Persona Intikalia
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

16 Jun 2026

16 Juni 2026 - Ingin Curhat Saja

Terakhir aku menulis di blog ini 11 Februari 2026. Tidak terasa sudah 4 bulan. Mungkin karena aku terlalu asyik bikin app atau game pakai AI.

Kalau kamu cek, di Iskael Lab sekarang sudah banyak app/game bermunculan. Tentu dengan bantuan AI yah bikinnya. Dulu bikin 1 game aja bisa 2 bulan. Sekarang? Cuma 7 hari udah jadi 1 game kasual yang cukup bagus dan layak dipublikasikan di Play Store. Sebulan bisa bikin 4 hingga 5 game.

Buat kamu yang suka game kasual, cobain deh game-ku yang Calqulator dan Tap Minus One, ini cukup seru buat orang yang suka matematika.

Jika kamu ga suka game, tapi suka baca al-Quran dan ingin tracking bacaan kamu sampai mana, kamu bisa cobain Khatam Tracker. Khatam Tracker ini aku buat H-3 sebelum Ramadhan 2026 ini. Gila, hektik banget lah waktu itu, kejar setoran biar bisa publish app Khatam Tracker biar bisa dipake saat awal Ramadhan buat tracking bacaan Quran sebulan penuh.

Oke, gitu aja update blog kali ini. Kalian bisa komen apapun di bawah ini. Mau curhat juga silakan. Hehe.

11 Feb 2026

Semua Orang Bakal Berubah

Sedikit menyeringai ketika ada seseorang yang mengejek seseorang lainnya karena kekurangannya dalam akademis. "Nanti istrinya kayak gimana yah?". Aku jawab, "Semua orang bisa berubah."

Beberapa orang berubah menjadi lebih baik dan itu memang pernah aku lihat di sekitarku. Yang dulunya malas belajar, tiba-tiba menjadi orang yang rajin belajar dan mendapatkan beasiswa. Semua orang bakal berubah, entah itu perubahan besar atau kecil.

Aku melihat seseorang ini masih bisa diajari, diubah untuk lebih baik. Hanya saja harus ekstra. Beberapa orang kurang dalam akademis bukan karena dia "bodoh alamiah", tapi kurang diasah saja. Entah karena lingkungan keluarga tidak menuntut dan dari dirinya tidak merasa belajar itu perlu.

Banyak hal di dunia ini mengejutkan. Yang dulunya begini, tiba-tiba begitu setelah lama tidak jumpa. Ya semoga saja dia tiba-tiba semangat belajar, entah mendapatkan pencerahan dari apa. Aku doakan yang terbaik saja.

5 Feb 2026

Hai!

Sekadar menyapa. Banyak hal yang menyedihkan di akhir tahun 2025 kemarin. Semoga tahun ini menjadi tahun yang menyenangkan. Amin.

14 Okt 2025

Ketemu Hal Serba 14

Hari ini, saya ketemu serba angka 14. Ya, sekarang memang tanggal 14. Tadi, di RS dapat antrian BKL-014. Bahkan saldo rekening saya hari ini 14 ribu sekian. Hehe.

Tahun ini adalah 14 tahun domain intikali.org. Setidaknya sudah ada 4 hal yang berangka 14. Apa lagi yah? Hmm, entahlah. Yang jelas, saya makin tua.

Kemarin istri saya tanya, saya umur berapa. Dia lupa kan hitungannya berapa karena sering bercanda masalah umur. Saya bilang sambil bercanda, "kayaknya 40 deh". Ah tidak, saya tidak setua itu. Umur saya masih 19 tahun, beberapa tahun yang lalu. Wkwkwk.

31 Jul 2025

Akhir Juli, Waktunya Berintikali

Sebentar lagi Agustus. Sepertinya memang susah update blog saat ini. Hehe. Sebenarnya ingin sekali update blog lebih sering, lebih terjadwal. Cuma kadang lupa buka dasbor Blogger dan ide-ide tiba-tiba lenyap begitu saja.

Ingin sekali mencoba menulis puisi-puisi saja. Lama tidak menulis puisi.

Akhir Juli, waktunya berintikali. Eh? Ga lah. Itu hanya menyesuaikan rima saja, sama-sama berakhiran li.

Dunia blog mungkin masih ada yang ramai, cuma aku saja ga tahu komunitasnya. Aku yakin masih ada yang blogwalking, meskipun mungkin sangat-sangat sedikit, tidak seperti zaman 2009-2019.

Sejak Corona memang semuanya berubah. Dunia blog pun runtuh. Awalnya karena banyak orang berpindah ke platform video, lalu digempur oleh penggunaan AI dalam mencari informasi. Hanya blog-blog yang menyuguhkan cerita pribadi—yang ga bisa disamain oleh AI—yang bisa bertahan. Salah satunya blog ini. Blog ini belum runtuh, karena isinya cuma curhatan ga jelas. Jadi ya ga terikat oleh harus bisa dimonetasi dan kepentingan lainnya.

