Silau, Lalu Intikali Mendistorsi Keduanya dalam Sekarang". Entah apa yang ku ucap, aku tak tahu. Aku tak peduli. Anganku melayang bersama sedikit rasa kantukku yang mulai menghampiriku perlahan-lahan. Bosan sekali jika harus mengetik seperti ini, aku hanya ingin mengalir cepat dalam otakku, namun aku juga tak mau semua hilang begitu saja tanpa jejak. Sayang sekali untuk sebuah karya yang cukup mengagumkan bagiku dan beberapa yang kagum padanya. Ini aku buat begitu berbeda dari karyaku sebelumnya, ini lebih masuk dalam otakku, kau pun ikut aliran pikirku, tersedot dalam badai otak yang aku buat.

Lebih baik kau tidur saja, tinggalkan bacaan ini jika dalam otakmu kau mulai merasa pening. Lebih baik kau hiasi mimpimu dengan imajinasimu. Jangan kau hiraukan kalimat-kalimatku yang seperti ini, atau kau akan membawanya dalam sebuah mimpi meski kau tak pernah bertemu langsung denganku. Dan ini adalah syairku selanjutnya,



Senandung Intikali

Aku datang dengan seribu kata di dada
Menerpa segala asa dalam hawa
Membunuh seribu bahasa dengan rasa
Mencampur seni dengan cinta

Seorang cinta jadi tumbal
Dengan seribu rayuan gombal
Hingga semua menganggap hilang akal
Hingga hendak dicekal

Inikah senandung intikali
Intuisi tiada henti
Ekspresi, imajinasi tanpa arti
John Terro yang pegang kendali

Dunia hancur
Sedangkan aku masih bau kencur
Maka apa arti bunga tertabur
Jika selamanya tertidur

John Terro bersama intikalinya dalam kamar
Meski hatinya telah hambar
Tiada rasa yang tersebar
Karena kekasih tak kasih kabar

Inikah senandung intikali
Yang katanya merusak hati
Yang katanya sesat sekali
Namun, terasa enak dinikmati

Senandung intikali
Senandung intikali
Hati-hati ditangkap polisi
Karena kau bagian dari intikali

Hi hi hi, tertawa geli
Melihatnya lagi
Menulis bait-bait intikali
Dalam kamar John Terro menyendiri



Jangan pernah kau serius untuk memikirkannya, nikmati saja kata demi kata dalam setiap bait-baitku. Aku, John Terro, memberikan sedikit intuisi. Aku ingin kau berintuisi melebihiku.


Bagian Tujuh


Entah, aku tak tahu lagi. Apa yang harus aku lakukan dengan diriku. Aku tak bisa menghentikan diriku untuk melukis wajahnya. Meski tak seratus persen persis. Aku potret lukisanku itu lalu aku masukkan ke PC untuk aku edit. Setelah itu, aku upload karyaku itu di Friendster. Banyak karya-karyaku yang menyimbolkan dirinya. Seandainya dia mengetahuinya. Lalu aku buat sebuah kata dari Weyeze Dalwerig tentang ini semua, "D'enta Kideyona" -artinya: Andai dia mengetahuinya-. Inikah cinta? Cinta butuh pengakuan. Cinta butuh cinta orang yang dicintai. Atau tak hanya cintanya saja, namun semuanya. Aku sangat menentang perkataan "cinta itu tak harus memiliki". Aku benci kalimat itu, betapa tidak. Tiadalah cinta berarti tanpa cinta orang yang dicintai. Apalah arti sebuah cinta, apalah arti sebuah pengakuan cinta, sedang yang diharapkan adalah bagaimana yang dicintai mencintai cinta, bukanlah cinta yang mencintai yang dicintai? Ku teringat sebuah syair kuno, "Semua orang boleh mengaku mencintai Laila, namun Laila hanya mencintai kekasihnya.

Cinta butuh pengorbanan. Cinta butuh kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai oleh orang yang dicinta. Aku menulis sebuah bait-bait tentang hal itu.


Cinta
katakan pada cinta!
Cinta itu ...
Mencintai apa-apa yang dicintai oleh yang dicinta,
dan katakan pada cinta!
Cinta itu ...
Membenci apa-apa yang dibenci oleh yang dicinta,
Wahai Cinta!
Adakah kau cinta apa yang kucinta?
Tiadalah cinta kecuali dengan mencinta, karena cinta mutlak harus mencinta, dan tiadalah cinta kecuali dibangun di atas cinta pula, cinta yang lebih sempurna tentunya.

