Persona Intikalia

4 Okt 2021

Bid'ah dalam Kebid'ahan

Suatu hari, pernah kumpul-kumpul keluarga yang lagi membahas selamatan. Kebetulan, posisiku ga lagi di sana. Ini aku diceritain oleh adekku.

Dalam pandangan Islam, selamatan model kayak gitu termasuk dalam kategori bid'ah. Namun, pelakunya ga mau kalo itu dibilang bid'ah. Uniknya, ketika dilakukan bid'ah di dalam kebid'ahan mereka tersebut, mereka marah. Padahal, sama-sama bid'ahnya loh. Hehe.

Terjadilah percakapan yang cukup konyol, karena diskusi masalah suguhan di acara selamatan.

Bu De: Wah, ini harus pake apem. Mending mana, beli atau bikin sendiri yah.

Ibuku: Ya, kalo repot, Yuk, beli aja. Bikin apem kan lama prosesnya.

Adekku: Tapi daripada apem, sama-sama beli, ya mending lapis kukus Surabaya aja. Enak dan semua orang suka. Beda sama apem, yang kurang menarik.

Mbak Sepupuku: Ya harus apem lah, Sal. Apem itu kan ibarat payung di dunia sana. Bisa mayungi orang yang meninggal.

Adekku: Ya, kalo fungsinya buat payung, lapis kukus Surabaya lebih bagus. Kenapa lebih bagus? Karena ukurannya lebih besar, payungnya lebih besar jadinya.

Kemudian mba sepupuku pun terdiam. Lagian argumen adekku juga benar-benar tidak terbantahkan. Logikanya kan gitu emang. Kalo emang buat payung, kenapa ga yang sekalian besar. 

Suasana pun jadi kikuk banget. Mungkin kalo bukan karena adekku sudah bangkotan, kena sentil tuh telinganya. Wkwkwk. Dan ibuku pun mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Hehe.

Aku pun ketika diceritain itu oleh adekku dan ibuku, aku terkekeh-kekeh. Aku timpali lagi. Ya seharusnya pakai terang bulan (martabak manis) lebih enak. Kan lebih gede tuh payungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar