Persona Intikalia

17 Feb 2012

#suratpembaca: Aku dan Polisi

Hari ini barang di pelabuhan ditahan oleh pihak 'berwajib' tanpa alasan yang jelas. Padahal semua surat-surat yang diperlukan sudah ada. Dalam kondisi biasa, hal ini selalu diselesaikan oleh salah satu rekanku, namun karena situasi yang cenderung irregular, aku harus turun ke lapangan untuk menyelesaikan masalah ini. Sebelum aku berangkat mengurus hal tersebut, rekanku yang biasanya mengurus masalah seperti ini memberikan saran kepadaku, "Penahanan seperti itu hanya akal-akalan mereka saja. Biarpun surat-suratmu sudah lengkap semua, pada akhirnya kau harus memberikan uang pelicin agar barangnya bisa cepat keluar". Namun dasar keras kepalanya aku, aku berangkat ke kantor polisi yang telah ditunjuk dengan pemikiran, "Aku TAKKAN memberi uang pelicin sebelum dia memintanya secara langsung".

Setibanya di lokasi, aku langsung menuju tempat untuk mengurus ijin supaya barang-barangku bisa dikeluarkan. Eh... ternyata surat ijinnya selesai jauh lebih cepat dari dugaanku (sekitar 8 menit). Setelah surat ijin sampai di tanganku ternyata aku masih disuruh menunggu lagi, entah untuk alasan apa karena surat yang kubutuhkan sudah ada di tanganku. Sepuluh menit kemudian petugas lain memasuki ruang tempat aku di suruh menunggu dan mulai menanyaiku.

petugas : "Kamu udah berapa kali ngurus kayak begini ini?"
Aku     : "Saya udah beberapa kali mas ngurusin barang, tapi baru pertama kali ini ada masalah seperti ini" (belaga bego)
petugas : "Petugas yang sebelumnya tadi gak ngomong apa-apa ke kamu?"
Aku     : "Enggak ini pak..."
Petugas : "Hmm... begitu ya"

Setelah itu sang petugas keluar dari ruangan dan mengatakan dengan nada relatif keras, "Waduh! iki onok arek enyar nggak ngerti opo-opo iki!", dan dilanjutkan dengan tawa petugas-petugas lain di sana. Ya... sebenarnya aku sudah sangat tahu tentang aturan zalim bahwa "setelah menerima surat ijin, waktunya aku memberikan uang rokok", hanya saja rasa muakku akan kezaliman tersebut sudah berada pada level max, sehingga aku bertingkah seakan-akan aku adalah orang baru yang tidak tahu apa-apa tentang kezaliman tersebut.

Tak lama kemudian sang petugas kembali ke ruangan dan meminta "surat perincian isi muatan". Aku sempat terkejut akan hal tersebut. Bagaimana tidak? 5 tahun aku bekerja di bidang tersebut dan sungguh aku tak pernah mendengar eksistensi "surat perincian isi muatan". Melihat aku yang terkejut, sang petugas langsung merebut surat ijin untuk mengeluarkan barang yang telah kupegang dan menyuruhku kembali lagi kalau aku sudah mempersiapkannya. Sang petugas lalu pergi meninggalkanku untuk makan di warung depan kantor (saat itu BUKAN jam istirahat)

Selama waktu makan petugas tersebut, aku terus-menerus mendengar bisikan setan... err, orang lain yang senasib denganku, untuk menyerah saja dan langsung saja memberikan uang pelicin pada petugas tersebut supaya urusanku cepat selesai. Sayangnya bisikan-bisikan itu hanya membuatku semakin marah dengan lingkaran setan yang sudah berakar dalam di negara ini, jadi niatku untuk TIDAK menggunakan uang pelicin semakin kuat.

Aku menelepon rekanku yang biasanya mengurus perizinan di kantor kelurahan dan memintanya menuliskan perincian barang-barang dan meminta pihak kelurahan untuk menandatangani kertas tersebut.

Sekitar 30 menit kemudian sang petugas kembali. Dan aku pun langsung menghampiri sang petugas untuk mempertanyakan urusanku yang ditinggalkan secara sepihak tadi.

Petugas : "Bagaimana? sudah ada surat perinciannya?"
Aku     : "Kalau yang diperlukan adalah perincian isinya saya punya, pak. Namun yang berupa surat resmi saya rasa hal itu tidak pernah ada"
Petugas : "Kok nggak ada itu, lho?"
Aku     : "Kalau memang surat itu ada, berarti kami harus membawa pihak yang ikut bertanggung jawab menandatangani Surat Keterangan Usaha (SKU), dalam hal ini, Lurah, untuk ikut menghitung jumlah barang-barang yang saya muat sebelum mengirimkan barang. Dan jujur saya pikir itu bukanlah hal yang wajar, jadi saya sungguh meragukan persoalan seputar surat perincian tadi"
Petugas : "Bukan begitu... seharusnya ada surat berisikan perincian isi muatan yang ditanda-tangani oleh Lurah"
Aku     : "Kalau begitu mohon tunggu sebentar, orang saya baru saja mendapatkan tanda tangan Lurah pada kertas perincian barang-barangnya. Saya ambil sebentar lembar itu untuk bapak lihat"
Petugas : "Ya udahlah, kali ini saya buat pengecualian. Ini surat ijin untuk mengeluarkan barang-barang kamu. Tapi lain kali kamu harus melengkapi dokumen supaya bisa mengeluarkan barang-barangmu"

Aku pun mengambil surat ijin yang kubutuhkan dan pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan terima kasih (namun tetap mengucap permisi).


