Persona Intikalia
Tampilkan postingan dengan label intikali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intikali. Tampilkan semua postingan

14 Okt 2025

Ketemu Hal Serba 14

Hari ini, saya ketemu serba angka 14. Ya, sekarang memang tanggal 14. Tadi, di RS dapat antrian BKL-014. Bahkan saldo rekening saya hari ini 14 ribu sekian. Hehe.

Tahun ini adalah 14 tahun domain intikali.org. Setidaknya sudah ada 4 hal yang berangka 14. Apa lagi yah? Hmm, entahlah. Yang jelas, saya makin tua.

Kemarin istri saya tanya, saya umur berapa. Dia lupa kan hitungannya berapa karena sering bercanda masalah umur. Saya bilang sambil bercanda, "kayaknya 40 deh". Ah tidak, saya tidak setua itu. Umur saya masih 19 tahun, beberapa tahun yang lalu. Wkwkwk.

31 Jul 2025

Akhir Juli, Waktunya Berintikali

Sebentar lagi Agustus. Sepertinya memang susah update blog saat ini. Hehe. Sebenarnya ingin sekali update blog lebih sering, lebih terjadwal. Cuma kadang lupa buka dasbor Blogger dan ide-ide tiba-tiba lenyap begitu saja.

Ingin sekali mencoba menulis puisi-puisi saja. Lama tidak menulis puisi.

Akhir Juli, waktunya berintikali. Eh? Ga lah. Itu hanya menyesuaikan rima saja, sama-sama berakhiran li.

Dunia blog mungkin masih ada yang ramai, cuma aku saja ga tahu komunitasnya. Aku yakin masih ada yang blogwalking, meskipun mungkin sangat-sangat sedikit, tidak seperti zaman 2009-2019.

Sejak Corona memang semuanya berubah. Dunia blog pun runtuh. Awalnya karena banyak orang berpindah ke platform video, lalu digempur oleh penggunaan AI dalam mencari informasi. Hanya blog-blog yang menyuguhkan cerita pribadi—yang ga bisa disamain oleh AI—yang bisa bertahan. Salah satunya blog ini. Blog ini belum runtuh, karena isinya cuma curhatan ga jelas. Jadi ya ga terikat oleh harus bisa dimonetasi dan kepentingan lainnya.

5 Jun 2025

14 Tahun Intikali

Sebenarnya lebih dari 14 tahun. Intikali ada sejak 2007, sebelum blog ini dibuat. Blog ini dibuat 2009, sebelum saya kuliah. Tapi, mengapa 14 tahun? Karena domain intikali.org ini aku beli sejak 2011. Kalau dihitung dari 2011 ke 2025, maka sudah 14 tahun. Hmm, ternyata lama juga yah.

Banyak hal yang terjadi selama 14 tahun. Ketemu jodoh, nikah, punya anak, dan anaknya udah gede. Hehe. Ternyata secepat itu waktu berlalu. Kadang serasa masih kemarin saja.

Oh ya, di era serba AI seperti sekarang ini, sepertinya blog udah banyak ditinggalkan. Banyak orang langsung tanya ke AI, tanpa googling lagi. Aku pun juga begitu. Beberapa hal aku langsung tanya ChatGPT, Gemini, atau Meta. Semua sudah berubah.

Aku yakin juga tidak banyak orang yang membaca blog ini lagi. Lah gimana mau baca, wong saya sendiri aja jarang update. Sebulan saja belum tentu ada satu tulisan baru.

24 Jun 2024

Hai, Bulan Juni!

Hai, Bulan Juni! Ini adalah bulan di mana intikali.org hari ini berumur 13 tahun. Ini juga bulan di mana aku bertemu dengan orang yang aku cintai, ya meski ketemunya online dan waktu itu hanya kenal sebatas sesama blogger. Waktu itu juga dia chat dengan nama samaran juga, wkwkwk.

Hai, Bulan Juni! Bulan ini juga adalah bulan di mana aku dibelikan MacBook yang kedua, karena yang pertama dicuri. Hmm, ternyata kalau dipikir-pikir, bulan Juni banyak kejadian ya!

Bulan Juni tahun kemarin (2023) juga adalah pertama kalinya aku keluar dari Indonesia. Terima kasih kepada yang udah kasih bonus jalan-jalan ke Singapura, hehe.

Es roti di Jalan Orchard (SG$ 1.5)

Bulan Juni udah hampir menemui ujungnya. Bagaimana dengan dirimu? Apakah ada yang istimewa juga di bulan Juni?

15 Agu 2022

Masa Lalu, Masa Depan, dan Sekarang

Masa lalu, bukan untuk disedihkan. Dia akan terus berlalu. Tanpa kamu bisa memperbaikinya. Cukup ikhlaskan apa yang tidak kamu dapatkan dari masa lalu.

Masa depan, bukan untuk dicemaskan. Dia memang akan datang. Dia pasti datang. Tapi, kamu tak perlu cemas. Biar kan dia datang dengan caranya, kamu cukup menyambutnya.

Sekarang, nah ini. Kamu harus semangat. Kamu punya kendali masa sekarang. Gunakan dia sebaik mungkin, karena dia akan menjadi masa lalu, sebentar lagi.

Dirimu, ya dirimu. Aku akan menjagamu sebaik mungkin sebisaku. Aku tidak ingin menyesal kelak. Aku tidak ingin di masa depan aku menyalahkan diriku karena tidak semaksimal menjagamu saat ini.

8 Mar 2021

Mana yang Lebih Berfaedah?

Beberapa orang lebih sibuk memahami orang lain. Mereka lupa memahami dirinya sendiri. Padahal, orang lain saja belum tentu memahami dirinya sendiri, apalagi mau dipahami oleh dirimu. Tak 'kan pernah bisa.