1 Feb 2025

Babak Baru Zero Intikali

Tiga tahun terakhir ini, blog Zero Intikali ini sering sekali tidak bisa dikunjungi, Ya itu karena server tempat menaruh DNS-nya juga sering down. Sebenarnya saya sudah minta akses control panel untuk domain intikali.org ini, cuma ya kakak kelas saya sibuk sekali dan saya juga sering tidak sempat buat oprek-oprek.

Di tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, insyaAlloh blog ini akan lebih stabil. Ya minimal tidak sering error ketika dikunjungi. Saat ini DNS-nya saya taruh di CloudFlare. Paling-paling penyakitnya jika IndiHome sering ngambek sama CloudFlare, blog ini juga ga bakal bisa diakses di jaringan IndiHome. Tapi setidaknya bisa diakses dari provider lainnya. Tapi itu jarak sekali sih. Akhir-akhir ini jarang saya temui CloudFlare bermasalah di jaringan IndiHome. Pertikaian IndiHome dan CloudFlare itu sekitar 2017-2019 lalu.

Dengan stabilitas blog ini yang semakin membaik, semoga membuat saya rajin nulis lagi di blog ini. Amin. Sudah segitu dulu update saya di awal tahun 2025 ini. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya.

24 Jun 2024

Hai, Bulan Juni!

Hai, Bulan Juni! Ini adalah bulan di mana intikali.org hari ini berumur 13 tahun. Ini juga bulan di mana aku bertemu dengan orang yang aku cintai, ya meski ketemunya online dan waktu itu hanya kenal sebatas sesama blogger. Waktu itu juga dia chat dengan nama samaran juga, wkwkwk.

Hai, Bulan Juni! Bulan ini juga adalah bulan di mana aku dibelikan MacBook yang kedua, karena yang pertama dicuri. Hmm, ternyata kalau dipikir-pikir, bulan Juni banyak kejadian ya!

Bulan Juni tahun kemarin (2023) juga adalah pertama kalinya aku keluar dari Indonesia. Terima kasih kepada yang udah kasih bonus jalan-jalan ke Singapura, hehe.

Es roti di Jalan Orchard (SG$ 1.5)

Bulan Juni udah hampir menemui ujungnya. Bagaimana dengan dirimu? Apakah ada yang istimewa juga di bulan Juni?

8 Agu 2023

Halo

Halo. Mau nulis panjang kok males yah. Haha.

Udah ah, yang penting update postingan dulu.

1 Mei 2023

Blog Ini Aktif Lagi?

Sebenarnya blog ini tetap aktif kok. Aku masih sering membalas komentar yang masuk. Hanya saja mungkin terkesan tidak update yah? Kalau kamu mau, kamu bisa mengunjungi blogku satunya lagi, yang lebih aktif, www.iskael.com. Blog tersebut lebih sering aku isi karena memang bahasannya lebih ke teknis ngeblog. 

Kalau blog ini? Lebih banyak ke curhat. Aku bingung mau curhat apa lagi di blog ini. Sudah tidak galau lagi kayak dulu, wkwkwk. Di umur yang udah mulai tuir ini, lebih banyak melakukan hal monoton dan aman. Ga kayak dulu waktu kuliah yang masih melakukan hal-hal yang menantang dan bisa ditulis di blog ini.

Lagi pula, blogger-blogger yang dulu aktif, sekarang sudah ga aktif online lagi. Mungkin sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Saya cek banyak blog yang terhapus, diprivat, dan tidak ada artikel yang baru. Ya sudah lah, mungkin karena emang bukan zamannya lagi. Tidak seseru dulu.

17 Feb 2022

Ketenangan

Hampir semua orang butuh ketenangan. Aku, kamu, dan semuanya butuh ketenangan. Sayangnya, cukup banyak orang yang suka keributan.

Di kampung tempat aku tinggal sekarang, tiap Kamis, selalu berisik. Apalagi kalau yang arisan pas di depan atau samping rumah. Jedar! Ga kuat telinga ini. Entah telingaku saja yang sensitif atau telinga orang-orang itu yang tidak sensitif. Padahal keras banget loh.

Tapi gimana lagi. Ini sudah menjadi budaya di sini. Tak bisa diutak-atik. Sudah dianggap wajar. Bahkan seandainya ada yang lagi sakit di dekat tempat acara, tetap saja diputar dengan suara keras.

Dulu sempat anakku sakit (saat itu masih bayi) dan ada acara tersebut. Bukan main sebelnya. Udah susah-susah gendong buat nidurin anak yang rewel banget karena sakit. Tak lama, jedag jedug jedar, anakku kebangun dan nangis.

Sekarang? Udah biasa dengan kebisingan. Anak-anakku sudah bisa tidur dengan suara bising. Sampe segininya. Hehe. Cuma ya gitu, tetap saja aku butuh ketenangan. Apalagi kalo lagi kerja dan butuh fokus.