---
Kabar baiknya:
- aku berhasil menghemat Rp. 250.000,- ('uang pelicin' yang kusediakan) karena proses yang menjengkelkan tersebut.
- aku lega karena aku masih bisa mempertahankan prinsipku.

Kabar buruknya:
- oknum-oknum tersebut sama sekali tidak mengucapkan kata-kata yang dapat menunjukkan kalau mereka 'meminta' uang pelicin. sehingga rekaman suara di ponsel yang kubawa menjadi tidak berguna.
- ada kemungkinan bahwa setelah ini, proses untuk mendapatkan ijin (dengan jujur) akan menjadi lebih sulit.

#suratpembaca dari Anonim


Rubrik #suratpembaca adalah rubrik baru dari Persona Intikalia. Tujuan diadakannya ini adalah untuk menyampaikan isi hati kamu yang belum tersampaikan. Secara default #suratpembaca memang dibuat Anonim agar kerahasiaan identitas pengirim terjaga. Bagaimana cara mengirim #suratpembaca ke blog ini? Email saja ke jindego[dot]13xy[at]yahoo[dot]co[dot]id dengan subjek #suratpembaca.

30 komentar:

  1. tidak ada kejujuran ya disana gimana mau maju negara ini

    BalasHapus
  2. wow., pengirimnya suangar..
    kalau dilihat dari ceritanya., beliau beraktivitas di dunia ekspedisi atau sejenisnya..
    dan hebatnya beliau punya waktu untuk mengirim #suratpembaca..
    yang artinya beliau punya waktu baca-baca Persona Intikalia..
    yang artinya beliau melek informasi..
    SALUT!
    :D

    BalasHapus
  3. jaman sekarang mas, tukang becak saja tahu akatsuki :D

    BalasHapus
  4. ehmm... aku tanggapi dari lain sisi ya bang.
    terkadang memang mereka sengaja menahan barangnya bukan untk meminta uang pelicin, mungkin memang benar harus ada perincian isi muatan. Lah klo tidak ada, bagaimana kita tahu d dalamnya tidak terdapat barang selundupan.

    kedua mungkin juga polisinya ingin memberikan pelajaran kepada pembuat surat agar patuh dan mengikuti semua aturan. Klo tadi mas duluan mengatakan utk surat pelicin, "hati2" bisa dituduh melakukan suap.

    Hanya menanggapi dr sisi yg berbeda

    BalasHapus
  5. benar juga yah
    tapi ... hehe, apakah sebaik itu kah? LOL

    BalasHapus
  6. pertanyaannya aku jawab disini ya :) seharunya memang direply tapi ibu2 yg sok sibuk nih jadi gak sempat reply di blog, biasanya saya jawab di blog yg bersangkutan jika ada pertanyaan. mau setting komen yg bisa direply juga belum sempat, serba mau deh tapi apa daya tangan hanya 2 BW juga sambil mengerjakan pekerjaan lain di hp

    BalasHapus
  7. ow begitu yah???

    tulisannya salah masuk redaksi bukan???
    Intikali ada korannya juga?? :D

    BalasHapus
  8. oh ya nanti kalo intikali udah besar baru ada korannya LOL

    BalasHapus
  9. ini ngambil dari koran bukan? kok bisa masuk intikali?

    BalasHapus
  10. bukan, ini murni kiriman pembaca blog ini :-)

    BalasHapus
  11. ya begitulah john,apa-apa harus pakai uang pelicin dulu,selalu saja di persulit

    BalasHapus
  12. wah itu murni dari pembaca ya john?
    keren tuh orang berpegang teguh sama prinsipnya buat gak ngasih uang pelicin.
    seharusnya banyak orang yang gak dengan mudah ngasih uang pelicin,,

    BalasHapus
  13. ya begitulah Indonesia :P
    itu murni dari pembaca loh

    BalasHapus
  14. ah negara ini mungkin udah bejat kali ya.
    makanya yang paling gak aku suka itu ya polisi dengan teman²nya itu lah.

    BalasHapus
  15. ah rubrik ini lebih keren dr rubrik bidadari :p

    BalasHapus
  16. @Akane: ya sudah lah dinikmati aja negeri seperti ini :P

    @YeN: wow ... begitu kah?

    BalasHapus
  17. Did you see that, John?

    lihatlah 4 komen di atas komen ini!

    BalasHapus
  18. (memantau 6 komen diatas)
    hemmmm.....
    Y with J bisa jadi rubrik baru ne (may be).
    or CCGA part #3 @.@

    BalasHapus
  19. waduh makin parah aja ya john??
    mereka seharusnya melayani rakyat bukan memeras rakyat meskipun tidak secara terang-terangan.Tapi saya salut deh sama orang yang berani di atas buat gak ngasih uang pelicin.sekali-kali emang harus digituin.

    BalasHapus
  20. Yah, pungli memang sulit hilang. :(

    BalasHapus
  21. @Asop: memang sih :D

    @umek1: wew ~_~

    BalasHapus
  22. kelakuan pelayanan rakyat Indonesia Raya Tercinta..
    kalau gini terus kapan Indonesia bisa maju :(

    BalasHapus
  23. bukan kapan-kapan lagi,,kayaknya gak bakal maju-maju deh :(

    BalasHapus
  24. tidak ada yang tidak mungkin
    kita harus optimis bahwa negeri ini akan maju
    dan tentunya lepas dari korupsi :)

    BalasHapus