Mulailah memahami dirimu sendiri. Karena itu lebih berfaedah.

Biarkan orang lain menganggapmu tidak mau memahami orang lain, karena bahkan yang menganggapmu seperti itu, hakikatnya sama. Dia tidak mau memahami dirimu yang tidak mau memahami orang lain.

Dari sini sudah mumet?

Inilah yang disebut intikali. Mumet. Meskipun sebenarnya tidak, jika kamu sedikit meluangkan waktu untuk memikirkannya.

19 Des 2020

Kenapa Orang Tua Menyuruh Anak Perempuannya Nikah dengan Orang Kaya?

Heran? Ya, aku juga heran.

Beberapa orang tua yang gagal menjadi kaya, sering kali menyuruh anak perempuannya kelak ketika menikah, maka harus menikah dengan cowok yang kaya raya.

Pertanyaannya adalah, lah apa cowok yang kaya itu mau dengan anak perempuan dari keluarga miskin?

Default-nya, TIDAK.

Aku kasih gambarannya gini yah.

Kasus 1

Cewek dari keluarga miskin ini biasanya mempunyai wajah yang biasa-biasa saja. Mau perawatan wajah pun juga ga mungkin. Yang ada hanya mengandalkan kecantikan alami. Berapa kemungkinan cewek dari keluarga miskin yang memiliki kecantikan alami? Jelas kecil kemungkinan. Namun, tetap saja ada.

Jika diadu dengan cewek lain di luaran sana, maka jelas akan kalah. Cowok yang kaya saja (tidak ganteng) ini juga diburu oleh cewek yang setengah kaya atau mungkin yang kaya juga. Dari sini tahu kan siapa yang punya kemungkinan menggaet lebih besar antara cewek miskin dan cewek kaya atau agak kaya.

Bisa sih cewek miskin ini menang dengan catatan dia harus punya kelebihan, semisal: pandai, lebih cantik dari kandidat lain, dan punya perilaku yang baik. Ini bisa jadi pertimbangan buat cowok kaya tadi.

Kasus 2

Katakanlah misal ada cowok kaya yang penampilannya biasa saja. Ceweknya ga tahu kalo sebenernya cowok itu kaya. Ketika si cowok dan cewek udah cocok, otomatis sebagai cowok yang baik-baik datang ke rumah si cewek.

Sialnya, orang tua si cewek kasih respon yang kurang bagus karena menganggap cowok tadi miskin juga. Kalo kamu jadi cowok itu, apa yang kamu lakukan? Nunjukin kekayaanmu biar diakui? Hmm, itu justru tindakan yang salah.

Kalo aku jadi cowok itu, tentu aku langsung putus aja dengan cewek itu. Biarkan orang tua si cewek tidak tahu kalo cowok itu kaya sebenarnya. Biar suatu saat tahu sendiri dan menyesal.

Orang tua cewek model kayak gini ini kurang bagus untuk dijadikan mertua. Ketika bisnis kamu jatuh sejatuh-jatuhnya, kamu akan diusir dan dihinakan. Karena parameter mereka adalah uang dan uang. Ga ada lagi selain itu.

Beberapa hal terjadi seperti kasus 2 ini. Dan itulah mengapa orang miskin susah banget dapetin menantu yang kaya. Karena mindset-nya adalah uang, uang, dan uang. Sedangkan orang kaya, cara berpikirnya tidak seperti itu.

Kasus 3

Mengapa orang tua si cewek menginginkan anaknya menikah dengan cowok kaya adalah karena kegagalan mereka selama ini untuk jadi kaya. Biasanya ini terjadi pada emak-emak. Dia ga bisa menuntut suaminya untuk jadi kaya. Si suami juga ga mampu untuk jadi kaya, bisa jadi karena dia kurang tekun bekerja, bisa juga karena memang atitutnya jelek sehingga bermasalah dalam pekerjaannya.

Karena si emak ini pengen jadi kaya dan dihormati oleh tetangga, akhirnya dia mati-matian pengen punya menantu kaya. Dan sialnya, si bapak juga punya pemikiran gitu. Padahal dia sendiri juga termasuk orang yang gagal kaya hingga umur menua.

Sedangkan, sebagai anak muda, pasti masih punya kesempatan untuk jadi kaya. Bisa jadi sekarang dia lagi berjuang merintis usaha dan tentu saja masih miskin. Sepuluh tahun lagi, siapa yang tahu dia bisa jadi kaya.

Nah, karena obsesi orang tua si cewek ini yang melihat dari awalnya saja, akhirnya dia gagal mendapatkan menantu yang punya potensi kaya.

Penutup

Biasanya yang terjadi di sekitarku adalah benar si cewek dinikahi oleh cowok yang kaya. Hanya saja, ga bertahan lama. Si cowok kaya tersebut meninggalkan cewek tersebut ketika sudah merasa bosan. Mending dicerai, kadang digantung ga jelas. Kasihan kan.

Beberapa cowok yang "kaya" (kadang nyamar kaya doang, ga beneran kaya) punya sifat menilai yang buruk, semua didasarkan oleh uang juga. Ketika dia melihat istrinya yang tidak lagi cantik, dia akan bosan. Dia akan meninggalkannya untuk mencari cewek cantik lainnya. Dia tidak akan merasa bersalah melakukan itu. Karena dia berpikir ini seperti jual beli.

Orang tua si cewek butuh menantu kaya, ya cowoknya kaya. Dia mikir ya dia kayak berhasil beli cewek tadi dengan kekayaannya. Ketika sudah bosan, ya tinggal aja. Menyedihkan? Sangat!