Ah semakin sendu saja aku malam ini. Jam sembilan lebih lima puluh sembilan malam, hari ini hari Rabu, hari ke dua puluh dua dari bulan Oktober kelahiranku, dari tahun pertama keintikalianku. Seraya lagu mendayu, mata sayupku tertata rapi di bulatan otakku. Layar PC yang semakin terlihat buram, menandakan aku telah ingin berpetualang di pulau kapuk. Biasanya aku tak sengantuk ini. Aku biasa tidur jam dua belas. Jelas saja tiada yang melarangku. Aku tak sekolah lagi. Aku juga tak kuliah. Lalu, apa yang aku takutkan. Aku bangun untuk sholat Shubuh lalu tidur lagi menggenapkan kekurangan kemarin yang belum aku penuhi hak tubuhku.

Terbangun sebuah lamunan dari dalam otakku. Merajut sebuah dalih; mendalihkan sebuah hal. Apa yang dapat aku berikan untukmu. Tak satu pun aku mempunyai sesuatu untuk diberikan. Aku tak punya apa-apa, bahkan diriku ini adalah pinjaman; setiap saat harus siap untuk diminta kembali oleh yang mempunyainya. Tak pula aku seorang yang pandai bersilat lidah. Tak lihai pula diriku membuat kata yang indah. Tak mahir pula aku menaklukkan hatimu. Lantas, apa yang aku bisa. Aku seraya melempar sebuah imajinasi yang jauh dari tempatku bertelekan. Inikah sebuah imajinasi. Melambung jauh dan aku takut untuk jatuh, karena sakit rasanya jika terlalu tinggi.

Masihkah ku menanti hal yang kosong. Nol lebih baik daripada kosong. Nol masih punya tempat pada deret bilangan bulat. Sedangkan kosong hanya menjadi anggota dari sebuah himpunan dengan kealpaan saja di dalamnya. Bagaimana mungkin seseorang hendak memberikan sesuatu, sedangkan orang tersebut tak mempunyai apa pun untuk diberikan. Bagaimana dengan orang yang memberikan ketiadaannya, sedangkan ia hanya mempunyai ketiadaan saja untuk diberikan. Lantas apakah ketiadaan masihkah dikatakan tak mempunyai apa-apa? Ataukah kau mengingkari bahwa ketiadaan pada hakikatnya masih mempunyai sesuatu, meski itu adalah ketiadaan itu sendiri. Tak terasa otakku terpelintir oleh imajinasiku sendiri. Maka inikah yang dinamakan 'hakikat'?

Ataukah? Ataukah? Ataukah? Semua spekulasi berputar dengan tanpa terarah. Melewati jalan kecil dalam sekian mikro sel di otak 'kopyor'-ku. Pernahkah kau berpikir tentang sebuah 'ketiadaan'? Pernahkah kau berpikir apakah 'ketiadaan' mempunyai awal dan akhir? Aku pernah membaca tentang seorang yang mengatakan bahwa 'ketiadaan' tak mempunyai awal dan akhir. 'Ketiadaan' pastilah mempunyai awal dan akhir. Awalnya adalah ketika 'ketiadaan' itu tiada, dan muncullah 'keadaan'. Akhirnya pun sama, 'ketiadaan' itu tiada ketika 'keadaan' muncul. Ataukah kau berpikir untuk membolak-balikkan perkataan? Inilah tempatnya. Sebuah argumentasi tak 'kan pernah habis ketika semua yang kita bicarakan bersifat global. Setiap hal mempunyai pengecualian. Maka dari itu, semua perlu rincian; dalam konteks apa kita berbicara. Begitu juga intikali. Intikali itu menyesuaikan konteks, dan intikali tak 'kan pernah memiliki etimologi bahasa, kecuali hanya untuk mempermudah atau menisbatkannya pada sesuatu hal saja.


Bagian Delapan


Semilir angin mengalir di kamarku. Awan di luar sana sedang membayangi, seakan hendak menangis. Atau mungkin tak pernah terpikir olehku, mengapa ketika suasana seperti ini aku selalu merasa merindukannya. Atau mungkin saat itu ... Atau mungkin jika saja saat itu ... Dan aku ... dengannya. Atau mungkin hal itu tak pernah terjadi saja sebaiknya. Pertemuan dengannya seakan sebuah virus yang meracuni hingga sekian tahun; atau mungkin hingga kini tak 'kan mungkin pernah hilang.