Udah gitu aja curhatan kali ini. Sepertinya kamu juga merasa "ketenangan" harganya jadi mahal saat ini. Seandainya penemu pengeras suara tahu dampak penemuannya, mungkin dia akan bikin Term of Use atau semacam SIM PS (Surat Ijin Menggunakan Pengeras Suara) buat pakai pengeras suara agar tidak mengganggu orang lain. Hehe.

14 Jan 2022

Pengen Nulis Aja di Blog Ini

Kemarin iseng aja blogwalking ke teman-teman blogger lawas. Ternyata ada yang masih aja aktif blog-nya. Lumayan seneng lah tahu hal itu. Lumayan lama loh, aku kenal dia sejak 2010.

Banyak blogger yang sudah ga aktif lagi menulis. Aktif pun mungkin isi blog nya yang kayak blog ini, Sponsored Post mulu. Hehe.

Ternyata 12 tahun itu rasanya sebentar yah. Bahkan jika dibayangkan, 12 tahun ini kayak aku baru masuk SD, trus tiba-tiba lulus SMA. Tapi dulu mengapa rasanya lama sekali yah menjalani kelas 1 SD ke kelas 12 SMA. Ketika udah kuliah dan makin ke sini, 1-2 tahu rasanya seperti 1 atau 2 hari.

Atau mungkin aku terlalu sibuk? Ya, sepertinya karena kesibukan ini jadi waktu makin tak terasa.

1 Jan 2022

Apakah Alloh Punya Otak?

Di sebuah sore yang hujan, akhirnya banyak kecoa yang masuk ke rumah karena jalanan depan rumah banjir. Tahu sendiri kan kecoa itu gampang banget panik ketika air sudah meninggi. Air banjir pun sedikit lagi masuk ke ruang tamu. Kalau teras rumah, sudah menggenang.

Thumbnailnya pake game Pacu Otak bikinan saya, hehe.

Karena kondisi yang seperti ini, seperti biasa, rumah diserbu para kecoa. Ya setidaknya lebih dari 5 kecoa yang masuk ke dalam rumah. Dan bisa ditebak, anak-anak emang takut sama kecoa. Ini wajar takut karena emaknya pun takut sama kecoa. Saya? Sama saja, hehe.

Di tengah lalu-lalang kecoa yang bikin heboh anak-anak di rumah, tiba-tiba Aisyah mengeluarkan kata-kata, "Kecoa ga punya otak". Aku timpali, "Kecoa itu punya otak, Aisyah". Dia pikir kecoa ga punya otak karena geraknya random nabrak sana-sini. Manusia juga kalo panik, random juga tindakannya. Bahkan kerandoman manusia ini jadi satu paper khusus yang membahas tentang Artificial Stupidity (Kebodohan Buatan). Ya, kamu ga salah baca, "kebodohan buatan", bukan kecerdasan buatan.

Selang beberapa waktu, istri saya menjelaskan bahwa punya otak beda dengan punya akal. Lah kok tiba-tiba Aisyah (yang masih umur 8 tahun) spontan bertanya, "Alloh punya otak ga, mi?". Pertanyaan yang bikin keseleg umminya :D

Karena takut salah jawab, akhirnya istri saya kasih kode supaya saya menjawabnya.

Aisyah sering kali menanyakan hal-hal yang unik-unik dan cukup susah dijawab orang kebanyakan. Kalau jawabannya ngasal, tentu dia akan bertanya lagi dan memberondong pertanyaan yang related dengan pertanyaan sebelumnya. Ciri khas anak kecil memang seperti itu.

Saya pun menjelaskan bahwa "Alloh itu ga punya otak, Aisyah". Dia pun masih kebingungan, terlihat dari mukanya. Alloh ga punya otak, tapi Alloh Maha Berilmu. Saya jelaskan pula bahwa Alloh itu tidak berongga. Konsekuensi dari tidak berongga ini adalah tidak punya otak juga. Berbeda dengan manusia, manusia itu berongga. Punya mulut, lambung, dan usus untuk proses penyerapan makanan. Sedangkan Alloh tidak butuh makan. Begitu juga Alloh tidak butuh otak untuk jadi berilmu. Alloh berbeda dengan makhluk-Nya.

Dan faktanya memang tidak ada hadits (yang selama ini saya ketahui, jika ada mohon dikasih tahu, biar saya ralat) yang menjelaskan Alloh punya otak. Yang ada, Alloh punya wajah, 2 tangan (yang keduanya kanan semua), punya betis (hadits tersingkapnya betis Alloh saat menguji orang mukmin di Hari Kebangkitan), dan beberapa sifat lainnya.

Kata "tidak punya otak" memang secara majas sangat kasar. Misal ada orang bilang ke kamu "dasar ga punya otak", pasti kamu akan marah besar ke dia. Namun, menghukumi sifat Alloh perlu dalil. Jika tidak ada dalil, maka berhenti. Tidak boleh baper dalam berhukum.