Dan sering kali, burung akan berkumpul dengan sejenisnya. Orang yang mengukur apapun dengan uang, akan ditemukan dengan orang yang punya pemikiran sama. Jadi jangan merasa terzholimi jika itu terjadi pada diri sendiri.

Udah gitu aja tulisan wiken kali ini. Sembari mengisi blog biar ga isinya Sponsored Post semua :D

5 Jan 2020

Sombong dan Kekalahan

Di dunia ini, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari sebuah kesombongan. Di Islam, ini biasanya disebut dengan 'ujub (merasa kagum dengan diri sendiri). Banyak kaum yang tumbang karena kesombongan mereka.


Iblis. Dia adalah makhluk pertama kali yang mempraktikkan kesombongan. Alhasil, dia diusir dari Surga. Dan banyak cerita peperangan yang dimenangkan karena musuh mereka sombong duluan. Karena kesombongan ini, jadi terlena dalam memperhitungkan kekuatan lawan.

Atau paling gampangnya dan jelasnya, kamu lihat temanmu atau orang-orang di sekitarmu yang mereka sombong. Biasanya ga lama, mereka tumbang dari apa yang disombongkan. Misal dia pinter, lalu menyombongkan kepinterannya. Eh pas udah pindah sekolah (misal dari SMP ke SMA), dia ketemu dengan teman yang lebih pinter dari dia. Ujungnya, dia akan stres karena tidak bisa menyombongkan kepinterannya.

Tidak ada manusia di dunia ini yang suka dengan orang yang sombong. Bahkan seandainya orang sombong tadi ketemu orang sombong lainnya, dia juga tidak suka. Padahal sama-sama tukang sombong loh. Unik memang.

Omong-omong, aku nulis ini karena gatel terhadap negara yang sombong dan sok kuasa yang mau mencaplok Laut Natuna dari Indonesia. Kita lihat saja, kapan mereka tumbang karena kesombongannya.

15 Des 2019

Tidak Selamanya Menikah Itu Indah

Menikah adalah ujian.


***

Kemarin, saya akhirnya bisa bertemu dengan teman lama yang susah sekali dihubungi. Saya menanyakan apakah dia masih bekerja di tempat kerja dia sebelumnya. Ternyata dia sudah keluar dan sedikit ada masalah. Gajinya selama 2 bulan ditahan oleh pihak perusahaan.

Sedih mendengarnya. Pasalnya memang perusahaan tempat dia bekerja ini agak bermasalah. Dan senior-seniornya tidak ada yang bertahan lama di sana. Rata-rata berujung gaji bulan terakhir ditahan. Entah apa maunya, sepertinya perusahaan ini memang tidak sehat.

Usut cari usut, dulu perusahaan ini tidak seperti itu. Temanku dapat cerita dari senior yang sudah lama keluar, hal-hal tidak mengenakkan itu terjadi di perusahaan itu sejak istri dari si bos ikutan cawe-cawe urusi administrasi dan penggajian. Bahkan akhirnya pihak yang sebenarnya mengurusi gaji dan tahu hukum memilih keluar karena melihat perusahaan itu terlalu semena-mena pada karyawannya.

Untungnya dulu di tahun 2014 saya sempat ingin masuk di perusahaan itu, namun gagal karena pertimbangan jadwal kerja yang ketika itu tentu saja bentrok dengan jadwal kuliah saya. Saya bersyukur tidak sampai masuk di lubang biawak.

***

Di tahun 2015 lalu, saya pernah membaca curhatan teman blogger saya. Cerita tentang warung langganannya yang mulai ditinggal oleh para langganannya.

Sejak pemilik warung menikah dengan seorang wanita, istrinya mulai ikut cawe-cawe dalam usaha warungnya. Nasi yang biasanya dibuat dari beras yang bagus diganti dengan beras yang kualitasnya di bawah itu. Tentu saja namanya beras kurang bagus, kalau dimasak jadi lembek. Kurang enak dimakan.

Dengan kondisi makanan yang seperti itu tentu saja pelanggannya satu per satu, termasuk teman saya, tidak langganan lagi di warung itu. Sang lelaki pemilik warung tahu akan hal itu, namun dia masih belum bisa berdamai dengan istrinya. Bisa ditebak, warungnya tidak berjualan lagi karena sedikit sekali pembelinya.

***

Dulu, ada seorang ahli bahasa Arab yang dipanggil dengan sebutan Sibawaih. Dia adalah seorang Persia, namun jago berbahasa Arab. Kemampuan tidak diragukan lagi. Bahkan pembantunya pun memiliki gaya bahasa yang tinggi efek sering berinteraksi dengan Sibawaih.

Sibawaih ini saking cintanya kepada bahasa Arab, sampai membuat istrinya cemburu. Dia lebih sering menulis kaidah-kaidah bahasa Arab hingga jadi berjilid-jilid kitab.

Namun, takdir berkata lain. Istri yang cemburu justru membakar kitab-kitab kaidah bahasa Arab Sibawaih. Padahal ini adalah karya maestro dari Sibawaih.

Apa akhirnya? Tentu saja Sibawaih menceraikan istrinya ini. Itu adalah hal yang wajar. Coba kamu bayangkan jika kamu di posisi Sibawaih, kitab yang kamu gubah bertahun-tahun harus hangus di tangan istrimu sendiri. Tidak ada kebaikan mempertahan istri yang seperti ini. Berbahaya.

***

Dari 3 kisah tadi, mungkin lebih jika kamu melihat kisah-kisah di sekitarmu, cukup untuk pertanda bahwa menikah itu ujian.

Selain 3 kisah di atas, saya juga sempat membaca tulisan yang mampir di linimasa Facebook saya. Cerita tentang suami (takut istri) yang memberikan semua gajinya ke istrinya. Dan dia cuma dikasih 10 ribu setiap hari untuk uang bensin. Bahkan kadang harus ngutang ke temannya kalau ada hal mendadak di kantornya. Kan malu-maluin.