Ini sebuah pertanyaan yang selalu kaum hawa menanyakannya. "Apa yang harus aku lakukan, saat aku benar-benar mengharapkan seseorang, tapi orang tersebut tak pernah peduli, bahkan tak pernah menganggap diriku ada?" Tentu saja, pertanyaan ini timbul dari otak hawa. Tak 'kan mungkin ini muncul dari otak seorang adam, meski aku mendapatkannya dari seorang adam, namun aku dapat mengidentifikasi pertanyaan ini bersumber dari seorang hawa.

Entah apa yang ada dalam otak kaum hawa. Freud pun tak mengerti tentang seluk beluk perempuan. Pernah ku tanyakan kepada seorang hawa tentang "apa yang diinginkan oleh seorang hawa". Dia menjawab, "Perempuan hanya ingin dimengerti." Heh, jawaban yang global sekali. Entah, aku tak pernah membayangkan apa yang dia katakan, "Perempuan hanya ingin dimengerti", maksudnya apa? Ingin dimengerti dengan cara apa? "Dimengerti", kata yang multitafsir, sedangkan aku tak tahu bagaimana caranya agar kaum hawa merasa dimengerti. Tak semua hal semudah pengucapannya. Entah ...

Aku hanya sedikit tahu saja tentang seluk beluk seorang hawa. Tak banyak yang bisa ku tebak, namun seakan aku tahu semua dengan memprediksi apa yang dia lakukan dengan beberapa hipotesis yang ada di otakku. Perempuan mudah sekali dibohongi, padahal perempuan amat tidak suka dibohongi. Dan aku berusaha tak mau untuk berbohong meski dengan dalih untuk kebaikan. Namun, seringkali ketika aku menunjukkan sebuah kejujuran, kaum hawa menganggapnya kebohongan. Biarlah mereka menganggap itu sebuah kebohongan, meski sebenarnya itu adalah sebuah kejujuran. Biarlah dalam selaput otak mereka berisi dengan syubhat-syubhat hipotesis mereka. Biarkan mereka tergelepar mati rasa oleh setiap bait-bait intikali yang ledakkan dari otakku.

Apa yang kaum hawa pikirkan dengan sebuah perkatan yang penuh kesesatan. Mereka menganggapnya itu sesuatu yang indah. Padahal, aku menganggapnya adalah sesuatu yang begitui mengganggu dalam otakku, hingga ku keluarkan dengan deras, agar tak terjadi pembekuan otak karena banyaknya intuisi yang terus mengalir tiap sepersekian detiknya. Bagaimana jika tak dikeluarkan, jelas begitu mengganggu, dan terkadang bisa terjadi ledakan karena tekanan yang begitu besar dalam ruang kecil ini.

Aku sangat menghormati kaum hawa. Aku tak ingin menghinakannya, walau sedikit pun. Meski terkadang seorang hawa marah ketika aku menjaga kehormatan kita. Entah apa yang ia pikirkan dalam otaknya. Aku tahu, itu disebabkan karena ketiadaan ilmu atau mungkin hawa nafsu yang begitu pekat dalam hatinya. Contohnya saja, ketika aku tak mau menatap matanya ketika sedang berbincang dengannya. Ia sedikit tak setuju dengan caraku, meski ia tak langsung mengutarakan rasa ketidaksetujuannya padaku. Aku tahu itu dari kata temanku yang menyampaikannya padaku. Jelas saja ia tak berani menyampaikannya padaku secara langsung. Mungkin karena ia sungkan atau aku takut marah padanya dan tak mau berbincang lagi dengannya. Atau mungkin saja ia takut aku jelaskan tentang kenyataan tentang sebuah kebenaran yang telah lama redup ternodai oleh ulah beberapa kelompok.