Balik lagi ke Aisyah. Saya tidak bisa membayangkan pertanyaan unik apa lagi yang bakal keluar darinya. Hehe. Semakin gede memang semakin terasah otaknya dan semakin penasaran dengan alam semesta.

Dulu waktu kecil saya tidak pernah kepikiran pertanyaan ini. Mungkin karena dulu lingkungan saya tidak seberapa kritis dalam berpikir. Mulai SMA saja lingkungan saya mulai kritis dan sudah banyak kelompok-kelompok pemikiran.

Semoga tulisan ini menjadi opsi bantuan buat kamu yang sedang googling karena ditanya anakmu apakah Alloh punya otak. Semoga bermanfaat.

4 Okt 2021

Bid'ah dalam Kebid'ahan

Suatu hari, pernah kumpul-kumpul keluarga yang lagi membahas selamatan. Kebetulan, posisiku ga lagi di sana. Ini aku diceritain oleh adekku.

Dalam pandangan Islam, selamatan model kayak gitu termasuk dalam kategori bid'ah. Namun, pelakunya ga mau kalo itu dibilang bid'ah. Uniknya, ketika dilakukan bid'ah di dalam kebid'ahan mereka tersebut, mereka marah. Padahal, sama-sama bid'ahnya loh. Hehe.

Terjadilah percakapan yang cukup konyol, karena diskusi masalah suguhan di acara selamatan.

Bu De: Wah, ini harus pake apem. Mending mana, beli atau bikin sendiri yah.

Ibuku: Ya, kalo repot, Yuk, beli aja. Bikin apem kan lama prosesnya.

Adekku: Tapi daripada apem, sama-sama beli, ya mending lapis kukus Surabaya aja. Enak dan semua orang suka. Beda sama apem, yang kurang menarik.

Mbak Sepupuku: Ya harus apem lah, Sal. Apem itu kan ibarat payung di dunia sana. Bisa mayungi orang yang meninggal.

Adekku: Ya, kalo fungsinya buat payung, lapis kukus Surabaya lebih bagus. Kenapa lebih bagus? Karena ukurannya lebih besar, payungnya lebih besar jadinya.

Kemudian mba sepupuku pun terdiam. Lagian argumen adekku juga benar-benar tidak terbantahkan. Logikanya kan gitu emang. Kalo emang buat payung, kenapa ga yang sekalian besar. 

Suasana pun jadi kikuk banget. Mungkin kalo bukan karena adekku sudah bangkotan, kena sentil tuh telinganya. Wkwkwk. Dan ibuku pun mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Hehe.

Aku pun ketika diceritain itu oleh adekku dan ibuku, aku terkekeh-kekeh. Aku timpali lagi. Ya seharusnya pakai terang bulan (martabak manis) lebih enak. Kan lebih gede tuh payungnya.

5 Sep 2021

Alhamdulillah Akhirnya Vaksin Juga

Setelah sekian purnama, akhirnya saya dapat giliran vaksin juga, alhamdulillah. Mendapatkan giliran vaksin ini ternyata tidak sesederhana yang saya pikirkan. Banyak juga antrian di Puskesmas dekat rumah dan harus antri dari Shubuh. Lalu, apakah saya vaksin di Puskesmas? Tentu saja tidak.

Qodarulloh, waktu itu saya ga nyangka sama sekali. Saya dapat WA dari adek saya disuruh ngisi Google Form. Saya tanya-tanya adek, dapat dari mana? Katanya dia dapat dari petugas Puskesmas dekat rumah. Sebelumnya memang adek saya sudah mau mendaftar vaksin di Puskesmas, cuma selalu habis nomor antriannya. Akhirnya petugas Puskesmas tersebut ngasih nomor WA ke adek. Nanti jika ada info vaksin, adekku bakal dikasih tahu.

Tengah malam petugas tersebut ngasih info vaksin di Mall Ciputra. Shubuhnya di-forward ke nomor WA-ku. Yang menyenangkan sekali adalah ternyata jenis vaksin yang bakal dikasih adalah Moderna. Ini jenis vaksin yang cukup langka dan biasanya hanya dikasih ke nakes dan orang dengan kriteria khusus (wanita hamil dan komorbid) saja. Acara vaksin ini umum yah. Jadi siapa saja bisa ikut, asalnya sebelumnya belum pernah vaksin.

Setelah mengisi Google Form, malamnya aku dapat SMS undangan. Besok paginya aku berangkat ke Mall Ciputra bersama kedua adekku. Sampe sana, aku pikir bakal antri banyak banget seperti yang biasa aku lihat di Puskesmas dekat rumah. Ternyata tidak. Di sana tinggal masuk aja asal sudah bawa fotocopy KTP dan mengisi form yang sudah saya print dari rumah. Setelah itu form tadi dikumpulkan dan nunggu panggilan.