Kalau saya digituin, ya mending diajak bertengkar saja. Siapa yang punya duit, kok malah diatur-atur gitu.

Tidak selamanya menikah itu indah. Seringkali kehancuran seorang laki-laki berawal akibat dari istrinya sendiri. Untuk itulah Islam punya solusi ketika seorang laki-laki mendapatkan istri yang "membahayakan" akhiratnya maupun dunianya, yaitu dengan cerai.

Tidak selamanya cerai itu buruk. Bahkan, cerai bisa jadi awal dari sebuah kebaikan, lepas dari sumber keburukan. Cerai memang menyakitkan, tapi bertahan dengan keadaan yang buruk untuk waktu yang lama, jauh lebih menyakitkan.

26 Nov 2019

Kamu Membuat Bingung Dirimu Sendiri

Pernah ga sih, kamu ketemu orang yang suka bingung sendiri? Atau ketemu orang yang suka bikin bingung dirinya sendiri. Jika kamu belum pernah ketemu model manusia seperti itu, bersyukurlah. Setidaknya kamu tidak diajak bingung bersama. Kalo makan bersama sih oke, traktir sekalian. Lah kalo diajak bingung berjama'ah, ya ga mau dong.


Salah satu contoh tipikal orang yang membuat bingung dirinya sendiri adalah orang yang percaya bahwa Alloh ada di mana-mana. Ada lagi tipikal orang yang percaya bahwa Alloh tidak ada di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang. Lah trus Alloh di mana dong? Mbuh! Hehe.

Padahal simpel banget permasalahan ini. Setiap fitrah manusia (yang masih lurus) meyakini bahwa Alloh itu di atas. Ya, di atas langit. Toh kalo mereka berdoa mengapa menengadahkan tangan di atas? Kenapa tidak ke arah lain saja?

Mengapa orang menjadi bingung dengan hal yang sangat mendasar seperti pertanyaan "Alloh di mana" ini? Coba flashback balik 10 tahun atau 20 tahun yang lalu. Apa yang kamu pelajari di pelajaran agama Islam saat SD dulu. Apakah orang tuamu pernah mengajarkan bahwa Alloh itu di atas?

Kebanyakan orang Islam di Indonesia ini memang kurang perhatian dengan pendidikan Islam anaknya. Jadi ya jangan kaget, jika hal yang sangat mendasar seperti ini masih bikin bingung. Dan jangan kanget juga jika ternyata kamu menemui orang Islam yang membenci agama Islam. Ada? Ada dong.

Seperti pepatah Arab, "Orang akan membenci apa yang tidak dia ketahui".

19 Jan 2019

Projek 1000 Puisi, Namun Belum Terealisasi

Dulu, dulu banget. Aku pernah memimpikan untuk membuat projek menulis 1000 puisi. Sayangnya itu hanya tinggal kenangan. Wajar sih, aku kurang serius dalam mengerjakannya. Tak ada pekerjaan yang bisa selesai tanpa keseriusan.

Sepertinya aku mulai tergoda lagi untuk membuat projek 1000 puisi. Namun, agak tidak yakin, karena aku sudah tidak segila dulu. Dulu diam sebentar, sudah ada kata-kata yang lewat lalu jadi puisi. Segila itu memang.

Bahkan saking seringnya dapat ide, aku tulis puisi-puisiku di dalam hapeku. Sayangnya, hapeku tersebut hilang. Maka hilanglah pula puisi-puisiku yang cukup banyak, mungkin masih 20-an. Kenapa ga di-backup? Zaman dulu belum ada Google Sync yah. Jadi backup pun manual ke catatan Notepad di PC yang ujung-ujungnya terhapus karena install ulang. Hehe.

Udah ah gitu aja, kita lihat saja beneran projek ini bisa jalan atau hanya sekedar angan-angan.

30 Mar 2018

Apa yang Terjadi Setelah 5 Tahun Menikah?

Kemarin malam sempat lihat News Feed Facebook istri saya. Nah, yang bikin aku tergelitik adalah ada emak-emak yang nge-screenshot status orang yang sedang cari calon istri. Kriterianya ada 13 biji, kriterianya bagus semua. Letak tergelitiknya adalah di bagian komentarnya. Emak-emak pada sewot dengan yang bikin kriteria. Pake ngomong cowoknya kayak apa sih pake bikin kriteria yang kayak gitu (kriteria yang almost sempurna lah). Ada yang bilang, ga ngaca apa. Dan banyak status sensi lainnya. Aku hanya ngikik saja lihat itu.


Menurutku–ingat menurutku loh yah, bukan menurut orang satu RT–sangat wajar jika seseorang membuat kriteria dalam memilih cewek yang akan dijadikan istrinya. Bahkan kalo bisa muluk-muluk sekalian. Namun, itu pasti tidak mungkin terpenuhi semua kriteria. Tapi harus bikin loh. Jangan sampe kamu ga bikin, trus lihat istri orang lain yang almost sempurna, kamunya jadi ngiler dan berpindah ke lain hati. Ini jangan sampe terjadi.

Sama halnya dengan cewek, cewek juga harus bikin kriteria yang nantinya bakal jadi suaminya. Kalo bisa sedetail-detailnya. Tapi tetap harus ingat, di dunia ini tidak ada yang ideal. Jika ada 1, 2, atau 3 kriteria yang luput, ya dimaklumi. Kan masih nyantol di banyak kriteria yang sudah kamu buat.