Seandainya saja, ada seorang hawa yang berani secara langsung menanyakan hal itu padaku, aku akan menjelaskannya secara gamblang. Apabila ia masih tak sepakat, aku akan membuat replika atau mungkin aku harus menjelaskannya dengan caraku sendiri. Apakah ketika kita berbincang dengan seseorang, apa yang lebih dominan, audio ataukah visual. Orang yang sedang bicara, lebih sopan didengarkan saja atau hanya dilihat saja tanpa mendengarkan apa yag ia katakan? Engkau lebih tahu jawabannya dariku. Tentu saja didengarkan. Apa kau ingin berdebat? Mungkin dalam otakmu, "Tapi lebih sopan juga dilihat orang yang berbicara, biar tak seperti mendengarkan radio." OK, begini. Aku melihatmu dengan tak berkedip, mulai dari ujung atasmu sampai ujung bawah. Bagaimana dengan caraku ini? Pasti kau tak merasa enak ketika aku melihatmu dengan cara ini, karena ini adalah sebuah pelecehan. Atau mungkin kau menganggap ini adalah sesuatu yang biasa? Kau sendiri yang dapat menentukan, wahai kaum hawa. Kau sendiri pun yang menentukan nantinya, kau pantas dihormati atau pantas dilecehkan.


Bagian Sembilan


Entah apa yang ku pikirkan. Sekali pun seingatku, aku tak pernah mendengar dirinya menyebut namaku di hadapanku. Entah mengapa? Aku tak tahu. Tak satu pun jawaban untuk pertanyaan tersebut ada dalam otakku, kecuali hanya sekedar hipotesis-hipotesis semu saja. Mungkinkah ia tak sanggup untuk mengucap namaku ketika di depanku seperti ku tak sanggup pula menyebut namanya di depannya, malahan aku lebih parah dari dia. Aku tak sanggup menyebut namanya di depannya, orang lain, maupun pada hatiku. Karena ketika ku menyebut namanya di depan orang lain, seakan namanya menyebar dalam otakku berosmosis dengan intikali yang bercokol di sana. Apalagi menyebut namanya di depannya, uhh ... seakan-seakan otak ini mau meledak saja, seperti halnya natrium padat yang terkena tetesan air. Mungkin aku hanya mampu menyebut namanya dalam hatiku saja. Aku saja jarang sekali menulis namanya dalam karya-karyaku, bahkan dalam novelet ini.

Asal kau tahu saja, 13xy adalah wasilah untuk menghalangi terjadinya ledakan dalam otakku karena menyebut namanya. 13xy (baca: tiga belas ex ye) jangan kau baca dengan pelafalan "lexy", karena itu sungguh menyiksa diriku. Semua ini seakan seperti candu. Meracuni sebagian otak dan hatiku. Menggerogoti pelan-pelan, tapi pasti.

Pernah terpikir dalam otakku. Boleh saja aku kehilangan semuanya, bahkan diriku sendiri. Namun, aku tak dapat membayangkan ketika aku kehilangan dirinya. Mungkin aku akan hancur, meski tak terlihat secara lahir. Coba bayangkan! Aku bertemu dengannya, seakan semua telah digariskan. Kami tak pernah satu sekolah, bahkan tak pernah satu kuliah. Tapi ...

Lupakan saja! Aku teringat dengan sebuah cerita. Cerita tentang serigala yang menginginkan buah anggur. Serigala tersebut seakan-seakan melihat buah anggur itu manis sekali rasanya. Serigala itu melompat, namun tak ia dapatkan buah anggur tersebut. Kemudian, serigala itu melompat untuk kedua kalinya, namun sama saja, serigala itu tak berhasil mendapatkannya juga. Kemudian, ia mengambil ancang-ancang dengan jarak yang menurutnya cocok untuk bisa mendapatkan buah anggur tersebut. Namun, pada yang ketiga kalinya ini, serigala itu tetap gagal. Tak dihiraukan buah anggur tersebut olehnya. Serigala itu berpaling, sembari berkata, "Ah ... paling-paling buah anggur itu kecut rasanya."

Dari cerita di atas kita dapat mengambil sebuah pelajaran tentang tabiat manusia. Ketika manusia gagal mendapatkan keinginan, ia malah mencaci lainnya. Ia tak mau menyalahkan dirinya sendiri, atau malahan ia sekali-sekali tak mau dicaci karena sebuah kegagalan yang menimpa dirinya, meskipun kegagalan itu sendiri dikarenakan dirinya.