Belum sempat duduk tenang, namaku sudah dipanggil. Dilakukan screening tanya-tanya, lalu kemudian disuntik vaksin. Cepat sekali, tidak sampai 10 menit. Hmm, menarik sekali yah. Padahal dalam benakku udah antrinya ga karuan. Aku sampe bawa botol minum dan bekal cemilan, bawa powerbank, jaga-jaga kalo antrinya mengular. Alhamdulillah ternyata prosesnya wus-wus.

Itulah ceritaku dapat vaksin Moderna dosis pertama yang relatif mudah. Untuk dosis kedua sudah ada jadwalnya, hanya tempatnya saja masih belum fix.

Oh ya, pasti kamu bertanya-tanya, efek sampingnya gimana? Tiap orang beda-beda sih. Untuk kasusku, hari pertama cuma demam ringan. Aku minumin sanmol saja cukup. Hari kedua agak berat, lengan bekas suntikan rasanya sakit, kesenggol aja sakit. Rasa sakit juga merambat di bagian pundak dan leher. Hari ketiga mereda.

Efek samping dari vaksin Moderna yang aku rasakan bikin lemas dan gampang lapar. Jadi seharian kerjaannya makan dan tidur. Ya sesekali buka hape dan ngerjain kerjaan kalo sudah bosan tidur.

2 Agu 2021

Manfaat Twitter Untukku

Apakah Twitter masih bermanfaat? Setidaknya, bagiku masih punya manfaat. Sebenarnya Twitter ini sangat bermanfaat di tahun 2010-2015. Di tahun itu, kamu bisa memonetasinya dengan sangat optimal. Sekarang? Ya tetap bisa sih, tapi ga sebesar dulu.

Twitter masih aku pakai karena beberapa alasan. Yang pertama, karena buat sharing link update posting di blog. Yang kedua, untuk komplain. Komplain? Ya, kamu ga salah baca. Komplain yang paling efektif menurutku adalah di Twitter.

Tidak percaya?

Aku sudah membuktikan sendiri sejak dulu. Tahun 2016 lalu, internet rumahan, IndiHome, lagi bermasalah. Aku komplain di Facebook fanpage-nya, bahkan telepon langsung, tidak seberapa ngefek. Di Facebook, CS nya balasnya lambat sekali. Ditelpon langsung, muter-muter juga CS-nya. Mumet lah.

Akhirnya aku coba komplain via Twitter. Langsung direspon, lalu disuruh nge-DM detail akun IndiHome-ku. Sebegitunya yah kedahsyatan Twitter.

Kasus lainnya lagi, pulsa Indosat-ku sering sekali disedot langganan konten yang sama sekali tidak pernah aku minta. Bahkan aku sangat ingat, aku tidak melakukan apapun. Tiba-tiba tiap 3 hari sekali kesedot sekitar 2.500 rupiah. Kan nyebelin.

Akhirnya aku komplain ke IndosatCare yang ada di Twitter. Masalah langsung selesai, di hari itu juga. Semua langganan bisa terhapus dari nomorku. Bahkan waktu itu aku sempat minta balikin pulsanya sekitar 20 ribu, bisa balik. Tapi nunggu 3 hari kalo ga salah. Sakti, 'kan?

Dua hari yang lalu, penyakitnya Indosat juga kambuh lagi. Tiap kali pulsa di atas 50 ribu, selalu ada konten langganan yang nyantol dan ngurangin pulsa 2 ribu setiap 3 hari. Akhirnya aku komplain di Twitter. Itu malam-malam loh, jam 9-an malam. Jam 11 malam semua masalah selesai. Cuma 2 jam.

Cerita lainnya, bulan lalu, aku punya masalah dengan pembelian di Blibli. Beribet banget lah sama CS yang ada di website Blibli-nya. Aku ga srantan, aku komplainlah di Twitter. Di hari itu juga langsung beres. Ngeri 'kan?

Sangat tidak aneh, jika beberapa orang mengatakan Twitter adalah media sosial sambat. Ya, sambat (mengeluhkan masalah). Karena memang sangat efektif. Brand bakal aware banget sama orang yang sambat di Twitter.

Mengapa bisa begitu?

Ada beberapa penyebab yang bisa aku temukan mengapa brand sangat aktif sekali menanggapi keluhan di Twitter. Yang pertama adalah karena di Twitter itu publik. Tweet-mu bisa dilihat orang banyak. Apalagi komplain, tentu kamu tidak mungkin menyetting tweet itu sebagai privat.

Yang kedua, di Twitter ada trending. Jangan sampai jadi viral komplainan tersebut. Biasanya sih yang sering viral IndiHome, gara-gara koneksinya bermasalah. Hehe. Kalau sudah viral, mungkin bisa mempengaruhi nilai sahamnya yah.

Dengan kelebihan Twitter ini yang tidak aku temukan di media sosial lain, sepertinya aku tetap akan menggunakannya. Meskipun isi Twitter-ku kalau tidak link blog ya sambatan (komplain). Wkwkwk.