Kembali lagi ke 13 kriteria yang di-screenshot tersebut, sebenarnya sangat realistis menemukan cewek yang macam seperti itu, dan itu ada, nyata. Perkara mau sama kamu atau enggak, itu perkara lain yah. Hehe. Untuk menuju ke pemenuhan kriteria tersebut, maka tentu kamu harus memantaskan diri dan berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Bahkan aku sempat ngegombalin istriku malam itu, aku bilang "dari 13 kriteria itu, 90% lebih (12 dari 13) kamu punya loh". Kemudian dia menahan malu tapi kelihatan banget kalo dia lagi ke-GR-an. Haha.

Ya mungkin 13 kriteria itu bagi emak-emak lain adalah probabilitas rendah. Tapi bagiku itu tidak. Sangat-sangat mungkin mendapatkan yang seperti itu. Hanya saja memang agak sedikit susah dan bersabar mencari. Bahkan yang model seperti itu tidak mungkin ditemui di jalanan. Aku yakin itu. Itu hanya akan kamu temui di cewek-cewek yang dipingit. Di zaman ini cari cewek yang dipingit itu susahnya minta ampun loh.

Oke, pembukaannya terlalu panjang yah. Hehe. Di postingan kali ini aku ingin bercerita tentang apa saja yang terjadi setelah 5 tahun menikah. Banyak hal yang terjadi di luar dugaanku dulu waktu masih belum nikah. Haha. Apa saja itu? Berikut ini detailnya.

Masih Saling Sungkan dan Menyimpan Rahasia

Ya mungkin jika baru nikah saling sungkan itu wajar. Apalagi sebelumnya ga pacaran. Pasti sungkan-sungkan lah sama pasangan. Aku pikir setelah pernikahan berjalan lama rasa sungkan dan menyimpan rahasia itu bakal hilang. Ternyata tidak.

Mungkin karena saking takutnya menyakiti pasangan, kita jadi menyepelekan keinginan pribadi dan mendahulukan kebutuhan pasangan terlebih dulu. Sebenarnya ini terjadi padaku sih, sampe akhirnya aku diinterogasi sama istri. Haha. Intinya istriku curiga denganku yang ga punya hobi. Nah loh, hobi aja ga punya. Sebenarnya sih punya. Cuma sering kali aku kesampingkan. Aku lebih sibuk memenuhi kebutuhan anak dan istri sampe lupa sama diri sendiri.

Sampe akhirnya istriku bilang kalo aku ga boleh nyimpen apa yang aku pengenin. Ya mungkin dia selama ini melihatku selalu mengalah. Hehe. Karena udah declare seperti ini, akhirnya aku utarakan semua yang aku inginkan; mulai dari beli ini itu, hingga pengen ini itu, banyak lah. Ya intinya uneg-uneg itu emang harus diutarakan sih sama pasangan. Jangan sampe nantinya jadi bom waktu.

Sedikit konyol sih, aku mengajarkan istriku biar dia ngomongnya ga terbalik (maksudnya bilang ya, tapi artinya tidak), eh malah aku sendiri yang sungkanan. Tapi itu sih kita berdua udah mulai belajar biar terbuka sih. Intinya, kalo saling terbuka kan enak, ga menebak-nebak. Main tebak-tebakan itu capek.

Gombal Tetap Ampuh

Aku pikir, setelah menikah 5 tahun, gombalanku tidak akan mampu membuat istriku tersipu. Ternyata tetap sama. Dia juga tetap tersipu dengan gombalan mautku. Aku juga bingung, ini akunya yang emang jago ngegombal atau emang istriku saja yang lemah. Haha.

Tapi secara alamiah, cewek itu emang suka dipuji dan digombalin. Makanya aku hati-hati banget bikin gombalan di blog lagi. Takutnya ada yang ke-GR-an. Kan gawat tuh! Kalo sakit gigi sih masih ada obatnya. Kalo rindu? Jangan! Rindu itu berat, biar aku saja. Eaaaa, Dilan mode on.

Masih Pengen Pacaran. Anaknya? Dititipin!

Ini sih kebiasaan buruk. Jangan ditiru yah. Kadang aku dan istri emang pengennya jalan cuma berdua aja. Bawa anak di tempat-tempat tertentu itu kadang susah mengkondisikannya. Apalagi anaknya 2 masih unyu-unyu dan potensial bikin ricuh. Hehe.

Untuk beberapa kasus, aku dan istri memang menitipkan anak ke ibuku. Ibuku sih senang-senang saja. Apalagi sekarang aku dan ibuku sudah beda rumah. Jadi sebagai nenek pasti kangen sama cucu-cucunya.

Kadang becanda sama istri kalo lagi jalan di mall, aku bilang ke istri kalo aku dan dia ini banyak orang yang ngira baru nikah. Padahal sudah beranak 3. Bahkan kadang kalo ketemu sama orang yang baru kenal, aku dikiranya belum nikah. Hehe. Ya mungkin karena mukaku yang baby face–semoga pembaca tidak muntah yah.

Sebenarnya sih bukan itu, karena memang aku tidak memakai atribut selayaknya orang yang sudah menikah. Biasanya orang yang sudah nikah pake cincin. Lah diriku? Tidak pake.

Dulu awal-awal sempat meributkan cincin sih, tapi setelah dipikir-pikir lagi, kenapa harus ribet. Ga pake juga gapapa kan. Toh di-declare di awal saja kalo sudah menikah. Jadi pupuslah harapan cewek-cewek buat deketin gue... –kepedean tingkat Kecamatan nih. Haha.

Masih Ketergantungan Sama Pasangan

Ya mungkin ini yang dibilang belahan duren hati. Di awal-awal nikah nih, aku iseng banget selalu ngebiasain istri selalu makan satu piring denganku. Sebenarnya awalnya sih tujuannya biar romantis, tapi tujuan besarnya adalah biar ga kebanyakan cucian piring. Hehe.

