Persona Intikalia

10 Feb 2012

Tidak Selamanya Begitu

Aku. Umurku kini sudah memasuki ranah seorang lelaki untuk menikah. Keluargaku juga mulai mendesakku untuk menikah. Namun, sayangnya tiada calon yang sampai membuatku yakin. Aku punya banyak relasi, kalo dibilang cukuplah dekat dan sangat memungkinkan untuk mengarah ke sana, namun tetap saja belum membuatku yakin. Karena pihak keluargaku yang melihatku masih sendiri bahkan aku tidak punya pacar, akhirnya pihak keluarga mulai turun tangan dengan ikut campur mencarikanku jodoh. Dan hal ini yang aku paling tidak suka. Jaman sudah modern, kug masih saja ada perjodohan.

Akhirnya saat itu datang juga. Aku dipaksa untuk mengikuti acara keluarga yang memang direncanakan oleh pihak keluargaku. Namun, hal itu sudah aku sadari sebelumnya niat mereka. Aku alasan ada banyak kerjaan di Lab kampusku. Yes, akhirnya aku berhasil menggagalkan rencana mereka. Tapi, tetap saja ternyata dua keluarga saling bertemu dan membicarakan perjodohan itu meskipun tidak aku di sana. Selalu saja aku mencari alasan jika aku diajak oleh keluargaku untuk main ke pihak keluarga yang akan dijodohkan. Banyak sekali alasanku, ada kerjaan di Lab, ada janji sama dosen, ada even yang harus aku tangani, intinya banyaklah caraku untuk menghindar dari perjodohan ini. Itulah aku, pintar mencari alasan kalo tidak suka dengan sesuatu.

Di sisi lain, aku masih menjalin banyak relasi dengan perempuan di luar sana, meskipun hanya sebatas pertemanan lebih. Sepertinya rasa ingin mendapatkan cinta pertamaku yang hilang masih saja ada di otakku, padahal di hadapan banyak pengganti yang memungkinkan aku untuk move on. Selain itu juga ada juga perjodohan yang bisa aku pilih, tapi sepertinya tidak akan. Bagiku, pernikahan adalah suatu hal yang besar dan aku harus menentukannya sendiri, bukan orang lain, walaupun itu keluargaku.

Saat itu, tepatnya hari Minggu pagi, aku memang biasa pulang dari Lab kampus untuk meminta suplai kehidupan dan berbenah diri. Sebuah kebiasaan yang buruk, selalu saja aku pulang dari Lab dalam keadaan belum mandi alias bangun tidur belum ngapa-ngapain kecuali sudah sholat Shubuh. Aku langsung naiki Honda jelek tahun 2002 ku itu menuju rumah. Sesampainya di rumah, aneh sekali, aku melihat rumahku rame sekali, banyak orang yang tidak aku kenal. Dalam hatiku aku bertanya, ada apa ini. Aku masuk saja tanpa merasa bersalah, tatapan mata banyak ke arahku, padahal mukaku sangat jelek sekali saat itu, maklum belum mandi. Aku sih cuek saja, persetan dengan mereka.

Tiba-tiba terdengar oleh telingaku suara yang tidak aku kenal, berkata "Oh ternyata ini toh anakmu yang mau dijodohkan dengan anakkku". Mataku terbelalak, sebentar, ini bukan main-main kan, tidak aku terjebak, sial. Tiba-tiba aku melihat ibuku. Aku bertanya dengan mataku, isyarat yang sering aku lakukan. Ibuku menyuruhku untuk segera mandi dulu. Sial, saat di kamar mandi, rasanya ga pengen keluar. Aku benar-benar dijebak nih. Tapi ibuku memanggil-manggilku untuk segera menyelesaikan mandiku. Oke oke, saatnya aku menyerah pada takdir.

Badanku sekarang sudah ga bau lagi, udah mandi. Hal terbesar akan aku alami. Tanganku dingin. Aku berjalan pelan dan lemas, sepertinya tak rela dengan takdir ini. Aku terus menunduk. Kini saatnya pertemuan dua keluarga. Rasanya ingin sekali marah dengan keluargaku karena bertindak terlalu jauh. Namun, mereka juga masih keluargaku, ga mungkin aku begitu. Ayah dari keluarga itu mulai angkat bicara. Dia mengatakan bahwa aku pemalu sekali. Eeehh, aku bukan pemalu, tapi aku ga setuju dengan cara beginian. Ini kan sudah modern, masih saja ada kayak ginian. Kemudian ayahku menyuruhku untuk berkenalan. Dengan masih tertunduk, aku berkata, Iskandar Dzulkarnain, masih kuliah. Kemudian ayah dari pihak keluarga itu menyuruh putrinya untuk mengenalkan diri juga. Nadia, katanya. Singkat sekali, dalam otakku.