Beralih ke bagian otakku lainnya ... Banyak terjadi cerita klasik yang seakan-seakan terjadi pada banyak orang dan mungkin berulang-ulang setiap dekade. Ini mengingat kisahku dengannya ... Ternyata sama ceritanya dengan temanku, atau gampangnya hampir sama. Padaku, terjadi ketika aku masih berumur dua belas tahun, namun pada temanku ini terjadi ketika dia berusia sekitar enam belas tahun. Kisah hidup tentang dua penguasa yang bersaing, namun keduanya terikat rasa -aku tak perlu mengungkapnya terlalu jauh, karena telah terungkap pada noveletku sebelumnya, tentang cerita seorang anak ketika di masa kecilnya dan dilanjutkan dengan akhir kematian kekasihnya-. Aku menganggapnya itu adalah cerita klasik yang terulang berkali-kali dalam bergulatan dunia anak Adam.


Melihatmu ...
tak sekali-kali membuatku merasa bosan
betapa tidak!
bertemu sekian detik,
berpisah sekian tahun

Entah ...
Entah ...
Entah ...

Aku merindukanmu
meski kau tak di sampingku
meski kau tak pernah di sampingku
meski kau tak 'kan pernah di sampingku
penat!!!

Inikah cinta?
yang intikali terlahir karenanya
yang aku jadi korbannya
yang meracuni sekian banyak pecinta
atau yang mungkin juga bukan pecinta

...


Dalam bait-baitku lainnya, ku tulis ...


Mungkin ...

kau tak 'kan pernah percaya
hanyalah kau yang kucinta
hanyalah kau yang kupuja
dalam hati hanya seorang jua

kau tak 'kan pernah menduga
sendiri ku karenanya
menunggumu menyadarinya
lalu dalam peluk hampa kau kurasa

menempuh waktu demi satu
menempuh satu demi dirimu
dan dirimu adalah setengah jiwaku
yang terpisah selalu

mungkin
jika dan hanya jika mungkin
maka hendaknya ku yakin
bagai cahaya lilin

biarlah ku terbakar
asal kau tak tergelepar
entah inikah cinta hambar
tak satupun bisa tergambar

dengan apa pula
ku dapat meraba
sekali saja bersua
berpisah untuk selamanya

inikah cinta
dengan rasa menggila
semakin dekat, ku meronta
semakin jauh, jauh pula ini nyawa

bagai tertusuk seribu jarum
namun rasa melambung kagum
apalagi ketika kau tersenyum
lalu diriku kau cium

inikah, inikah
lebih enak nikah
daripada banyak tingkah
malah jadi susah

(johnterro; malamsebelumhujan; 1 November 2008, Sabtu, 22.50)

Otakku buntu ...


Bagian Sepuluh


Aku datang ke sini tak untuk membawa cinta untukmu. Namun, aku datang ke sini hanya untuk meminta cintamu untukku. Apalah arti cintaku, tak berarti sedikit pun bagiku. Percumalah aku mencinta dirimu dengan seribu cinta yang besarnya melebihi alam ini. Hanyalah cintamu yang ku butuhkan, meski pun cintamu itu sebesar biji sawi. Tak pernahkah kau mencintaiku? Walau sehari pun? Walau sejam pun? Walau semenit pun? Walau sedetik pun? Atau walau seper seribu detik pun? Jika tak pernah, pernahkah kau sempat untuk berpikir mencintaiku walau seberkas lamunanmu? Jika itu tak pernah, pernahkah kau berpikir untuk memperhatikanku, melihatku, menyapaku dengan hati yang sedikit sekali tertaburi rasa kagum padaku, meski kau tak tahu siapa aku, bagaimana aku, untuk apa aku kau sapa? Jika itu tak ada sekalipun dalam hatimu, maka percumalah aku mencintaimu, percumalah aku bertahan hidup. "Diete Jinde Diete Ego".

Ataukah aku harus mencinta seperti Romeo atau yang lebih dari itu untuk meminta cintamu untukku. Ataukah aku hanyalah termasuk orang yang sia-sia yang datang di hadapanmu dengan seribu asa, namun putus asa. Entah apa yang aku harus lakukan setelah kau tak memberikan ruang untukku di hatimu walau sesempit-sempitnya. Entah mengapa ku tercipta untuk mencintaimu, namun tak mendapatkan cintamu. Apalah arti diriku ini? Aku hanyalah lelaki yang berdiri di sini untuk cinta, tak untuk yang lain. Meski pun air mata telah membanjiri pelupukku, namun kau hanya diam membisu. Sunyi senyap. Tak satu kata pun kau ucapkan. Tak satu ekspresipun timbul di parasmu. Aku hanya terus berdiri kaku,memandangmu dengan keadaan yang melas. Siapakah aku? Aku tak ingat lagi namaku, nama keluargaku, atau nama-nama dari semua nama yang ada, kecuali ... dirimu. Lalu aku melantunkan sebuah bait dalam lantunan sedih itu ...