Di sisi lain, di Twitter aku juga menemukan banyak hal baru terkait pekerjaanku sebagai web designer dan programmer. Banyak ilmu baru yang aku dapatkan dengan follow di akun programmer yang mendalami bidangnya.

Selamat masih bermanfaat, tentu aku masih pakai.

23 Des 2020

Ngomong Poligami

Ada yang ngomong

Poligami sukses? Sedikit 

Poligami gagal? Buanyak


Ini sudah pasti yang ngomong cewek :D


Perlu data buat bikin kesimpulan seperti itu :)


Sepengetahuanku orang-orang di sekitarku dan aku kenal, banyak poligami yang sukses. Cuma yang diekspos yang gagal mulu. Sebel yah? Hehe.

Kebanyakan kegagalan poligami itu karena dari awal sudah ga komitmen mau poligami. Trus cowoknya diem-diem poligami. Ketahuan, lalu geger lah.

Sedikit sekali cewek yang mau dipoligami di zaman ini. Kadang ceweknya mau, orang tuanya yang ga mau. Lalu bagaimana solusinya? Ya, cari yang mau lah. Ga ada solusi lain selain ini.


***


Omong-omong, aku juga insyaAlloh akan poligami. Doakan biar ga masuk yang gagal yah. Hehe.

Dulu saat awal nikah dengan istriku yang sekarang ini, aku sudah bilang sebelumnya, aku bakal poligami. Aku tanyakan dulu berkali-kali, untuk memastikan. Dia jawabnya mau. Ya, sudah. Aku nikahi deh.

Kok dia mau-mau aja? Ya, aku juga ga tahu, kok ya mau. Tapi ga perlu ditanyakan lebih dalam, cukup disyukuri saja.

19 Des 2020

Kenapa Orang Tua Menyuruh Anak Perempuannya Nikah dengan Orang Kaya?

Heran? Ya, aku juga heran.

Beberapa orang tua yang gagal menjadi kaya, sering kali menyuruh anak perempuannya kelak ketika menikah, maka harus menikah dengan cowok yang kaya raya.

Pertanyaannya adalah, lah apa cowok yang kaya itu mau dengan anak perempuan dari keluarga miskin?

Default-nya, TIDAK.

Aku kasih gambarannya gini yah.

Kasus 1

Cewek dari keluarga miskin ini biasanya mempunyai wajah yang biasa-biasa saja. Mau perawatan wajah pun juga ga mungkin. Yang ada hanya mengandalkan kecantikan alami. Berapa kemungkinan cewek dari keluarga miskin yang memiliki kecantikan alami? Jelas kecil kemungkinan. Namun, tetap saja ada.

Jika diadu dengan cewek lain di luaran sana, maka jelas akan kalah. Cowok yang kaya saja (tidak ganteng) ini juga diburu oleh cewek yang setengah kaya atau mungkin yang kaya juga. Dari sini tahu kan siapa yang punya kemungkinan menggaet lebih besar antara cewek miskin dan cewek kaya atau agak kaya.

Bisa sih cewek miskin ini menang dengan catatan dia harus punya kelebihan, semisal: pandai, lebih cantik dari kandidat lain, dan punya perilaku yang baik. Ini bisa jadi pertimbangan buat cowok kaya tadi.

Kasus 2

Katakanlah misal ada cowok kaya yang penampilannya biasa saja. Ceweknya ga tahu kalo sebenernya cowok itu kaya. Ketika si cowok dan cewek udah cocok, otomatis sebagai cowok yang baik-baik datang ke rumah si cewek.

Sialnya, orang tua si cewek kasih respon yang kurang bagus karena menganggap cowok tadi miskin juga. Kalo kamu jadi cowok itu, apa yang kamu lakukan? Nunjukin kekayaanmu biar diakui? Hmm, itu justru tindakan yang salah.

Kalo aku jadi cowok itu, tentu aku langsung putus aja dengan cewek itu. Biarkan orang tua si cewek tidak tahu kalo cowok itu kaya sebenarnya. Biar suatu saat tahu sendiri dan menyesal.

Orang tua cewek model kayak gini ini kurang bagus untuk dijadikan mertua. Ketika bisnis kamu jatuh sejatuh-jatuhnya, kamu akan diusir dan dihinakan. Karena parameter mereka adalah uang dan uang. Ga ada lagi selain itu.

Beberapa hal terjadi seperti kasus 2 ini. Dan itulah mengapa orang miskin susah banget dapetin menantu yang kaya. Karena mindset-nya adalah uang, uang, dan uang. Sedangkan orang kaya, cara berpikirnya tidak seperti itu.

Kasus 3

Mengapa orang tua si cewek menginginkan anaknya menikah dengan cowok kaya adalah karena kegagalan mereka selama ini untuk jadi kaya. Biasanya ini terjadi pada emak-emak. Dia ga bisa menuntut suaminya untuk jadi kaya. Si suami juga ga mampu untuk jadi kaya, bisa jadi karena dia kurang tekun bekerja, bisa juga karena memang atitutnya jelek sehingga bermasalah dalam pekerjaannya.