Nah, setelah 5 tahun, ternyata istriku masih sama. Dia paling ga bisa makan sendirian. Jadi kalo terpaksa makan sendirian–karena aku lagi di luar rumah–biasanya malah ga bisa ngabisin makanannya. Alhasil ini jadi diet alami buat istriku karena sebulan terakhir ini hampir setengahnya aku di luar rumah sehar-harinya.

Saya Masih Tetap Sama, Perusak Mood

Entah ini bawaan atau apa. Saya dianugerahi kemampuan untuk merusak mood istri saya. Hehe.

Mungkin ini karena kebiasaan model egaliter di rumah tangga saya yah. Jadi kita punya kedudukan yang sama. Saling terbuka. Namun, tetap kedudukanku sebagai suami sedikit lebih tinggi dari istri dalam beberapa hal, seperti pengambilan keputusan.

Karena saling terbuka ini, ya kadang aku main kritik saja padahal posisi istri lagi sedang tidak ingin dikritik. Jadinya dia bad mood, trus ga mau ngelanjutin tulisannya lagi.

Itu masih dalam hal tulis-menulis postingan blog. Belum lagi kalo dia lagi belanja, kadang aku bikin dia bad mood. Selera cowok dan cewek itu beda. Nah, pas dia tanya, aku jawab menurut seleraku. Jadilah dia galau antara beli atau tidak beli. Hehe.

Dan masih banyak lagi hal-hal remeh yang bikin istri saya bad mood gara-gara momennya tidak tepat.

Ngambek-ngambekan Tetap Tidak Bisa Dihindari

Pengen banget mengubah kebiasaan ngambek ini. Ini adalah kebiasaan yang tidak baik. Ya meski jarak antara ngambeknya itu tidak lama lalu baikan, tapi kan kalo bisa dihilangkan ngambeknya. Entah butuh berapa tahun lagi biar kita ga suka ngambekan gini.

Ngambek itu bikin drama dan mengurangi produktivitas loh. Kalo udah ngambek kan otak jadi sempit, kreativitas ga mungkin muncul di otak orang yang lagi ngambek. Dan ngambek ini menjadi cikal bakal kelakuan bodoh lainnya.

Kami masih belajar untuk meredam amarah akibat saling mementingkan ego masing-masing. Jika kamu nanti menikah, kamu akan mengalami hal ini ;)

Setidaknya itulah yang masih terjadi meski sudah 5 tahun menikah. Sebenarnya masih banyak hal lainnya sih, cuma aku udah capek nulisnya. Hehe.

Sampai jumpa di entri selanjutnya :)

3 Nov 2017

Dirimu Melebihi Sebuah Lagu

Lagu
Melantun indah membuat sendu
Melalaikan manusia kepada yang semu
Terbawa sedih nan pilu
Kadang suka, kadang haru

Dirimu
Melebihi sebuah lagu
Melalaikan dan mengusik rindu
Dekat denganmu, ku khawatir berpisah denganmu
Jauh darimu, merindu hingga tersedu-sedu

Kutinggalkan lagu, 'tuk mencintaimu
Kutinggalkan bait-bait palsu
Kutemukan yang lebih indah ada padamu
Ku toreh bait-bait puisi untukmu
Rasanya tak habis hingga seminggu
Bahkan hingga setahun berlalu
Atau mungkin lebih dari itu

Baris puisi walau sampai seribu
Tak usai mengungkap diriku padamu
Kurang, kurang selalu
Selalu, dan selalu begitu

---

John Terro dalam Sendu
2 November 2017

11 Okt 2017

Berhenti Karena Sadar Diri

Sadar diri itu penting.

A suka pada B.
Lalu B menikah dengan C.
Apakah A akan dinikahkan nanti di Surga dengan B?

Berhentilah berimajinasi!
Sadar dirilah!
Itu TIDAK BISA!

10 Sep 2017

Kebenaran Itu Ada Satu atau Lebih?

Suatu hari, saat masih SMA dulu. S (Saya) dan AK (Adik Kelas).

AK: Mas, mau tanya.
S: Oh, boleh. Mau tanya apa?
AK: Kebenaran itu ada berapa, Mas?
S: Ada satu.
AK: Loh salah mas. Kebenaran itu ada banyak.
S: Kalo kebenaran itu ada banyak, tentu saja kamu tidak akan menyalahkanku yang meyakini kebenaran itu ada satu.

Adik kelas saya terdiam, mungkin sambil bingung memahami perkataanku. Percakapan selesai.

21 Apr 2017

21 April, Hari Poligami di Indonesia

Dulu, waktu saya masih kecil, kerap kali ada peringatan Hari Kartini. Ya yang namanya anak kecil kan mana tahu, asal ikut-ikutan aja apa yang diinstruksikan oleh guru. Jadi, pas tiap tanggal 21 April ini biasanya pakai baju adat buat meringatin Hari Kartini.


Saat agak gedean dikit, seumuran SMP lah, saya baru tahu kalo ternyata Kartini ini digadang-gadang sebagai perempuan yang sangat membela dan memperjuangkan hak-hak wanita. Sudah sampai di sana saja penjelasan yang saya dapat. Guru-guru SMP dulu juga tidak pernah menyenggol pribadi Kartini secara mendalam.

Ketika sudah beranjak lebih gede lagi, sekitar SMA lah, baru tahu ternyata Kartini ini bukan istri pertama. Dia istri kesekian dari seorang bupati. Dan anehnya ini jarang diungkap oleh pelajaran di sekolah maupun media. Hanya diambil sisi emansipasi wanitanya saja.