Jika datang saatnya nanti
Sampaikanlah pada 13xy
Pecintanya telah pergi
Ditelan perut bumi

Usai sudahlah percintaanku ini. Seperti halnya bunga mawar yang gugur. Untuk bunga mawar yang baru, yang lama harus sirna. Begitu pulalah cintaku dan diriku. Sirna. "Semua orang boleh mengaku mencintai Laila, namun Laila hanya mencintai kekasihnya".


...


Berapa lama kau menyimpannya? Maaf, aku tak sadar. Bukannya ku tak sadar, aku sadar, namun aku haruslah lebih sadar dan sabar. Siapa aku? Siapa kamu? Meski ku mencintaimu, tak berarti aku tak boleh menentangmu. Aku adalah seorang intikalis-prinsipalis. Tak boleh begini dan tak boleh begitu. Ya ... memang aku begitu menyebalkan kelihatannya, namun ... tak begitu keadaannya. Bagaimana mungkin aku mendustai kebenaran yang jelas-jelas benderang di depan mataku, yang jelas-jelas begitu berat bagiku. Memegang kebenaran seperti memegang bara api. Panas, namun apabila kau lepaskan kau akan gelap gulita. Aku tak mau buta.

Kebenaran itu tak perlu pembenaran untuk dibenarkan. Kebenaran itu nyata. Kebenaran itu seperti mentari yang terang benderang. Namun, bagaimana dengan orang yang tak mengetahui kebenaran, bahkan mendustakannya. Perumpamaan mereka seperti orang yang buta. Bagaimana benderangnya mentari, mereka tak akan pernah bisa melihatnya, karena mereka benar-benar dalam kegelapgulitaan yang berlapis seperti berlapisnya malam.

Apa yang dapat dinikmati dalam sebuah kebutaan? Apakah kegulitaannya? Apakah mengira-ngira itu nikmat? Tak didapatkan kecuali hanya kepalsuan-kepalsuan yang disebabkan karena hipotesis-hipotesis tanpa pembuktian. Bagaimana otak dapat mengkiaskan apa yang ia dapatkan, sedangkan ia tak pernah melihatnya. Cobalah engkau tanyakan kepada seorang yang buta, bagaimanakah warna biru itu? Bagaimanakah indahnya langit yang biru, coba jelaskan! Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan jika ia sendiri pun tak pernah sekali pun melihatnya.

Entah apa yang ia pikirkan, sehingga ia berani sekali menjustifikasi pendapatnya benar, sedangkan tak satu pun dalil ada pada dirinya. Aneh. Bangga dengan kebodohan yang ada dirinya. Tepatnya, bangga dengan kebodohan yang berusaha ia tutup-tutupi dari orang lain tentang dirinya. Meski terkadang ia mengakui kebodohannya. Hahahaha ... Aku tertawa menertawainya.

Pucat pasi wajahnya. KU melihatnya mendung di malam hari di sekujur pipinya. Entah apa yang ia pikirkan. Aku tak tahu. Pastinya, aku tak ingin tahu. Entah berapa otak yang aku ubah mainsetnya. Satu, dua, atau tiga, atau mungkin lebih dari itu ... Inikah intikali? Intuisi yang mengikat, lalu membawanya mengikuti aliran kencang dari arus sebuah badai otak yang ku buat. Nikmat, tapi membuat sekarat. Bukankah begitu? Mungkin pula kau menanyakan banyak pertanyaan yang mau kau ajukan. Mungkin pula seribu pertanyaan. Bacaan apa ini? Tak satu pun kau tahu ... Bagaimana kau mengalir terbawa alunan keintikalianku. Dari satu tempat ke tempat lain, dari satu bab pindah ke bab yang lain, tanpa benang merah yang dapat kau tarik. Maaf, jika karyaku ini terlalu membingungkan untukmu. Ini adalah karya yang aku buat langsung mendeskripsikan apa yang aku rasakan saat membuatnya dan kau seakan-akan menjadi aku. Namun, tak mudah untuk menjadi aku.