Karena si emak ini pengen jadi kaya dan dihormati oleh tetangga, akhirnya dia mati-matian pengen punya menantu kaya. Dan sialnya, si bapak juga punya pemikiran gitu. Padahal dia sendiri juga termasuk orang yang gagal kaya hingga umur menua.

Sedangkan, sebagai anak muda, pasti masih punya kesempatan untuk jadi kaya. Bisa jadi sekarang dia lagi berjuang merintis usaha dan tentu saja masih miskin. Sepuluh tahun lagi, siapa yang tahu dia bisa jadi kaya.

Nah, karena obsesi orang tua si cewek ini yang melihat dari awalnya saja, akhirnya dia gagal mendapatkan menantu yang punya potensi kaya.

Penutup

Biasanya yang terjadi di sekitarku adalah benar si cewek dinikahi oleh cowok yang kaya. Hanya saja, ga bertahan lama. Si cowok kaya tersebut meninggalkan cewek tersebut ketika sudah merasa bosan. Mending dicerai, kadang digantung ga jelas. Kasihan kan.

Beberapa cowok yang "kaya" (kadang nyamar kaya doang, ga beneran kaya) punya sifat menilai yang buruk, semua didasarkan oleh uang juga. Ketika dia melihat istrinya yang tidak lagi cantik, dia akan bosan. Dia akan meninggalkannya untuk mencari cewek cantik lainnya. Dia tidak akan merasa bersalah melakukan itu. Karena dia berpikir ini seperti jual beli.

Orang tua si cewek butuh menantu kaya, ya cowoknya kaya. Dia mikir ya dia kayak berhasil beli cewek tadi dengan kekayaannya. Ketika sudah bosan, ya tinggal aja. Menyedihkan? Sangat!

Dan sering kali, burung akan berkumpul dengan sejenisnya. Orang yang mengukur apapun dengan uang, akan ditemukan dengan orang yang punya pemikiran sama. Jadi jangan merasa terzholimi jika itu terjadi pada diri sendiri.

Udah gitu aja tulisan wiken kali ini. Sembari mengisi blog biar ga isinya Sponsored Post semua :D

14 Okt 2020

Menjadi Tua dan Awet Muda

Tak terasa aku sudah menua. Hehe, ya iyalah. Masa semakin memuda. Jika kilas balik beberapa tahun ke belakang, rasanya banyak hal-hal berat yang aku lalui. Ya berat secara mental tentunya.

Mungkin aku tidak bercerita di blog ini. Mungkin kamu juga hanya melihat blog ini sudah berisi banyak postingan iklan yang membuat sedikit muak. Atau mungkin sangat memuakkan.

Pasalnya emang banyak sekali blogger-blogger asyik yang dulu saat awal-awal aku ngeblog, sekarang sudah jadi silent reader atau kembali ke tempat pertapaan. Rata-rata mereka sudah menghasilkan uang dari blog dan memilih diam dan menghilang dari peredaran. Atau mungkin memang kehidupan offline-nya sudah sangat menyibukkan.

Seperti diriku ini, bahkan untuk menulis tulisan yang seperti ini saja, sampai harus diminta oleh istri. Hehe. Katanya dia kangen aku nulis.

Oke, kali ini aku akan membahas judul dari tulisan ini, Menjadi Tua dan Awet Muda.

Percaya atau tidak—kamu tidak boleh muntah dulu yah—banyak yang mengira diriku masih umur 20-an awal. Dan banyak orang yang menganggap aku belum menikah.

Mungkin sih karena mereka melihatku berambut gondrong, mukanya biasa saja ga ada beban, dan masih berjiwa muda. Halah.

Sebenarnya bukan tidak ada beban. Tapi, bebannya memang diredam. Jadi apapun masalahnya, dibikin lebih mudah dan tidak terlalu dipikirkan terlalu dalam hingga stress. Tapi apa aku ga pernah stress? Hmm, ya pernah lah, tapi ga lama. Paling beberapa menit atau beberapa jam saja. Setelah itu balik lagi.

Kebanyakan orang yang mukanya boros adalah orang yang menanggung beban yang berat dan dia tidak punya tempat untuk curhat.

***

Ada cerita unik waktu aku kuliah dulu, ada teman Lab yang punya kakak perempuan sekitar 2 tahun lebih tua dari dia. Waktu itu aku masih berumur 21 tahun kalo tidak salah. Artinya kakaknya temanku ini sekitar 23 tahun.

Nah, kebetulan kakaknya ini sedang dilamar oleh cowok yang umurnya 2 tahun di bawah temanku. Jadi cowoknya sekitar umur 19 atau 20-an lah. Tapi, kata temanku mukanya cowok ini bisa lebih tua dari muka kakaknya.

Aku pun bertanya, lah kok bisa. Temanku cerita kalo cowok kakaknya ini ga kuliah dan kerja sejak lulus SMA. Sepertinya pekerjaannya sangat berat sehingga ngefek banget ke mukanya.