Sekarang saya pun jadi ragu mengapa mereka menggangkat Raden Ajeng Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita di Indonesia. Jangan-jangan mereka salah angkat tokoh yah. RA Kartini kan sangat mendukung poligami. Toh, buktinya sampai akhir hayat beliau, beliau tidak pernah dikabarkan melakukan gugat cerai terhadap suaminya.

Jangan-jangan, 21 April ini sebenarnya secara tidak langsung memperingati Hari Poligami Nasional. Hari di mana seorang perempuan bermartabat nan cerdas yang rela dipoligami oleh seorang Bupati. Dan bukan berarti ketika seorang dipoligami itu menderita. Justru sebaliknya, buktinya Kartini masih mampu dan sempat memperjuangkan hak-hak perempuan dalam hal pendidikan.

Ah, kug malah mikir sampai segitunya ya saya. Haha. Tapi, ngomong-ngomong, Selamat Hari Poligami Nasional yah ;)

4 Des 2016

Posting Random

Aku berpikir ... cantik itu jika semua orang sepakat tentang dirinya cantik. Ternyata pikiranku berbelok. Cantik tidak sebatas itu. Banyak sekali yang harus dipenuhi oleh seorang wanita untuk dikatakan cantik. Cantik, namun jika diajak ngobrol ga nyambung, cantiknya akan membosankan. Cantik, namun terlalu pelit, ah ini cantiknya menyebalkan. Cantik, namun mendominasi, ah ini cantiknya menyiksa.


Ternyata jadi seorang yang cantik itu tidak semudah yang dibayangkan. Jika ada yang mengatakan jika kamu cantik, kamu menang setengah. Ya memang orang yang cantik itu lebih mudah hidupnya setengah dibandingkan yang tidak cantik. Namun, jika dia tidak bisa mengelola kecantikannya maka dia pun akan kalah setengah lebih banyak. Betapa tidak, hidup jadi orang cantik itu tidak mudah. Pasti banyak orang yang ngiri dan ingin menjatuhkan. Untuk itu, seseorang yang cantik itu perlu mencerdaskan diri. Jangan sampai dia dimanfaatkan untuk hal yang buruk oleh orang lain.

Namun, jika kamu dilahirkan tidak dalam keadaan cantik, jangan berputus asa. Mungkin saja Sang Pencipta melindungi dirimu dari keburukan. Toh juga cantik tidak menjamin hidupnya jadi bahagia. Jika kamu tidak cantik, dan nantinya menikah, maka pilihlah suami yang suka ngegombal. Walau tidak cantik, setidaknya kamu akan merasa jadi paling cantik setiap hari. Bukan begitu? Pasalnya memang wanita itu suka banget dipuji cantik.

Jika kamu seorang suami, coba setiap bangun pagi sehabis mandi, ucapkan kata-kata ini pada istrimu, "Pagi ini kamu cantik banget. Apalagi jika kamu tersenyum. Kalau hati ini bukan ciptaan Alloh, sudah meleleh melihat wajah cantikmu". Coba saja. Kamu akan merasakan bedanya. Mood istrimu akan bagus sepanjang hari dan akan melayanimu dengan spesial (tidak seperti hari-hari sebelumnya). Selamat mencoba!

Ah entri ini benar-benar random. Tapi gimana lagi. Daripada ga update. Hehe.

15 Okt 2016

Beda Kelamin, Tegang. Salahkah?

[DEWASA] Maaf, entri ini agak sedikit ngaco. Jangan dibaca jika tidak ingin terbayang-bayang. Sebuah fitrah ketika seseorang yang beda kelamin itu memang tegang. Jika tidak tegang, maka siap-siapnya rumah tanggamu akan menjadi neraka. Mungkin yang belum menikah belum paham maksudku. Hehe. Tapi, sekedar kasih spoiler, bahwa tegang itu perlu. Seorang cewek yang sudah menjadi istri akan galau ketika dia sudah dandan secantik mungkin, lalu suaminya tidak tegang. Cewek akan berpikir, ini siapa yang salah? Dandannya yang kurang cantik atau suaminya yang impoten atau kelainan?

Sebuah malam pertama akan rusak dan benar-benar menjadi mimpi buruk jika kamu sebagai suami gagal tegang. Adakah kasusnya yang seperti itu? Ada. Dunia ini luas, pasti ada kasus macam itu. Dan dalam Islam sangat-sangat dibolehkan istri meminta cerai pada suaminya gara-gara si suami ga bisa tegang loh. Karena memang urusan tegang-tegangan ini adalah hak bagi istri.

Dan agak aneh saja ketika ada yang mempermasalahkan cowok tegang ketika dekat dengan seorang cewek. Itu adalah hal yang wajar, itu alamiah dan tidak terkontrol (setidaknya susah terkontrol). Kalau kamu bagaimana? (Cukup jawab dalam hati saja, kadang jujur itu memang pahit). Ketika ada yang mempermasalahkan, saya jadi curiga, jangan-jangan dia tidak tegang ketika beda kelamin. Haha. Ah, abaikan! Ini hanya sekedar prasangka konyolku saja.

7 Okt 2016

Keheningan dan Kesendirian

Saya yakin banyak orang yang setuju bahwa sebuah ide, ilham, hidayah, dan sejenisnya tercipta dari sebuah keheningan. Saya butuh keheningan dan kesendirian untuk menghasilkan ide-ide dalam hal ngeblog. Saya butuh keheningan dan kesendirian untuk memecahkan masalah yang muncul saat saya menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan algoritma. Saya butuh keheningan dan kesendirian untuk membuat sebuah sandi.

Bahkan, dulu Nabi Muhammad mendapat wahyu ketika sedang bersendiri dalam keheningan di gua Hira. Begitu juga orang yang mendapatkan hidayah karena dia menyendiri dalam hening memikirkan hakikat hidup ini sebenarnya seperti apa dan menutup telingan dari segala ucapan dan suara-suara orang disekitarnya yang dapat menjadi halangan untuk mendapat hidayah. Bahkan setiap doa yang khusyuk dipanjatkan dalam keheningan dan kesendirian.