Bagian Sebelas


Nostalgila. Sepertinya itu yang tepat untuk digunakan. Karena mengingat masa lalu membuat kita sedikit jadi gila mengingat kegilaan yang kita lakukan di masa lalu. Ingin ku tertawa, namun aku kagum akan sebuah masa lalu yang menurutku cukup indah untuk dikenang kembali. Masa kecil begitu indah, tanpa ada rasa stress sedikit pun yang masuk dalam otakku. Tak ada satu beban dalam otakku saat, kecuali sedikit saja. Emm... jelas saja semua pelajaran aku babat habis. Juara I setiap caturwulan seakan menjadi sebuah keniscayaan. Pikiran masih fresh, no polutant! Hehehe ... Tak seperti sekarang yang sedikit kacau balau seiring berumurnya aku. Entah apa yang ku pikirkan saat itu ... Aku ingin hatiku dibekukan agar aku tak mencintai 13xy, tapi tetap saja tak bisa. Dulu ... tak ada istilah "tembak-menembak", maklum, jaman masih belum kacau seperti saat ini. Bagaimana tidak aku mengatakan kacau ... Menurut Penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak, kira-kira enam puluh tujuh koma dua persen -emm... cukup besar nilainya- anak perempuan seumuran SMP sudah tidak virgin lagi ... Ngehehek ... tak sampai oatkku membayangkan hal itu ... Aku saja kaget ketika mendengar hasil itu ... Gila-gilaan! Mau jadi apa Indonesia?

Entah ... Aku tak mau membahasnya di sini. Perlu banyak space untuk menjelaskan itu semua. Pikir saja sendiri apa penyebabnya. Yang jelas, cinta palsu -atau yang tepatnya bualan palsu ketika pacaran atau yang menyebabkan seorang pacaran- itu juga berpartisipasi dalam mencetak rekor yang cukup mencengangkan itu.

Zaenteinhe begdo tefed tiorans gamweri ... ega 'gen menhemfeigen zamoe hans ega leze ti yediga fete tie, zief reki? Gereo wugen gageziyga, 13xy ... Zamuke tie deyo efe hans galeze zen gafaldeyengen yinkke zeed ini ... (Andai kau tahu apa yang aku sampaikan ini dengan pelafalan Weyeze Dalwerig).

13xy ... ega zansed manjindeimo, monkgin yinkke egyir yitofga ... ega udelegen ... mazgi gea d'falney deyo ...



Bagian Dua Belas


Apa pendapatmu jika aku mencintaimu, tapi ...
Aku tak perlu jawabanmu sekarang ...
Hehehe ...









Bagian Tiga Belas


Pejam

Ku terpejam
lalu semua berubah hijau
kelam tercampur seram
menerka terka galau

terbuai alunan kesepian
menitih, merintih
lalu aku datang
menagih janji

manakah kabarnya yang dulu ada
kini semua telah tiada
meski tak semua
namun, sama saja

ke manakah dikau
ku raba, alpa
menangislah di pojok sana
risau menyebar bak racun udara

menangkis, teriris
melawan, tertawan
memberontak, luluh lantak

lantas apa guna tangan
jika tak ada pun sama saja
lantas apa guna lisan
jika terus bersedu sedan
lantas apa guna hati
jika teracuni intikali

inikah rasa
rasa tak terasa
hambar berbisa
dekatpun malah binasa
lamapun semakin nista


/itu syair untukmu ...
aku menyelesaikan karyaku ini dengan tiga belas bagian saja, kurasa itu sudah cukup ...
tak perlu kau tanyakan, mengapa aku suka angka tiga belas ... it's classified information!


/meski ku berusaha dengan sekuat apa pun menjelaskan tentang arti/makna sebuah intikali, sekali-kali kau tak 'kan pernah tahu ... karena intikali itu 'aku'.




2:22 PM 11/11/2008


-SELESAI-

24 komentar:

  1. ehm...baru samapi bagian dua (keburu mesti pulang). nanti saya baca lagi. moga aja sang admin ga berubah pikiran dan menghapus post ini, hehehe

    BalasHapus
  2. ga bakal aku hapus lah :P

    BalasHapus
  3. Aku harap bukan hanya 'jika'.
    Kamu mencintaiku, itu keajaiban. Yang ku tahu cintamu begitu dalam terhadapnya. Tak hanya ku baca yang sekian itu, namun ku rasakan ...