Aku penasaran dengan dia. Kalo didengar suaranya sih, suaranya memang bagus, standar sih menurutku. Aku mulai mengangkat pandanganku. Subhanalloh, Maha Suci Alloh yang telah menciptakan makhluk ini dengan sempurna. Hampir saja aku tidak berkedip, namun aku harus menurunkan pandanganku karena memang dia belum jadi milikku. Kemudian ayahku bertanya kepadaku, bagaimana? Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum. Ayahku pun tersenyum. Ayahnya pun tersenyum. Dalam keadaan yang tertunduk pun sebenarnya aku ingin melihat sekali lagi wajahnya, namun aku takut bumi akan bergoncang dan langit akan runtuh karena tidak kuasa menahan gejolak hatiku.

Tidak selamanya begitu, cinta terkadang memang harus dipaksakan, hingga kau sadar bahwa dengan dipaksakan cinta itu lebih indah dan kau mengambil pelajaran yang banyak darinya. #mantraintikali

40 komentar:

  1. aseeek :D ak jadi tersipu2 sendiri nih bang :D
    fiksi atau terinspirasi dari kisah nyata nih bang ? selamat ya bang kalau bentar lagi mau married, eciee cieee :D
    jadiin status fb ah mantra intikalinya :P

    BalasHapus
  2. hayo coba tebak itu fiksi atau kisah nyata :D
    silakan dijadikan status :)

    BalasHapus
  3. oh, manis sekali John...
    Aku ragu ini fiksi-dan kurang yakin kalau ini nyata :)

    BalasHapus
  4. aihhh.. ini pasti nyata!
    cingrats bangg!!
    *sotoy*
    ;-P

    BalasHapus
  5. @Ajeng Sari Rahayu: hahah ... pasti bingung nentuinnya :P

    @Niken: makasih :D

    BalasHapus
  6. fakta kan John?! aaacieee ciee cieee #gigitjari

    BalasHapus
  7. aku tahu ini fiksi, ahahah :p
    #pipilumapipilumapulilimpa

    BalasHapus
  8. jadi kaya mirip sinetron ah :D

    BalasHapus
  9. Gpp, ceritanya bagus :D

    BalasHapus
  10. @Ajeng Sari Rahayu: bagaimana jika itu adalah fakta? :P

    @Yayack Faqih: haha :D

    @Enny Law: makasih :D

    @PencukurBumi: LOL

    BalasHapus
  11. CIEEEEEEE...asik euy...dijodohin, sama yg cantik pula
    Fotonya mana? Bagi donk...hehehe

    BalasHapus
  12. curahan hati seorang iskandar zulkarnain nih hehehe.. jadi.. jadi.. dijodohin mah diterima aja. aah, i wish, saya juga dijodohin :)

    BalasHapus
  13. selalu yang terbaik untuk anak dari orang tua....

    BalasHapus
  14. @Gaphe: wah asyik tuh om kalo om dijodohin :D

    @Dunia Piyen: memang betul :)

    BalasHapus
  15. gak selamanya dijodohkan itu ga enak :P

    BalasHapus
  16. wah kalo di jodohin ujungnya begitu sih enak yak :D

    BalasHapus
  17. yg penting baik buat dunia akhirat :)

    BalasHapus
  18. @hiakuherry: ya jelas lah om

    @Falzart: ehhh ... kapan2 lah om

    @bima: sudah barang tentu

    BalasHapus
  19. ah ga seru ending percintaan JT... kalau dibikin Novel percintaan "John Terro Penakluk Wanita"

    masa endingnya kayak gini, JT dijodohin, pembaca kecewa :lol:

    BalasHapus
  20. haha.
    moga mendapatkan yang terbaik.
    :)

    BalasHapus
  21. haha,yang namanya di jodohkan kita gak tahu sifat aslinya kaya gimana,ya meskipun 'cantik'

    BalasHapus
  22. hoho slamat ya :P

    alhamd q masi bisa ngacir dari pjodohan

    BalasHapus
  23. cihuyy.., selamat om..
    berarti ada traktiran ni d lab?

    BalasHapus
  24. @nur aini: sekali2 menerima takdir, siapa tahu lebih baik

    @Bahari: oh tidak bisa :P

    BalasHapus
  25. takdir kayak gmn dulu.. Just follow your heart aja :P hehe

    BalasHapus
  26. yang namanya di jodoin belum tentu sreg dengan hati,bener ga john?? meskipun dia cantik kaya kiyoshi sakurazuka uppsss ko kiyosi sakurazuka ya

    BalasHapus
  27. ya jelas, kan juga belum tentu ga sreg juga :D

    BalasHapus