Begitu juga ketika saya terdesak dengan semester 14: lulus atau DO, saya memilih untuk lebih menyendiri dalam keheninggan. Bahkan istri harus menahan kekurangan kasih sayang karena lebih sering saya tinggal ke kampus atau saya tinggal fokus mengerjakan skripsi saat di rumah. Meskipun faktanya memang terkadang saya bisa mengerjakan sesuatu dalam keramaian, namun tidak semua hal.

29 Sep 2016

Akhirnya Mahasiswa 14 Semester Itu Lulus Juga! (Bagian 1)

Sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, tak 'kan pernah menjadi milikmu. Sesuatu yang ditakdirkan menjadi milikmu tak 'kan pernah luput darimu. Ya, setidaknya itu kaidah mengenai takdir yang aku pegang setelah diingatkan kembali dalam sebuah majelis ilmu yang secara random aku ikuti. Dulu aku tahu mengenai kaidah itu, namun setelah hidup membenturku beberapa kali aku lupa bahwa memang takdir seperti itu sifatnya. Aku sempat putus asa dengan apa yang menimpaku. Bayangkan saja, aku harus menjalani kuliah yang seharusnya selesai dalam waktu 8 semester malah menjadi 14 semester. Dan itu di ambang drop out (DO).


Salah satu sarkasme yang dilontarkan oleh dosen pembimbingku saat aku semester 14 adalah ucapan "oh ya, ngomong-ngomong kapan kamu DO?". Dan sepertinya memang Alloh tahu cara menghukumku atas kepercayadirianku yang begitu melangit saat itu (ketika semester 7). Oke, aku akan menceritakan sedikit pengalaman kuliahku mulai dari semester 1 hingga semester 12. Ini mungkin terlalu singkat dan dirangkum, tapi mungkin begitu panjang bagi pembaca. Haha. Semoga saja entri dengan judul ini bisa lebih dari 2.000 kata. Mungkin akan saya bagi hingga beberapa bagian karena saking panjangnya.

Prakuliah

Rekam jejakku dari SD hingga SMA selalu mulus. Ketika SD, aku sering sekali menjadi juara kelas. Saat SMP, juga masih menduduki 10 besar di kelas dan 25 besar satu sekolahan. Ketika SMA pun begitu, selalu berada di 3 besar. Mulus banget memang. Dulu saya tidak pernah merasakan sebuah kegagalan. Tidak pernah merasakan susahnya menjadi orang yang bodoh, dihina guru dan sejenisnya. Namun, saat kelas 3 SMA di sanalah sepertinya ujian saya dimulai. Saya terkena penyakit aneh. Jika dulu hanya penyakit badan, ini adalah penyakit pemikiran dan hati. Ya, intikali namanya. Kamu tahu 'kan apa itu intikali? Intikali itu sesuatu yang tidak terdefinisi. Karena definisi hanya akan membatasi, sedangkan intikali tidak ingin dibatasi. Jika ingin lebih jauh tahu tentang intikali, saya sarankan jangan pernah googling mengenai intikali. Bahaya!

Karena penyebab intikali inilah, konsentrasi belajarku pecah. Setiap hari di otakku selalu berputar memikirkan sebuah teori intikali. Perkata-perkataan keren dan berbunga-bunga pun mengalir begitu saja di otakku karena intikali. Hal ini membuatku lalai belajar dan sibuk dengan keintikalian. Aku menulis apa yang ada di otakku dalam sebuah catatan di komputer dan ponselku yang sebagian hilang sebagian lagi aku abadikan di blogku ini.

Bisa ditebak, setelah masa Ujian Nasional tiba, aku masih sibuk dengan intikaliku. Dan nilai UN-ku juga tidak se-wah dulu ketika masih SD dan SMP. Aku sih santai-santai saja, lagi pula masuk perguruan tinggi juga tidak menggunakan nilai UN, hanya perlu lulus saja. Namun, ternyata virus intikali tidak berhenti di sana. Dia membuatku sibuk dan terlalu nyaman dengannya. Ujung-ujungnya aku tidak siap menghadapi ujian masuk PTN. Akhirnya tahun itu aku gagal masuk PTN dan aku putuskan tidak kuliah dulu selama setahun. Orang tuaku sih menawarkanku untuk kuliah di tempat lain, hanya saja aku tahu keadaanku dan aku pikir itu buang-buang waktu dan uang saja. Lebih baik aku sembuhkan virus intikali dulu yang ada dalam diriku.

Setahun itu aku gunakan untuk belajar soal-soal ujian masuk PTN dan sekaligus menyembuhkan keintikalian yang merasukiku. Selalu saja kerja keras tidak akan berkhianat. Tahun selanjutnya aku lulus tes ujian masuk PTN dan aku masuk ke ITS, salah satu PTN top di Surabaya. Salah satu penyebabnya adalah aku yakin doa temanku saat naik haji ke Baitullah saat itu dikabulkan. Tahun itu aku benar-benar dimudahkan untuk belajar, sangat berbeda dengan sebelumnya yang buka buku saja malas. Ya, kini aku sudah masuk ITS namun intikali masih menghinggapi otakku.

Semester 1

Aku masih tidak percaya bahwa aku bisa masuk ITS. Bayangkan saja, aku menganggap bisa lolos ke perguruan tinggi adalah ekspektasi yang tinggi dan susah aku gapai waktu itu. Namun, sesuatu yang ditakdirkan aku dapatkan, maka tak 'kan pernah luput dariku.

Lanjut ke Bagian 2 (dalam proses)