    BalasHapus
  4. wah ... benarkah kamu merasakannya juga?

    BalasHapus
  5. bacanya ntar aja ah, panjang banget seeh. save dulu, ntar baca di hape. hehehe. kayaknya seru, pengalmaan pribadikah?

    BalasHapus
  6. silakan disave :D
    itu hanya curahan saja :)

    BalasHapus
  7. panjang banget, bukmark dulu deh nanti baru ;anjut baca lagi :D

    BalasHapus
  8. hebat hebat hebat . ..
    panjang banget, berapa malem nulis ini semua??
    hehehe

    BalasHapus
  9. panjang amat dah.... mustinya ini dibikin 5 postingan. ehehehe *saran terselubung

    badewe, follback yah! :D

    BalasHapus
  10. subhanallah.... panjang sekali, maaf karena aku tidak sempat untuk membaca semuanya..

    salam hangat dari blogger
    UMY

    BalasHapus
  11. uhuhuhu, panjangnya postingan ini.. -__-'
    ada sinopsisnya nggak? ato di buatin buletin aja deh,hihihi..
    *baru sempat baca paragraf pertama*

    BalasHapus
  12. fyuuuhh... begitu ya. apakah komentar untuk postingan yang satu ini dibutuhkan? heheheh..

    ehm... untuk yang soal2 cinta saya ga ma berkomentar. tapi kalau yang soal ketiadaan itu....saya rasa, ketiadaan itu tidak ada. kalau ketiadaan itu ada maka otomatis ketiadaan itu tidak ada. Hanya jika ketiadaan itu tidak ada, maka ketiadaan itu ada.

    BalasHapus
  13. oh ya, saya punya mantra; kayanya nyambung. saya terjemahkan ke bahasa Indonesia aja dah:

    "Pergilah asap, keluarlah asap.. temukan ia, budak Tuhan di ladang terbuka, buka kemeja putihnya, masuklah ke dalam dadanya, cabik-cabik tulang rusuknya, mengalirlah bersama darahnya yang panas, masuklah ke dalam hatinya, genggam jantungnya, tanamkan cinta yang perih, luka yang tak terobati, rindu yang tak tertahankan,"


    *resiko tanggung sendiri

    BalasHapus
  14. berapa hari kamu bikinnya John?.. ckckck.. salut deh, telaten bikin bagian perbagian.. kenapa nggak coba dibikin jadi novel aja?. saya dukung!!

    BalasHapus
  15. Tak rasani di blogku lho John, heheheh...

    BalasHapus
  16. @Ami: mana linknya, aku tadi cari2 ga ketemu mbak :P

    @Gaphe: itu bikinnya dulu hampir sebulan

    @Huda Tula: haha ... sedikit membingungkan memang

    @Koskaki-apalah: ga ada bro :P

    @choirul: sama2

    @Kartini-apalah: sama2

    @yeni: hampir 29 malem

    @rahad2six: silakan

    BalasHapus
  17. puaaaaaaanjaaaang...
    jd bingung mau nulis komentar mulai drmn.

    eh emg iya ga prnah satu sekolah?kupikir kamu satu kelas pas SMP?

    BalasHapus
  18. sama kayak eks.. disave dulu aja... tar baca dihape... hehehe

    btw itu pake google translate yah???

    BalasHapus
  19. hadohhh panjangnya john..., sekalian dibikin buku buat diterbitkan..pst laku, ntar aku ikutan beli hehehe,^_^

    BalasHapus
  20. ahahaha sepertinya yg sekelas itu cerita di fiksi kamu :p
    trus?kok bisa?

    oh iya di bagian sepuluh.
    "Jika datang saatnya nanti
    Sampaikanlah pada 13xy
    Pecintanya telah pergi
    Ditelan perut bumi"
    salah ya bila aku mengartikan kamu sudah berhenti?

    BalasHapus
  21. @Noeel-Loebis: google translate? yang mana?
    bahasa yang aku buat sendiri?
    emang ada di google translate?

    @tiwi: haha ... sulit mbak untuk maju ke percetakannya :P

    @YeN: sepertinya masih salah tuh :)

    BalasHapus
  22. gila panjang banget -____-
    gk kuat aku baca smp selesai :P

    BalasHapus
  23. hahah ... apalagi bahasanya sulit dipahami yah :D

    BalasHapus