***

Beberapa saat yang lalu, waktu istri lagi kontrol kehamilan di dokter kandungan, tentu saja di sana ada aku juga yang ikut mengantar. Dokter kandungannya tanya ke istri, "mbak nya umur berapa yah?". Istri menjawab, "27 dok". Ini yang kontrol yang pertama.

Kontrol kandungan yang kedua, ditanya lagi. Kontrol ketiga ditanya lagi. Sepertinya dokter kandungannya mengetes istri, apakah konsisten dengan jawabannya. Lah ya pasti konsisten, masa selisih 1 bulan saja umurnya sudah beda. Hehe.

Aku dan istri memang mukanya masih kayak orang yang barusan nikah. Bahkan saat pergi ke toko peralatan rumah, sering kali penjualnya mengira kami bedua barusan nikah dan beli barang-barang buat ngisi rumah. Wkwkwk.

Kadang aku iseng juga jawabin penjualnya dengan fakta yang ada, kalo kami sudah punya anak 5 (yang hidup 4, meninggal 1 waktu masih bayi). Ekspresi penjualnya pun bisa kamu tebak. Aku yakin kamu yang membaca tulisan ini juga bakal terbelalak dengan fakta ini kan yah? Hehe.

***

Sebenarnya kunci awet muda adalah tidak terlalu terbebani oleh kehidupan. Ya aku sih memang punya anak banyak dan konsekuensinya adalah kerja lebih smart supaya bisa ngasilin duit yang banyak. Kok ya alhamdulillah kerjaanku bukan kerjaan fisik. Kerjaan cuma di depan laptop, nulis, riset keyword, ngoding, dan semisalnya. 

Bahkan saking ga keliatan kerjanya bagi orang jadul (tetangga yang tua-tua), aku dianggap ga kerja dan masih "numpang" ke orang tua. Jahat banget kan dugaannya. Makanya aku kasih sekalian hal yang bikin mereka bingung, yaitu dengan punya anak banyak. Biar makin pusing mereka menduga-duga. Hehe.

Bahkan saat pandemi seperti ini mereka juga masih belum terbuka wawasannya. Padahal kan yang paling bertahan di saat pandemi seperti ini ya kerjaan yang dianggap "tidak kerja" ini, tapi menghasilkan uang. Tapi apa mau dikata, ya biarin saja lah. Biarin mereka beranggapan sendiri sesuai apa yang mereka inginkan. Entar juga lama-lama tahu sendiri.

Btw, bagi kamu yang penasaran kayak apa aku sekarang. Masih sama kok seperti yang dulu (tahun 2011-an). Cuma sekarang sudah muncul ubannya dikit-dikit. Hehe.

31 Mar 2020

Antara Takdir, Virus Corona, dan Nikah

Orang-orang yang keukeuh ga mau ikuti himbauan ulama dan pemerintah terkait virus Corona mereka sering bilang "kalau waktunya mati ya mati".

Mereka sangat "yakin" dengan takdir kematian.


Namun, ketika anak perempuan mereka dilamar dan diajak nikah oleh pemuda missqueen, kebanyakan mereka berkelit, "nanti anakku mau kamu kasih makan apa?".

Padahal ini sama-sama meyakini takdir Alloh. Satunya takdir kematian, satunya lagi takdir rejeki. Dan kematian itu lebih besar nilainya dibandingkan hidup miskin.

5 Jan 2020

Sombong dan Kekalahan

Di dunia ini, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari sebuah kesombongan. Di Islam, ini biasanya disebut dengan 'ujub (merasa kagum dengan diri sendiri). Banyak kaum yang tumbang karena kesombongan mereka.


Iblis. Dia adalah makhluk pertama kali yang mempraktikkan kesombongan. Alhasil, dia diusir dari Surga. Dan banyak cerita peperangan yang dimenangkan karena musuh mereka sombong duluan. Karena kesombongan ini, jadi terlena dalam memperhitungkan kekuatan lawan.

Atau paling gampangnya dan jelasnya, kamu lihat temanmu atau orang-orang di sekitarmu yang mereka sombong. Biasanya ga lama, mereka tumbang dari apa yang disombongkan. Misal dia pinter, lalu menyombongkan kepinterannya. Eh pas udah pindah sekolah (misal dari SMP ke SMA), dia ketemu dengan teman yang lebih pinter dari dia. Ujungnya, dia akan stres karena tidak bisa menyombongkan kepinterannya.

Tidak ada manusia di dunia ini yang suka dengan orang yang sombong. Bahkan seandainya orang sombong tadi ketemu orang sombong lainnya, dia juga tidak suka. Padahal sama-sama tukang sombong loh. Unik memang.

Omong-omong, aku nulis ini karena gatel terhadap negara yang sombong dan sok kuasa yang mau mencaplok Laut Natuna dari Indonesia. Kita lihat saja, kapan mereka tumbang karena kesombongannya.